Atasi Produk Cina Dibutuhkan Solusi

Laporan : Enderson Tambunan

Ilustrasi

Ilustrasi

JAKARTA, (Tubas) – Membanjirnya produk-produk Cina di Indonesia belakangan ini mengancam industri nasional. Produk-produk impor tersebut diserbu oleh konsumen terutama karena harganya murah dan kemasan menarik. Akibatnya, pemasaran produk sejenis yang dihasilkan produsen dalam negeri, menurun. Pada gilirannya kondisi itu dapat mengurangi daya saing industri nasional.

Beberapa sumber yang dihubungi oleh tim Tubas di Jakarta pekan ini, mengatakan, produk Cina tersebut, antara lain elektronik, tekstil, alas kaki dan mainan anak-anak membanjiri pasar Indonesia, terutama di kota-kota besar. Sebagai contoh disebutkan, sentra penjualan mainan anak-anak di ibu kota negara, Jakarta, diramaikan produk Cina dengan kemasan dan warna mencolok, serta harga murah. Faktor-faktor ini yang mendorong konsumen membelinya.

Menurut pengamatan Tubas di Jakarta, pusat penjualan produk Cina, seperti mainan anak-anak dan alas kaki, tersebar di beberapa tempat. Termasuk di beberapa pasar tradisional. Selain menjual secara eceran, sejumlah toko melayani pembeli eceran.

Masuknya produk negara lain ke Indonesia tentu tidak dapat dihambat, mengingat Indonesia terikat dengan perdagangan bebas dalam lingkup ASEAN dan negara mitra, seperti dengan Cina dan Jepang. Kesepakatan itu ditandatangani beberapa tahun lalu. Sebelumnya, cukup banyak produsen yang meminta agar pemberlakuan perdagangan bebas itu ditunda dulu sampai kita siap menerimanya. Tapi, hal itu tidak mungkin dapat dilakukan mengingat itu sudah menjadi kesepakatan antarnegara.

Menurut sumber tersebut, kini yang penting ditempuh oleh pemerintah adalah melindungi industri nasional agar tetap eksis dan berkembang, tentu dengan cara tidak menyimpang dari kesepakatan ASEAN dan negara mitra.

Selama ini, sejak berlakunya perdagangan bebas atau ASEAN-China Free Trade Agreement (ACFTA) , banyak produsen yang mengeluhkan perihal membanjirnya produk dari Tiongkok. Mereka terpaksa mengurangi produksi yang berakibat pemutusan hubungan kerja sebagian karyawan. Nah, diharapkan, masalah ini jangan sampai berkepanjangan, dan karena itu, diperlukan solusi. ***

Berita Terkait

Komentar

Komentar