Bagaimana Melahirkan Tenaga Kerja yang Kompeten di Indonesia?

Oleh: Sabar Hutasoit

 

LEMBAGA pendidikan itu saat ini tugas utamanya tidak lagi hanya menelorkan orang-orang yang pintar, cerdas, menguasai ilmu, kemudian dibekali dengan secarik sertifikat sebagai tanda bahwa yang bersangkutan lulus belajar.

Setelah itu kita tidak tahu lagi nasibnya, apakah dia sudah mendapat tempat bekerja yang layak sesuai ilmu yang dikuasai atau mungkin masih sibuk sana-sini menyodorkan lamaran demi lamaran, tidak ada yang tahu, apalagi dengan almamaternya. Sudah putus hubungan komunikasi.

Ironisnya, kendati ribuan bahkan jutaan tenaga kerja yang mengantongi sertifikat tanda lulus belajar, mereka tetap sulit mendapatkan pekerjaan, padalah faktanya di lapangan tidak sedikit unit usaha, baik perdagangan maupun sektor industri yang kesulitan mendapatkan tenaga kerja.

Aneh kan, di satu sisi jutaan tenaga kerja menganggur, tapi di sisi lain, cukup banyak unit usaha yang bergerak di bidang perdagangan atau industri yang sulit mendapatkan tenaga kerja. Lapangan pekerjaan cukup tersedia, tapi tenaga kerja yang menganggur juga cukup banyak jumlahnya.

Lalu dimana masalahnya. Tentu, bisa jadi tidak konnek-nya keterampilan yang dimiliki calon-calon pekerja dengan lapangan pekerjaan yang tersedia. Keterampilan mereka tak sesuai dengan yang diinginkan perusahaan.

Untuk memecahkan soal ini, kita akan coba bedah dan cari solusinya. Pendidikan yang kita kenal selama ini adalah pendidikan formal yang sifatnya mempelajari ilmu secara umum, apakah itu masalah hukum, sejarah, budaya, ilmu bumi, matematika dan sebagainya.

Dalam ruang kelas saat belajar-pun para siswa dan mahasiswa, model belajarnya pasti lebih banyak ngomong ketimbang praktek. Jadi sifatnya menjadi belajar ngomong-ngomong atau kalau kita mengutip ucapan Tukul, dia menyebut ngemeng-ngemeng doang.

Hasilnya, para calon tenaga kerja tersebut, selepas dari bangku kuliah, bisanya hanya ngomong-ngomong dan tidak menguasai praktek karena memang selama study, mereka lebih banyak diajak ngomong-ngomong, eh ngemeng-ngemeng.

Alhasil, karena calon tenaga kerja itu lebih fasih ngomong-ngomong, mereka memilih jadi anggota parlemen sebab disanalah temapt yang pas untuk ngemeng-ngemeng.

Tapi bagaimana dengan dunia pekerjaan sektor industri atau perdagangan yang kesulitan memperoleh tenaga kerja. Jangan sampai sektor ini mengimpor tenaga kerja terampil dari luar negeri dan akan menimbulkan masalah tersendiri di dalam negeri.

Dunia pendidikan tampaknya wajib mengusahakan agar para lulusannya tidak hanya cerdas, tapi juga bisa langsung bekerja. Dunia pendidikan kayaknya harus didorong menerapkan metode link and match serta memastikan peserta didik memiliki kesempatan bukan hanya mendapatkan pendidikan berkualitas, tapi setelah mereka lulus dapat kesempatan kerja.

Kurikulum

Link and match adalah penggalian kompetensi yang dibutuhkan pasar kerja ke depan. Kurikulum dan sistem pendidikan terutama pendidikan tinggi di Indonesia sudah saatnya sesuai dengan kebutuhan kerja  agar link and match anatar yang diajarkan dis ekolah dengan yang dibutuhkan lapangan pekerjaan.

Harus diakui, hingga kini hampir seluruhnya lulusan pendidikan tinggi belum menjadi jaminan bisa memasuki pasar kerja baik dunia perdagangan maupun sektor industri.

Konsep link and match dapat digunakan sebagai media untuk meningkatkan relevansi pendidikan tinggi dengan kebutuhan tenaga kerja.

Untuk memaksimalkan manfaat positif dari teori link & match, Perguruan Tinggi perlu melakukan kerjasama dengan dunia usaha profesional agar kurikulum yang diajarkan di bangku sekolah relevan dengan keterampilan yang dibutuhkan dunia lapangan pekerjaan.

Langkah konkret yang harus dilakukan lembaga pendidikan dan pelatihan adalah menyesuaikan program pendidikan dan pelatihan dengan kebutuhan pasar.

Satu hal lagi yang dipandang perlu disempurnakan oleh dunia pendidikan adalah perlunya didirikan politeknik dalam jumlah yang banyak di negeri ini sehingga dalam politeknik itulah digodog tenaga-tenaga terampil yang memiliki skill tersendiri atau dikenal dengan istilah tematik, langsung disiapkan tenaga kerja yang betul-betul dibutuhkan oleh dunia usaha.

Melalui pendidikan di politeknik  tersebut, kita tidak akan temukan lagi berita bahwa setiap tahun terjadi peningkatan pengangguran lulusan pendidikan tinggi hanya karena belum didukung dengan kemampuan atau kompetensi untuk masuk ke pasar kerja.

Para abdi negera yang kini dipercayakan mengelola pendidikan vokasi dan politeknik,  tentunya dengan biaya yang sangat besar nilanya,  juga harus berkarya, inovatif dan berdedikasi tinggi. (penulis adalah seorang wartawan)

 

Berita Terkait

Komentar

Komentar