Balada Berenang Atau Tenggelam

Oleh: Fauzi Aziz

BERAKIT-RAKIT ke hulu dan berenang-renang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenag-senang kemudian. Pelajaran baik dari peribahasa tersebut sangat edukatif dan visioner dan memiliki perspektif kekinian serta tak lapuk di telan zaman karena sangat kontekstual.

Kita memang harus bisa berenang. Kalau tidak, pasti tenggelam. Anak-anak sekolah, para mahasiswa harus disemangati dengan “Balada Berenang atau Tenggelam”. Tuntutlah ilmu sampai ke negeri China sekalipun.

Menuntut ilmu tak mengenal usia karena kita akan membangun dan mengembangkan peradaban. Tentu yang kita cari adalah ilmu yang bermanfaat bagi kehidupan kita. “Balada Berenang atau Tenggelam” adalah tantangan zaman.

Ia hanya kiasan. Tapi menjadi pemicu dan pemacu kemajuan dan keberadaban. Indonesia sebagai sebuah bangsa dan negara, tidak berhenti setelah mengenyam kemerdekaan. Terus tancap gas membangun untuk menjadikan dirinya sebagai bangsa dan negara yang maju, memiliki kepribadian yang bermartabat dan beradab.

Jadi kita berenang, ever ending-nya adalah menjadi negara maju yang bermartabat dan beradab. Kalau tidak seperti itu, kita akan tenggelam dan akhirnya menjadi negara gagal.

Pilihan yang baik, seyogyanya dua saja cukup. Pada waktu kita dijajah, pilihannya adalah merdeka atau mati. Sesudah merdeka, pilihannya adalah menjadi bangsa dan negara maju atau negara gagal. Melakukan transformasi atau mati, berenang atau tenggelam dan sebagainya.

Mengapa harus memilih di antara dua. Mengapa tidak 3, 4 atau 5. Dapat kita pastikan nalar dan intuisi kita mengatakan karena sumber daya yang kita miliki terbatas, baik jumlah maupun kualitas nya.

Bangsa dan negara kita, baik secara individu, kolektif dan institusi, sedang ikut berenang bersama bangsa lain membangun zona damai dan makmur. Kita harus ikut supaya bisa ikut menarik manfaat. Kita wajib bergabung di Masyarakat Ekonomi Asean(MEA) dan Regional Economic Comprehensif Partnership (RECP) atau komunitas ekonomi internasional yang lain. Pasalnya, kita tidak ingin tenggelam sendiri dan mati konyol karena kita perlu menarik manfaat dari kerjasama ekonomi di berbagi fora.

Kita harus menjadi pemangku kepentingan yang ikut bertanggungjawab supaya bisa menarik manfaat secara politik, sosial ekonomi dan budaya, ketika zona damai dan makmur terbentuk. Pendek kata, kita bisa menarik manfaat di MEA, RECP dan lain-lain.

Supaya bisa meraihnya, jawabnya adalah hanya ada satu, yakni kompeten pada skala makro maupun mikro. Di level makro ekonomi sudah baik lanskap-nya dan sudah bisa menjalankan prinsip kebijakan makro prudential.

Koordinasi antar sektor moneter dan fiskal sudah lumayan baik karena kedua instrumen ini yang sekarang selalu dimainkan untuk menjaga stabilitas ekonomi dan menstimulasi pertumbuhan. Di sektor mikro masih banyak hal yang harus dirapikan agar sektor-sektor ekonomi riilnya tidak tenggelam karena kalah bersaing.

Persoalannya bukan karena tidak bisa berenang, tapi lebih disebabkan karena governance-nya masih buruk di level kebijakan publik yang akhirnya berpengaruh pada kinerja korporasi yang harus menambah extra cost dalam berproduksi dan pemasaran.

Tidak heran kemudian muncul istilah de-industrialisasi karena industri harus beroperasi dengan biaya tinggi. Kedengarannya klasik, tapi faktanya ada sehingga secara mikro ekonomi, posisi Indonesia memiliki potensi tenggelam, karena berenang dengan bantuan oksigen yang terbatas dan harganya mahal.

Inilah kemudian memunculkan “Balada Transformati atau Mati” dan Balada lainya, yakni “Investasi atau Stagnasi”. Enak kalau pilihan hanya ada dua karena populasi resikonya atau konsekwensi yang harus dipikul sudah bisa diperkirakan dengan sendirinya.

Masalah besar negara ini justru di ranah politik dan hukum. Jujur, tidak menimbulkan confidance karena tidak solid. Proses politiknya berjalan buruk. Terus terang merisaukan. Masalahnya campur aduk sehingga stabilitas politik yang terbentuk sangat articial.

Konflik politik di tingkat elit sepertinya tidak ada, tapi secara instuitif awam sangat bisa dirasakan adanya konflik kepentingan itu. Ini tidak sehat dan membahayakan ketika kita sedang berenang bersama untuk menjadi champion.

Berenang dan akhirnya menjadi pemenang adalah kemenangan seluruh komponen bangsa. Kalau ada yang mau tenggelam harus diselamatkan karena kita tidak sedang “bertempur” sendiri di arena bumi pertiwi. (penulis adalah pemerhati masalah sosial ekonomi dan industri).

 

Berita Terkait

Komentar

Komentar