Bandara Ferdinad Lumbantobing, Bandara Masa Depan

SEMANGAT

TAPTENG, (tubasmedia.com) –  Bandara Ferdinand Lumbantobing (FL Tobing) Pinangsori, Tapteng diperediksi akan menjadi bandara masa depan wilayah Pantai Barat Sumatera Utara (Sumut), sebagai penopang bandara Kuala Namu International Airport (KNIA) Deli Serdang.

“Bandara ini akan tetap eksis, karena didukung berbagai faktor, salah satunya kondisi geografis Bandara FL Tobing yang sangat representatif,” ungkap Kepala Bandara Ambar Suryoko, baru-baru ini.

Ambar Suryoko membantah bahwa arus penumpang Bandara FL Tobing diprediksi menurun dan tidak berkembang, terkait upaya pemerintah pusat memaksimalkan Bandara Silangit mendukung program Danau Toba sebagai ‘Monaco of Asia’.

“Siapa bilang seperti itu. Tidak ada pengaruh. Buktinya, seumur-umur ada Bandara FL Tobing, atau selama saya di sini (memimpin Bandara FL Tobing) sejak 2014 lalu, arus penumpang Maret 2016 tercatat sebagai yang tertinggi sebanyak 15.146 orang dari rata-rata 13 ribuan orang per bulan. Semisal, Januari sebanyak 13.477 dan Februari 13.302,” tegas Ambar.

Sejak dibuka rute penerbangan Silangit-Cengkareng (Jakarta), tercatat cuma 117 penumpang asal Tapanuli Utara (Taput) transit via Bandara FL Tobing. Jika dihitung, rata-rata per hari dalam seminggu cuma berkisar 19 penumpang. “Maka itu, tidak ada pengaruhnya, apalagi bandara ini membawahi 10 kabupaten/kota,” ujarnya.

Ambar memprediksi, arus penumpang 2016 lewat Bandara FL Tobing bakal mengalami lonjakan signifikan dibanding tahun sebelumnya. Angkanya berkisar 200.000 dari target bandara 150.000 pada tahun 2016.

Sebuah lompatan yang cukup tinggi. Pada tahun 2014, cuma 98.000 orang lebih dan tahun 2015 tercatat sebanyak 13.000 orang lebih. Peningkatan itu dipengaruhi faktor pergerakan arus penumpang, pertumbuhan ekonomi dan pertumbuhan daerah sekitar Bandara FL Tobing.

Ditargetkan, tahun depan akan meningkat lagi. Faktor pendukungnya, rencana masuknya sejumlah perusahaan besar berinvestasi di daerah penopang Bandara FL Tobing, seperti Madina dan Tapsel, serta perencanaan Kodam 1/BB yang berniat membuka lokasi pelatihan perang di wilayah Madina,” tambah Ambar.

Lalu, alat navigasi (kalibrasi) penerbangan di Bandara FL Tobing yang telah dibenahi dan pembenahan secara bertahap, terminal dan sarana prasarana pendukung bandara. Namun tidak dipungkiri terjadi sedikit perubahan penerbangan, khususnya Garuda, lewat bandara FL Tobing sejak dibukanya rute penerbangan Silangit–Cengkareng beberapa waktu lalu.

Pesawat Garuda jenis Bombardier CRJ 1000 biasanya digunakan pihak maskapai penerbangan melayani rute Pinangsori-KNIA setiap hari, diganti dengan jenis ATR-72, dengan jadwal penerbangan empat kali seminggu, yakni, Senin, Selasa, Kamis dan Sabtu.

Jadwalnya, dari KNIA pukul 08.50 WIB, tiba di Pinangsori pada pukul 09.50 WIB dan kembali berangkat dari Pinangsori menuju KNIA pada pukul 10.30 WIB.  “Frekuensi penerbangan Pinangsori-Cengkareng (Jakarta), tetap sekali sehari atau tujuh kali seminggu. Tiga hari via Silangit, yakni Selasa, Jumat dan Minggu,” ungkap Ambar.

Sedangkan penerbangan lainnya, Wing’s Air rute Pinangsori-KNIA tetap tiga kali sehari dengan jenis pesawat ATR-72 dan Susi Air tidak melayani kedua rute itu, tapi rute Pinangsori-Gunungsitoli dan Pinangsori-Pulau Tello dengan jadwal keberangkatan 3 kali seminggu, yakni Senin, Rabu dan Jumat,” terang Ambar.

Disinggung eksistensi Bandara FL Tobing, jika pemerintah pusat yang berniat menyulap atau menjadikan Danau Toba sebagai ‘Monaco Asia’  ini terwujud, hal itu tidak akan memberikan pengaruh kepada peningkatan jumlah arus penumpang lewat Bandara FL Tobing.“Arus penumpang lewat Bandara FL Tobing akan tetap tinggi, bahkan tertinggi dari seluruh bandara kecil yang ada di Sumut,” pungkasnya. (tim)

Berita Terkait

  • Tidak Ada