Banyak Ingin Jadi Presiden, Mau Apa Mereka?

Oleh: Sabar Hutasoit

ilustrasi

ilustrasi

MANTAN Presiden RI, Megawati Soekarnoputri pernah berkata, ayahnya, Bung Karno (Presiden pertama Indonesia) pernah berpesan kalau untuk jadi presiden gampang sekali. Ingat ya mudah sekali! Tapi yang sulit adalah menjadi pemimpin.

Memang benar. Mau jadi apapun di muka bumi ini khususnya di negeri kita tercinta Indonesia sangat mudah. Mau jadi Gubernur, ok. Jadi Bupati? ya. Lurah? silakan. Jadi anggota DPR? apalagi amat mudah.

Mau jadi presiden? Wou… tampaknya mudah sekali. Atau jangan-jangan jauh lebih mudah ketimbang apa yang dipesankan Bung Karno. Lihat saja sekarang. Saking banyaknya yang ingin jadi presiden, kita jadi tidak ingat lagi siapa nama-nama calon tersebut.

Tapi kembali ke pesan Bung Karno, layakkah mereka-mereka yang mencalonkan diri itu tampil sebagai pemimpin? Jadi pemimpin bangsa loh! Bukan pemimpin kelompok arisan atau pemimpin satu kelompok tertentu Tapi memimpin sebuah negeri yang masyarakatnya sangat heterogen, beragam, baik budaya, selera, agama, paham politik dan banyak lagi perbedaan. Nah, masyarat yang seperti inilah yanag akan dipimpin seorang presiden Indonesia.

Masyarakat yang sangat heterogen tersebut harus dipimpin, diayomi dan dipersatukan oleh seorang pemimpin yang kita sebut sebagai presiden.

Pemimpin itu harus selalau berada ditengah-tengah. Tidak boleh memihak ke kiri atau ke kanan. Baju yang dikenakan juga harus bernuansa nasional, tidak boleh bercirikan salah satu kelompok. Di Indonesia, presiden itu harus berwarna merah putih. Tidak boleh mengenakan warna lain. Pasalnya, presiden itu milik semua warganegara, baik warga minoritas maupun warga mayoritas.

Pemimpin juga harus berjiwa besar. Tidak boleh bersungut-sungut dan mengeluh, apalagi keluhan itu menyangkut pribadi atau keluarga dan juga kelompok. Pemimpin negara hanya dibenarkan mengeluhkan masalah yang menyangkut kepentingan negara. Itupun tidak boleh cengeng, akan tetapi harus tegar, percaya diri dan yakin untuk mengambil langkah. Tidak perlu pencitraan.

Kalau bisa kita ambil contoh kepemimpin Tuhan Yesus. Dia rela berkorban, relah disiksa dan disalibkan hanya untuk kepentingan orang banyak. Dia tidak memperdulikan kepentingan dirinya, tapi sebaliknya mengutamakan dan mendahulukan kepentingan masyarakat banyak.

Pengorbanan yang dituntut malah diibaratkan seperi sebuah lilin yang rela hancur hanya untuk memberi penerangan kepada manusia dan seperti garam yang juga lebur untuk menyedapkan makanan. Lilin dan garam hancur dan tak berwujud lagi untuk kepentingan orang lain.

Apakah para calon presiden kita siap seperti lilin dan garam ? Jangan-jangan hanya ingin menikmati fasilitas sebagai seorang presiden yang punya pesawat pribadi, pengawalan yang super ekstra, istana yang mewah dan banyak lagi fasilitas yang tidak bisa disebut satu per satu, namun tidak peduli lagi kepada masyarakat.

Rasanya para calon presiden yang sudah siap-siap berlaga pada ajang pemilihan presiden tahun 2014, sebelum maju ke panggung laga, sebaiknya berkaca dulu. Tanya istrimu, tanya anakmu, tanya mertuamu dan jangan lupa tanya dirimu, apakah sudah siap menjadi lilin dan garam? Kalau belum siap, lebih baik urungkan niatmu untuk jadi presiden. Kasihan nanti negeri ini jatuh ke tangan orang-orang yang hanya ingin mengeruk keuntungan pribadi dan keuntungan kelompok. ***

Berita Terkait

Komentar

Komentar