BBLM Turut Serta Mewujudkan Industri Nasional yang Kompetitif

BANDUNG, (tubasmedia.com) – Balai Besar Logam Mesin (BBLM) siap membantu industri di Indonesia secara terus menerus dan berkesinambungan untuk mewujudkan industri nasional yang kompetitif, kompeten dan produktif.

“Tentunya dengan dukungan peralatan dan sumber daya manusia yang memadai,’’tegas Kepala BBLM Bandung, Enuh Rosdeni kepada wartawan yang berkunjung ke kantornya di Bandung, Jawa Barat kemarin.

Namun lanjut Enuh, BBLM sejatinya telah banyak membantu industri logam dan mesin di Indonesia melalui hasil litbang terapan, super visi dan pelatihan.

‘’Juga tidak ketinggalan pengujian dan kalibrasi serta sertifikasi produk dan personal,’’ tambahnya.

Untuk peningkatan kapasitasnya, lanjut Enuh, BBLM telah melakukan kerjasama dengan negara luar seperti Jerman, Belgia, Korea, Jepang dan Taiwan.

Salah satu upaya yang dilakukan BBLM kata Enuh, adalah gerakan meningkatkan penggunaan kandungan dalam negeri sekaligus menekan impor yang bertujuan menghemat devisa.

BBLM bertekad agar tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) pada industri logam dan mesin berada pada angka yang maksimal seperti pengembangan prototipe produk meter air, komersialisasi produksi di dalam negeri, sampai proses penetapan menjadi Wajib SNI dengan pengujian dan sertifikasi produk industri yang ada di BBLM.

Disebutkan, kebutuhan listrik untuk berbagai keperluan, baik rumahtangga, industri maupun pertanian, terus meningkat, tidak saja di perkotaan, akan tetapi juga di pedesaan yang sejalan dengan meningkatnya  pembangunan.

Energi angin sangat potensial untuk dijadikan pembangkit listrik dengan skala kecil di daerah pedesaan terpencil yang belum dijangkau listrik PLN.

Karenanya BBLM menempuh solusi teknik tepat guna melalui perancangan, pengecoran dan pengelasan produk kincir angin skala kecil putaran rendah untuk pembangkit listrik mikro.

Impor

Pembuatan dredge bucket (komponen utama untuk pengangkutan dan pengerukan tambang di laut lepas), butuh bahan yang kuat dan tahan banting.

Pasalnya pengoperasiannya dalam lingkungan yang korosif dan berpotensi terjadi abrasif dari pasir timah dan beban impak karena benturan dengan batu, maka kata Enuh, dibutuhkan bahan yang kuat terhadap gesekan, tahan korosi dan juga tahan impak serta benturan.

Untuk mendapatkan bahan yang yang kuat guna mendukung pembuatan dredge bucket dimaksud, BBLM telah bekerjasama dengan PT Barata untuk memenuhi kebutuhan PT Timah tersebut yang saat itu bahan-bahannya masih diimpor dari Cina, Thailan dan Malaysia. Kebutuhan dredge bucket untuk setiap kapal keruk mencapai 140 buah per tahun atau setara dengan 4.600 ton per tahun.

Tentang pembangkit listrik, Enuh mengatakan bahwa BBLM telah mengembangkan turbin produk nasional yang menggunakan bahan baku dalam negeri. Turbin pembangkit listrik di Suralaya yang selama ini merupakan turbin impor dari China katanya hanya bisa bertahan selama enam bulan.

Untuk itu, guna menghemat biaya operasional, di PLTU Suralaya, kini turbin yang digunakan adalah turbin buatan Indonesia dimana life time-nya lebih lama dibanding buatan China. (sabar) 

 

 

 

Berita Terkait

Komentar

Komentar