BBT Bandung Fokus Kembangkan Tekstil Fungsional

BANDUNG, (tubasmedia.com) – Balai Besar Tekstil (BBT) Bandung kini fokus untuk mengembangkan tekstil fungsional (functional textile). Pasalnya, pertumbuhan tekstil fungsional ini sangat menjanjikan dimana setiap tahun permintaan pasar mengalami pertumbuhan sekitar 9 persen.

Hal itu diutarakan Kepala BBT Bandung, Widodo kepada wartawan yang menemui di kantornya, kemarin.

Selain tekstil fungsional, BBT Bandung juga melakukan seminasi untuk beberapa hasil litbang tekstil antara lain tekstil anti nyamuk berbahan aktif mikrokapsul minyak kulit jeruk nipis, pembuatan tekstil anti bakteri dengan zat aktif alami dari kitosan dan untuk atap yang bersifat anti ultraviolet.

Diakui oleh Widodo bahwa industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional dirasa sangat perlu melakukan inovasi dalam pengembangan produknya sehingga dapat menangkap peluang dari tren pasar global saat ini. Pasalnya, sektor ini tidak hanya menghasilkan produk untuk kebutuhan sandang atau pakaian, tetapi telah berkembang menjadi industri tekstil non-sandang.

Demikian juga kata Widodo, tekstil tidak lagi hanya sekedar busana membungkus tubuh manusia. Akan tetapi sudah berperan meindungi manusia dari bakteri sehingga sudah sangat dibutuhkan tekstil berbahan baku anti bakteri.

‘’Terutama untuk pakaian dalam wanita sudah wajib diperbanyak produk antiseptic,’’ tegasnya.

Untuk menghasilkan produk-produk tekstil fungsional yang bermutu tinggi, Widodo menyebut perlu didukung dengan hasil-hasil penelitian dan pengembangan (litbang) seperti yang dilakukan BBT Bandung.

Keinginan Konsumen

‘’Tahun depan kita sudah akan ajukan peralatan litbang untuk pembuatan benang filamen demi pengembangan tekstil fungsional,’’ kata Widodo menambahkan bahwa hal itu merupakan jawaban atas keinginan konsumen akan pentingnya tekstil yang lebih dari sekedar sandang konvensional, akan tetapi sudah masuk ke dalam ranah tekstil fungsional yang memiliki karakter dan sifat spesifik sesuai dengan fungsinya.

BBT Bandung merupakan salah satu unit kerja Kemenperin di bawah binaan Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI). Balai tersebut memiliki dua tugas pokok, yaitu pelaksanaan kegiatan litbang di bidang tekstil serta memberikan layanan jasa teknis kepada industri TPT.

Berdasarkan peta jalan Making Indonesia 4.0, industri TPT adalah satu dari lima sektor manufaktur yang mendapat prioritas pengembangan dalam kesiapan menuju era industri 4.0. Aspirasi besar yang akan diwujudkan, yaitu menjadikan produsen tekstil dan pakaian jadi nasional masuk jajaran lima besar dunia pada tahun 2030.

Untuk mewujudkannya, peranan litbang TPT perlu dimaksimalkan sehingga baik penemuan diversifikasi produk maupun konsultasi di bidang pertekstilan dengan dunia usaha, dapat berjalan sesuai harapan.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto pernah mengungkapkan, industri TPT dalam negeri mampu kompetitif di kancah global karena telah memiliki daya saing tinggi. Hal ini didorong lantaran struktur industrinya sudah terintegrasi dari hulu sampai hilir dan produknya juga dikenal memiliki kualitas yang baik di pasar internasional.

“Dengan pertumbuhan ekonomi dan pergeseran permintaan dari pakaian sehari-hari (basic clothing) menjadi pakaian fungsional seperti baju olahraga, industri TPT nasional pun perlu membangun kemampuan produksi dan meningkatkan skala ekonomi agar dapat memenuhi permintaan di pasar domestik maupun ekspor,” tuturnya. (sabar)

Berita Terkait

Komentar

Komentar