Bebaskan Ekonomi dari Lilitan “King Kobra”

f2

Oleh Fauzi Aziz

APA itu “king kobra” dalam konteks tulisan ini? Tentu maksudnya hanya kiasan untuk sekadar menggambarkan kalau Indonesia ingin berkemajuan harus bisa membebaskan diri dari belenggu yang menghalangi kemajuan itu sendiri. Lilitan “king kobra” tersebut apa benar ada? Kalau tidak ada mengapa harus melakukan deregulasi secara masif sampai 12 kali.

Dalam konteks ini berarti Indonesia terlalu banyak aturan yang barangkali dibuat dengan arah dan tujuan yang tidak jelas, sehingga menimbulkan bottle neck. Lilitan berikutnya adalah KKN yang bisanya sangat beracun, yang dapat meluluhlantakkan bangunan ekonomi yang telah dibangun bertahun-tahun, sehingga meskipun ekonomi dapat tumbuh, tetapi kebocoran terjadi, menggerogoti APBN/APBD, sampai kebocoran ditutup dengan utang yang nilainya sudah mencapai sekitar 36% dari PDB. Oleh karena itu, KKN harus ditumpas dan kita harus terus mencurigai setiap ada upaya keras merevisi UU Tipikor.

Lilitan yang tak kalah menakutkan adalah ancaman narkoba yang terus-menerus secara sistemik masuk ke wilayah Indonesia dengan berbagai cara dan modus, yang nilainya triliunan rupiah. Penetrasinya luar biasa menakutkan, karena semua bentuk hambatan masuk dapat mereka jebol dengan kekuatan uang, hingga merambah ke sistem distribusinya.

Ini lilitan paling membahayakan karena merusak mental dan fisik, serta menjadi pintu masuk dekadensi moral, yang dapat menimpa siapa saja lintas generasi. Bisnis narkoba bisa dikategorikan bagian dari perang proxy, yang boleh jadi merupakan strategi by design untuk melemahkan posisi Indonesia agar pada akhirnya menjadi negara gagal (failed state).

Lilitan yang sudah berulangkali dibahas adalah kapitalisme dan liberalisme, dan perdagangan bebas yang dibingkai dalam semangat globalisasi, demokratisasi, dan digitalisasi. Lilitan ini telah membuat sebagian dari kita mengambil sikap pragmatis dan cenderung mengambil sikap anti-idiologi ekonomi karena Indonesia telah mengambil sikap dan tindakan untuk hidup dalam sistem ekonomi yang bersifat terbuka. Lilitan ini debatable dan faktanya tidak terbantahkan, karena sistem ekonomi Indonesia sudah liberal hingga kini.

Ini cenderung tidak bisa dilawan, karena telah menjadi keniscayaan. Yang bisa dilawan adalah dampak globalisasi dan perdagangan bebas, seperti ketidakadilan, penguasaan aset nasional oleh asing tanpa batas, yang masuk melalui deregulasi maupun pencurian kekayaan di laut, darat, dan udara yang membuat posisi Indonesia dirugikan dalam banyak hal.

Apa yang disampaikan ini adalah fakta yang telah banyak dipublikasikan dan dibahas di ruang publik. Semua yang dijelaskan di atas hakikatnya adalah bagian dari strategi perang proxi yang kekuatan penggeraknya bisa datang dari dalam maupun dari luar.

Indonesia akan menjadi seperti apa ke depan semua berpulang pada sikap seluruh komponen bangsa dalam menentukan penyikapannya. Hal-hal yang dilakukan dengan pertimbangan pragmatis agar tidak dijadikan modus dalam pengambilan kebijakan yang bersifat strategis dan penting bagi kepentingan masyarakat luas. Indonesia harus dibangun dalam satu kesatuan tindak yang tidak akan berdampak merusak terhadap lingkungan sosial dan kohesi sosial, serta lingkungan hidup akibat dampak perang proxi yang secara fisik tak tampak wujudnya, tetapi secara psiko sosial mampu mengubah tata berpikir dan bertindak bangsa Indonesia dalam perilaku politik, ekonomi dan budaya yang tercabik dari akar nasionalisme.

Bangsa Indonesia harus terus berbenah dan harus melepaskan lilitan “king kobra” yang bisa melemahkan rasa persatuan dan kesatuan. Indonesia yang sudah merdeka tidak boleh menjadi pihak yang kalah dalam fenomena perang proxy, karena kita bersikap pragmatis dan cenderung bersifat transaksional. Indonesia harus menjadi influencer nation state di kawasan regional dan global, bukan malah sebaliknya menjadi negara yang di bawah pengaruh bangsa lain yang kuat di dunia saat ini di bidang ekonomi, apalagi kemudian secara spesifik dikemas dalam bentuk Poros Ekonomi Baru, karena alasan pertumbuhan ekonomi dan pasar.

Dilema dan trade off pasti menghantui kita manakala sedang mendaki menuju Indonesia berkemajuan. Dilema dan trade off tidak bisa dihindari, tetapi nilai kemartaban dan keadaban harus tetap dijunjung tinggi agar negeri ini tetap dipandu oleh nilai-nilai Pancasila, sehingga negeri ini bisa membebaskan diri dari lilitan “king kobra” yang menjadi ancaman yang menghambat pelaksanaan pemba ngunan Indonesia yang berkemajuan sesuai harapan para pendiri bangsa. (Penulis adalah pemerhati masalah ekonomi dan industri)

Berita Terkait