Bekasi Berharap Segera Ada PTN

Laporan: Redaksi

Eep Saefulloh Fatah

Eep Saefulloh Fatah

BEKASI, (Tubas) – Sebuah Seminar Pendidikan bertema “Perguruan Tinggi Negeri: Antara Gengsi dan Prestasi” berlangsung di Bekasi. Seminar ini diikuti ratusan peserta dan menjadi sangat menarik selain dari para nara sumbernya seperti Dr Rahmat Effendi, Plt Wali Kota Bekasi, kemudian Dr Yayat Suharyat seorang praktisi pendidikan yang juga seorang pengajar di Unisma Bekasi serta seorang pakar pendidikan dan pengamat politik yang tidak asing lagi, Eep Saefulloh Fatah.

Seminar pendidikan ini digagas tokoh masyarakat di Bekasi yang peduli pendidikan dengan LSM Lentera sebagai pelaksananya. Mereka lebih mengedepankan pada tekad besar dan rasa keinginan, agar sebuah perguruan tinggi negeri bisa berdiri di Bekasi. Seperti diungkapkan pemerhati pendidikan Bunda Harti Mintako – yang juga pengusaha restoran Griya Wulan Sari, ia merasa sudah saatnya Bekasi memiliki Perguruan Tinggi Negeri (PTN).

Ide Bunda Harti juga didukung seorang pelaku pendidikan STKIP Yayasan Panca Bakti, Suhartono yang dengan argumentasinya menilai Sumber Daya Manusia (SDM) untuk bidang pendidikan di Bekasi sudah sangat memadai. “Artinya untuk tenaga pengajar, SDM sudah sangat mumpuni. Dari sinilah mari kita bersama-sama bahu-membahu memberikan masukan positif, merealisasikan satu universitas negeri segera berdiri di Bekasi tercinta,” ujarnya.

Sementara itu, Eep Saefulloh Fatah dalam presentasinya mengatakan makin surutnya orang-orang yang mau melibatkan diri di sektor pendidikan bisa disiasati dengan menata ulang sinergi antara tiga elemen. Pertama, elemen yang terdiri dari civil society, pers, dunia pendidikan yang sudah ada sekarang. Kedua yang disebut dengan public sector, yakni segala sesuatu yang berkaitan dengan pemerintah atau plat merah – eksekutif, legislatif, yang berhubungan dengan pemerintah. Ketiga adalah private sector yakni pengusaha yang tidak mendirikan perusahaan besar, tetapi usahanya besar, termasuk pelaku korporasi perusahaan-perusahaan besar.

Di Bekasi, menurut Kang Eep – panggilan akrab Eep Saefulloh Fatah – sangat banyak perusahaan besar berdiri. “Dengan APBD hampir Rp 2 triliun dan dengan pendapatan asli daerah lebih dari Rp 400 miliar jika digalang dengan cara yang saling menguntungkan, maka perusahaan tersebut pasti menjadi asyik bergabung di pendidikan,” ungkapnya.

Dalam seminar pendidikan ini juga muncul ilustrasi yang begitu erat, yakni ada salah satu perguruan tinggi jenjang D3 bekerja sama dengan salah satu bank swasta nasional, City Bank. Diadakanlah MoU pendidikan yang saling mengisi dan memberi. Keuntungan apa yang didapat? Simbiosis mutualisme, yakni dari pihak perguruan tinggi merasa diuntungkan melakukan kegiatan layaknya pegawai bank sesungguhnya, mahasiswa mendapat ilmu perbankan sesungguhnya. Sedangkan dari City Bank selalu merekrut para mahasiswa lulusan terbaik untuk langsung bekerja tanpa seleksi. Dengan demikian cost untuk diklat bisa ditiadakan. Jadi masing-masing pihak bisa saling mengambil keuntungan.

Sementara itu Yayat, nara sumber lain yang juga dosen di Unisma Bekasi mengungkapkan bahwa sekecil apa pun peluang jika dimanfaatkan maka akan banyak hal yang bisa dikembangkan. Asalkan syarat utamanya satu, tidak pesimistis.

“Optimisme harus selalu ada, karena kita pelaku, bukan penonton. Sehingga sharing niatan bersama mendirikan Universitas Negeri Bekasi bisa terus memompa semangat agar terus berjuang merealisasikannya,” ungkap Yayat. (rudi kosasih)

Berita Terkait

Komentar

Komentar