Beradaptasi dengan Perubahan, Kunci Utama untuk Bertahan

Oleh: Fauzi Aziz

 

PERTAMA, tuntunan untuk beradaptasi dengan perubahan sesungguhnya berlangsung bukan karena adanya pandemi Covid -19 saja. Lebih jauh dari itu, adaptasi tersebut sudah harus dilakukan sejak dunia masuk era globalisasi.

Sulit dibayangkan bagaimana posisi sebuah negara berada dalam lintasan perekonomian global, jika suatu perekonomian tidak mampu beradaptasi dengan cepat. Kuncinya harus bisa berkompetisi berkolaborasi dan bertahan.

Ketiga tema inilah yang sejatinya bisa kita sebut sebagai kepentingan inti yang harus diperjuangkan setiap negara berdaulat di fora internasional. Ketiganya dapat dipandang sebagai strategi inti ketika posisi Indonesia ada di dunia, dan ketika dunia ada di Indonesia.

KEDUA, ciri umum yang sudah kita fahami adalah adanya integrasi atau penyatuan ekonomi antar negara di dunia melalui peningkatan aliran barang, jasa, modal, teknologi, bahkan tenaga kerja.

Uni Eropa, oleh 27 negara anggotanya dibentuk antara lain karena alasan ini. Trend-trend dunia secara luas menuju ke arah kebebasan politik dan pemerintahan sendiri pada satu pihak dan pembentukan aliansi ekonomi di pihak lain telah menjadi kebutuhan setiap negara berdaulat. Masyarakat Ekonomi Asean-pun dibentuk dalam semangat pembentukan aliansi ekonomi kawasan, tanpa harus mematikan kedaulatan politik, ekonomi dan budaya masing-masing negara. Kesatuan Sistem Ekonomi Nasional di NKRI dibentuk dalam semangat integrasi perekonomian nasional yang pengorganisasian, perancangannya sebaiknya bersifat top-down.

Initiative Belt and Road yang dibentuk China juga ada dikandung niat untuk mengintegrasikan perekonomian Asia di bawah kendali China.

Bisa Bertahan

KETIGA, pesan pentingnya jelas yaitu saatnya berubah untuk memenangkan persaingan dan di saat yang sama harus bisa membangun aliansi ekonomi dengan mitra strategis di dunia dan dalam waktu bersamaan pula harus bisa bertahan ketika menghadapi tekanan eksternal.

Perubahan memang harus direspon dengan banyak upaya. Selama ini banyak upaya yang sedang berjalan dan banyak terminologi yang dipakai. Yang paling populer digunakan, misalnya reformasi, transformasi, , perubahan struktural, modernisasi dan sebagainya. Bahkan Presiden Jokowi pernah mencanangkan Revolusi Mental yang merupakan bagian dari gerakan national and character building, tapi sayang layu sebelum berkembang.

Apapun yang ingin kita capai, pasti membutuhkan master plan atau rencana strategis untuk merespon perubahan yang bangsa ini inginkan. Situasi baru atau menyambut situasi normal baru, jelas membutuhkan strategi baru dan tidak bisa direspon secara pragmatis hanya untuk menjawab kebutuhan jangka pendek,

KEEMPAT, dari serangkaian upaya yang dapat ditempuh adalah perubahan mindset, yaitu bagaimana berhadapan dengan suasana baru. Disini revolusi mental menjadi relevan. Di bidang politik, ekonomi maupun di bidang lain kita menyaksikan pergulatan banyak negara berusaha beradaptasi dengan perubahan lingkungan strategis baru, dimana teknologi digital telah makin meluas digunakan untuk menopang berbagai aspek kehidupan berspektrum luas.

Dunia kini menghadapi masa transisi menuju normal baru dalam banyak aspek. Yang sudah lama sebagai contoh  adalah bagaimana beradaptasi dengan perubahan iklim dan pemanasan global.

Contoh terbaru adalah beradaptasi dengan perubahan dalam banyak aspek kehidupan pasca Covid-19. Di bidang ekonomi adalah bagaimana beradaptasi dengan perubahan arsitektur atau lanskap ekonomi pasca krisis multidimensi dan momentum pemulihan ekonomi global dalam situasi baru, yang selama ini distigma oleh persoalan ketidakpastian dan ketidakadilan.

Negara-negara berkembang , termasuk Indonesia pasti akan berhadapan dengan suasana normal baru di lingkungan eksternal maupun internalnya Harapannya adalah lingkungan eksternal normal baru yang terbentuk semakin ramah terhadap kebutuhan negara-negara berkembang agar ekonominya tumbuh lebih baik dan mampu mencapai perbaikan dalam mutu kehidupan rakyatnya.

Lingkungan internalnya jelas perlu power consolidation seluruh sumber daya nasional. Membangun daya saing, membangun kolaborasi dan daya tahan ekonomi adalah lanskap ekonomi yang harus kita bangun dan dimulai dari sekarang.

Optimisme

KELIMA, pemulihan dan kebangkitan ekonomi global yang diprediksi IMF akan tumbuh 5,4% tahun 2021 tentu akan berbuah baik  bagi pertumbuhan ekonomi di negara maju dan negara-negara berkembang yang masing-masing diprediksi tumbuh 4,8% dan 5,9%.

Ini adalah optimisme yang memberikan harapan  meskipun sebagian ekonom berpandangan bahwa target tersebut tidak realistik. Dari skenario IMF tersebut  kita bisa catat bahwa ekonomi AS akan tumbuh 4,5%, China 8,2%, Jerman 5,4%, Jepang 2,4% , India 6,0% dan Indonesia 6,1% (versi pemerintah dan DPR antara 4,5-5%).

Kita memang belum bisa melihat situasi menyeluruh peta geopolitik dan geokonomi dalam lanskap normal baru. Namun bila semua negara memandang bahwa mereka adalah menjadi pemangku kepentingan yang ikut bertanggungjawab dalam sistem internasional, maka pemulihan dan kebangkitan kembali ekonomi global akan memberi harapan baik  buat semua.

Take and give penting diupayakan . Kita juga diingatkan oleh Kishore Mahbubani bahwa beberapa dekade terakhir memperlihatkan, beberapa negara Asia telah menjadi penerima manfaat terbesar tata dunia multilateral terbuka yang diciptakan AS dan negara-negara sekutu pemenang perang dunia kedua.

Maksudnya barangkali Asia harus ucapkan terima kasih kepada AS dan sekutunya. Harapannya adalah China dan AS berdamai  dan menata kembali kerjasama ekonomi Asia Pasifik di bawah kepemimpinan mereka bersama.

Kebangkitan ekonomi Asia Pasifik yang dipimpin bersama AS dan China adalah pembuka jalan kebangkitan ekonomi global. Tapi jika keduanya terus terlibat konflik yang makin dalam, maka lanskap ekonomi global normal baru akan terus diwarnai ketidakpastian babak baru pasca pandemi Covid-19.

KEENAM, segala macam bentuk respon  yang harus dilakukan pada dasarnya tidak boleh mengorbankan kepentingan nasional karena kedaulatan politik dan ekonomi harus tetap terjaga. Kehati-hatian beradaptasi dengan perubahan amatlah penting agar tidak keluar dari koridor konstitusi maupun haluan negara.

Berarti master plan pemulihan dan kebangkitan ekonomi Indonesia harus disusun bersama dengan melibatkan segenap pemangku kepentingan, tidak hanya dari unsur pemerintah dan lembaga legislatif saja, tetapi dapat melibatkan para teknokrat, cendekiawan , generasi milenial melalui proses policy dialogue yang intensif.

Mestinya MPR bisa mengambil prakarsa ini. Dapurnya pemerintah adalah Bappenas. Arahnya adalah menyiapkan kerangka kerja konseptual tentang respon Indonesia terhadap perubahan lingkungan strategis normal baru dengan menggambarkan proses dinamisme portofolio ekonomi Indonesia pasca pandemi Covid-19 dan krisis ekonomi.

Harus Disamakan

KETUJUH, sebab itu, bahasa kita harus disamakan untuk kebangkitan kembali ekonomi nusantara  yang pusat-pusat produksinya memang harus dibangun di daerah. Ada sejumlah sektor harus dibangun oleh pemerintah melalui skema full funding atau skema KPS. Misal progam hilirisasi dan substitisi impor.

Selama ini oleh banyak kalangan, pemerintah dinilai tidak tegas. Di satu sisi pemerintah mendorong industrialisasi, tetapi di sisi lain segala kewajiban pemerintah tidak disediakan, seperti terkait pembiayaan. Pembentukan Sovereign Wealth Fund dengan menghadirkan Lembaga Pembiayaan Pembangunan Indonesia yang sudah lama dipending perlu segera direalisasikan.

KEDELAPAN, memasuki fajar pemulihan dan kebangkitan ekonomi nasional, akrobat politik dan birokrasi dalam penanganan Covid-19 harus diakhiri agar hasilnya maksimal. Membangun kohesivitas pemerintah menjadi.keniscayaan.

Presiden sebagai kepala pemerintahan/kepala negara perlu mengkonsolidasikan kekuasaannya (resume of power) dengan fokus pada 4 hal, yakni ; 1).mengkonsolidasikan penanganan Covid-19 secara top down hingga tuntas. 2) mengkoordinasikan penanganan pemulihan ekonomi. 3) mengkoordinasikan kebangkitan ekonomi dan 4) memelihara stabilitas politik dan keamanan serta kepastian hukum. Tanggung jawab itu dibagi habis ke empat kemenko yang sudah ada sesuai dengan tupoksinya.

KESEMBILAN, periode 2020-2025 merupakan periode kunci dalam melaksanakan tahapan pembangunan. Periode ini adalah tahap krusial dan menentukan posisi Indonesia menjadi sebuah negara yang mampu atau sebaliknya tetap bertengger sebagai negara berpendapatan menengah ke bawah.

Tidak ada pandemi Covid-19 saja, kondisi perekonomian sudah tumbuh lambat. ADB pernah memberikan catatannya bahwa negara-negara berpendapatan rendah di Asia harus fokus mengembangkan sektor manufakturnya.

Tidak ada satupun yang sanggup menjadi negara berpendapat tinggi tanpa industrialisasi. Berkembangnya sektor industri pengolahan di dalam negeri akan menghasilkan lapangan kerja dan meningkatkan produktifitas pertanian.

Membangun industri bukan sekedar mendirikan pabrik ( almarhum Ir Hartarto Sastro soenarto). Optimisme  dan kerjasama harus dipelihara. Banyak modal sosial antara lain bonus demografi, kelas menengah yang makin besar jumlahnya harus dikelola agar makin berkontribusi terhadap masa depan ekonomi Indonesia.

Inilah sekilas tantangan yang dihadapi bangsa ini. Tahun 2020- 2025 adalah periode kunci dan menentukan untuk mempersiapkan langkah-langkah perubahan selanjutnya pada periode 2025-2045. Salam sehat . (penulis adalah pemerhati ekonomi dan industri, tinggal di Jakarta).

Berita Terkait

Komentar

Komentar