Berbuat Baik Tanpa Pamrih

161014-pangestu

DALAM kehidupan bermasyarakat, setiap orang adalah anggota dari suatu masyarakat. Hidup bermasyarakat menjadi baik, apabila dalam masyarakat itu tumbuh rasa saling mengasihi satu sama lain di antara para anggotanya, dengan istilah lain: ada harmoni di dalamnya. Wujud dari rasa saling mengasihi adalah berbuat baik kepada sesama dengan tanpa pamrih apa pun.

Seseorang yang sehat jiwanya tidak akan tenang dan bahagia, jika ia tidak diterima dengan baik di masyarakatnya. Ia dapat diterima dengan baik dalam masyarakat, jika perbuatan baiknya dirasakan oleh masyarakatnya. Akan tetapi selama ia berbuat baik karena pamrih, maka dapat dipastikan ia masih tinggi menghargai dirinya sendiri. Berarti kasih sayangnya kepada sesama juga belum tulus ikhlas, dan orang yang masih tinggi menghargai dirinya sendiri, yang senang disanjung, dipuji, dihormati dan sebagainya, lupa bahwa dirinya adalah hanya hamba Tuhan, yang tidak memiliki kekuasaan apa-apa pada dirinya sendiri kecuali atas izin Allah. Orang semacam ini cenderung suka merendahkan anggota masyarakat lainnya.

Berbuat baik tanpa pamrih, yang berarti tidak lagi mengharapkan balasan apa pun dari perbuatan baik kepada orang lain, baik itu berupa benda atau sanjungan dan pujian. Rasa pamrih atau ingin selalu dibalas perbuatannya harus dihilangkan, jika seseorang ingin memiliki harmoni dalam kehidupannya dan benar-benar menjadi hamba Tuhan yang sejati. Itu semua dapat dilatih.

Pertanyaannya adalah: Bagaimana berbuat baik tanpa pamrih apa pun dapat dilatih? Oleh karena kebanyakan orang berbuat baik pasti ada pamrihnya (mengharapkan balasan).

Laman: 1 2

Berita Terkait

Komentar

Komentar