BPK: Defisit Negara 2014 Rp226,69 triliun

Ketua BPK, Harry Azhar Azis

Ketua BPK, Harry Azhar Azis

JAKARTA, (tubasmedia.com) – Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) menyerahkan Laporan Hasil Pemeriksaan atas Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LHP LKPP) 2014 dalam rapat paripuran Dewan Perwakilan Rakyat.

Ketua BPK, Harry Azhar Azis mengatakan pihaknya memberikan opini wajar dengan pengecualian atau qualified opinion. Opini tersebut menurutnya sama dengan opini LKPP 2013.

Dia menjelaskan, dalam pemeriksaan laporan realisasi Anggaran Pendapat dan Belanja Negara (APBN) 2014, pemerintah melaporkan realisasi pendapatan sebesar Rp1.550,49 triliun atau naik sebesar 7,75 persen dibanding 2013 sebesar Rp1.438,89 triliun.

“Pendapatan negara tahun 2014 mencapai 94,81 persen dibandingkan dengan anggaran sebesar Rp1.635,37 triliun. Dari pendapatan negara itu, realisasi penerimaan perpajakan 2014 sebesar Rp1.146,86 triliun atau hanya 92,04 persen dari anggaran Rp1.246,10 triliun,” kata Harry saat membacakan laporan LHP LKPP 2014 dalam rapat paripurna di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (4/6/2015).

Kemudian lanjut dia, belanja negara 2014 meliputi belanja pemerintah pusat dan transfer ke daerah yang seluruhnya berjumlah Rp1.777,18 triliun atau 94,69 persen dari anggaran sebesar Rp1.876,87 triliun.

“Belanja negara juga mengalami kenaikan sebesar Rp126,62 triliun atau 7,67 persen jika dibandingkan 2013 sebesar Rp1.650,56 triliun,” ujarnya.

Selain itu kata Harry, kenaikan pendapatan negara lebih kecil dibanding kenaikan belanja negara. Sehingga hal itu menimbulkan defisit anggaran 2014 sebesar Rp226,69 triliun atau naik sebesar Rp7,09 triliun dibandingkan defisit 2013 sebesar Rp211,67 triliun.

“Defisit anggaran negara yang meningkat itu diimbangi dengan kenaikan pembiayaan pada 2014 sebesar Rp248,89 triliun atau mengalami kenaikan 4,84 persen dibandingkan 2013 sebesar Rp237,39 triliun,” lanjutnya.

Bekas Politisi Golkar itu menambahkan, pada neraca pemerintah pusat per 31 Desember 2014 total aset disajikan sebesar Rp3.910,92 triliun atau naik sebesar Rp343,34 trilin dibandingkan total aset 2013 sebesar Rp3.567,58 triliun.

“Kenaikan total aset berasal dari kenaikan aset lainnya sebesar Rp201,68 triliun dan investasi jangka panjang sebesar Rp126,75 triliun. Kenaikan aset lainnya terutama berasal dari kemitraan dengan pihak ketiga dan aset lain-lain. Sedangkan kenaikan investasi jangka panjang terutama berasal dari kenaikan investasi permanen penyertaan modal negara,” pungkasnya. (nisa)

Berita Terkait

Komentar

Komentar