Bukalah Forum Dialog Kebangsaan yang Produktif

Oleh: Fauzi Aziz

ilustrasi

ilustrasi

MENJELANG pergantian kepemimpinan nasional pada tahun 2014, suhu politik di dalam negeri sudah memanas. SurveI elektabilitas muncul silih berganti dengan suguhan yang dibuat makin menarik. Ada yang diselenggarakan atas dasar “pesanan” pihak yang berkepentingan, dan ada pula yang dikerjakan secara independen.

Masih di sekitar survei, ada hal yang patut disampaikan, yakni para surveyor diharapkan membuat semacam survei tentang pendapat masyarakat mengenai masa depan Indonesia yang dibutuhkan oleh masyarakat. Di bidang politik dan hukum apa yang diharapkan. Di bidang ekonomi, sosial budaya dan pertahanan keamanan, seperti apa yang dibutuhkan. Spektrum para narasumbernya dibuat meluas agar mendapatkan masukan lebih komprehensif di masing-masing bidang tadi. Hasilnya tentu akan sangat berguna bagi beliau-beliau yang sudah punya niat kuat akan maju sebagai capres, cawapres, serta caleg di DPR.

Dengan catatan kalau beliau-beliau itu mau menggunakan hasil survei sebagai bahan penyusunan kebijakan dan program kampanye serta jika yang bersangkutan terpilih. Jika hal yang demikian dapat dilakukan, maka dampaknya akan lebih baik bagi proses pematangan demokrasi. Masyarakat secara inklusif dilibatkan secara aktif untuk memberikan masukan dalam cakrawala pandang yang lebih mengayakan untuk membangun masa depan Indonesia.

Budaya Bangsa

Dampak yang lain barangkali celotehan-celotehan yang kurang produktif bisa dihindarkan. Demokrasi di Indonesia memang harus dikelola berdasarkan akar budaya bangsa, yaitu musyawarah, tukar pikiran sambil ngopi-ngopi panas. Seperti layaknya tradisi yang hidup di masyarakat. Para elite bangsa di negeri ini harus berani membuka diri untuk melakukan dialog yang konstruktif dan produktif mengenai tema-tema berwawasan kebangsaan di segala bidang yang menjadi kebutuhan bangsa dan negara. Dialog semacam itu dilakukan tidak hanya sebatas pada saat menjelang pilpres, pileg, dan pilgub/pilbup/pilwakot, tapi sangat baik dilakukan saat mereka sudah terpilih.

Obor semangat Indonesia Incorporated harus mulai dinyalakan dari sekarang untuk mengelola sumber daya nasional yang kini “porak poranda” akibat sistem manajemen pembangunan bangsa berbasis musyawarah mulai “ditinggalkan” atau “diabaikan”. Sebagai rakyat Indonesia pasti akan terpanggil jika mereka dilibatkan mengurus negeri ini sekecil apa pun perannya, karena semua kita sangat berkepentingan agar Indonesia bisa maju, mandiri, dan seluruh rakyatnya dapat menikmati kemakmuran yang dihasilkan. Dialog dibuka bukan untuk sekadar basa-basi atas nama demokrasi.

Konstruksi dan sistem dialog yang dibangun memang dirancang agar semua pemangku kepentingan di negeri ini ikut bertanggung jawab membangun kemajuan peradaban Indonesia di era globalisasi yang sistemnya makin terbuka. Pemerintah dan kabinetnya pasti mempunyai keterbatasan dalam menjalankan misinya untuk memakmurkan bangsa dan negara ini. Oleh sebab itu, mengundang dialog para cendekiawan, para ahli di berbagai bidang, dan yang mewakili kepentingan rakyat di seluruh pelosok tanah air ada manfaatnya jika mereka dilibatkan. Dengan cara ini, hasil kebijakan dan program pemerintah maupun DPR pasti akan lebih baik dan lebih berkualitas untuk mengatasi berbagai masalah yang dihadapi oleh negara pada dewasa ini.

Penulis opini ini masih punya optimisme jika tradisi musyawarah mufakat dijalankan sebagai bagian langsung dari sistem manajemen pembangunan. Musyawarah mufakat adalah tradisi yang baik, khas budaya asli Indonesia yang patut dijalankan untuk menggerakkan seluruh sumber daya nasional yang dimiliki oleh bangsa dan negara ini. Please, para ketum parpol memulai dan mengambil inisiasi untuk menyelenggarakan forum dialog kebangsaan yang konstruktif dan produktik. Sudah tidak waktunya para parpol hanya bekerja seperti katak dalam tempurung.

Percayalah rakyat tidak akan pernah “mengudeta” kekuasaan yang telah Anda raih. Rakyat hanya mau menyaksikan dan beraktivitas di bidang masing-masing, asal para penguasa di negeri ini bekerja dengan sungguh-sungguh menyelesaikan masalah kebangsaan dengan amanah dan jujur. ***

Topik :

Berita Terkait

Komentar

Komentar