Bumi Kita Dalam Keadaan Sakit

Laporan: Redaksi

ilustrasi

SEMINAR - Ir SM Doloksaribu M Ing, MSc (kiri) bersama Drs Fauzi Aziz (kanan) yang dipandu moderator Enderson Tambunan (tengah) tampil sebagai nara sumber pada seminar yang diselenggarakan SKM Tunas Bangsa di Jakarta, Selasa. (tubasmedia.com/roris)

JAKARTA, (TubasMedia.Com) – Dalam waktu tidak lama lagi, jangankan tempat untuk tidur, tempat untuk berdiri sekalipun, sudah akan sulit kita temukan karena penduduk dunia akan semakin bertambah sementara lahan untuk tempat manusia semakin sempit. Bumi akan semakin sempit.

Hal itu diutarakan Ir. SM Doloksaribu M.Ing, MSc, pakar lingkungan dan Dosen UKI pada seminar yang diselenggarakan SKM Tunas Bangsa (Tubas) di Jakarta, Selasa. Selain seminar, juga diselenggarakan peluncuran buku “Pesona Tetangga” hasil karya Pemimpin Redaksi Tubas, Sabar Hutasoit.

Hadir dalam acara tersebut, Anggota DPR Komisi VI Lili Asdjudiredja, Sesditjen Industri Unggulan Berbasis Teknologi Tinggu (IUBTT) Kemperin Syarif Hidayat dan Pemimpin Umum Tubas, Fauzi Aziz serta sejumlah pakar lingkungan dan para wartawan Tubas seluruh Indonesia.

Melihat bumi dari bumi dan melihat bumi dari langit menurut Doloksaribu adalah dua kegiatan yang saling melengkapi dalam melihat obyek yang sama dari titik tolak yang berbeda. Seperti melihat hutan dari dalam (hutan) dan melihat hutan dari luar (hutan) atau kejauhan.

Melihat dengan cara yang berbeda atas obyek yang sama yakni bumi kita, dapat memberi citra atau persepsi yang berbeda dan dapat saling melengkapi pemahaman kita tentang bumi dan masa depannya secara lebih utuh.

Melihat bumi dari bumi seperti melihat hal besar dari sisi kecil sementara melihat dari angkasa melihat bumi sebagai hal kecil dari sisi sebaliknya. Hal itu memberi dampak psikhologis yang berbeda di antara dua cara pandang itu, bumi itu “besar” dan “kecil”.

Dari cara pandang bumi itu besar, kita dan seluruh mahluk hidup yang ada di dalamnya menjadi bagian kecil dari seluruh bumi yang besar itu. Makluk hidup sebagai bagian kecil dari keseluruhan yang besar itu sering disebut Biosfir.

Menurutnya, Planet Bumi yang dalam sistem tata surya tergolong planet kecil itu memiliki biosfir, lapisan tipis di permukaannya yang terdiri dari lapisan atmosfir, hidrosfir dan litosfir dimana kita hidup. Dalam lapisan tipis itu, juga hidup bersama jutaan spesies. Kehidupan yang merupakan interaksi dari sesama mahluk hidup dan lingkungan fisiknya yang juga saling berinteraksi.

Kesadaran tentang keadaan bumi kita, berkembang sejak paroh terakhir abad yang lalu. Kesadaran bertumbuh ketika temuan dan peringatan ahli ditanggapi secara positif oleh banyak orang, baik kelompok-kelompok masyarakat maupun masyarakat politik pengambil keputusan kebijakan publik. Pesan bahwa bumi kita dalam keadaan sakit direspons dengan berbagai upaya resmi dan tidak resmi untuk menghindari keadaan yang lebih buruk.

Setidaknya untuk mengetahui situasi lingkungan sekarang ini, sebenarnya kita harus melihat sedikit agak jauh ke belakang. Perkembangan Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Seni (IPTEKS); Pertumbuhan penduduk karena perkembangan IPTEKS itu; Pertumbuhan dan Perkembangan Kebutuhan karena perkembangan IPTEKS dan pertumbuhan penduduk . Puncak dari kegiatan yang mengandalkan kemampuan IPTEKS untuk menjawab pertumbuhan dan perkembangan kebutuhan itu terjadi ketika Revolusi Industri terjadi di Inggris dan seluruh Eropa daratan lebih dari 200 tahun yang silam.

Pencarian sumber daya alam (terbarui dan tak terbarui) hingga kini adalah upaya memenuhi kebutuhan yang terus-menerus meningkat bahkan cenderung rakus. Pencarian rempah-rempah dan bahan makanan lain, bahan-bahan kayu, mineral dan energi dari negeri-negeri di luar Eropa, telah membawa keadaan baru sekitar lima ratus tahun silam ketika penjelajahan dunia baru menghasilkan kolonialisme dan eksploitasi empat benua di luar Eropa .

Sejak lima puluh tahun terakhir sejak Musim Semi yang Bisu (Silent Spring) dari Rachel Carson menembus batas-batas kesadaran masyarakat Amerika dan Dunia, kemudian sekarang ini kita mengalami pergumulan dan gerakan lingkungan baru, global, antar bangsa, lintas budaya, lintas agama, lintas ilmu dan lintas generasi.

‘’Kita memiliki Agenda Lingkungan yang rumit sejak Konferensi PBB tentang Lingkungan Hidup Manusia di Stockholm 5-16 Juni 1972. Sejak konferensi yang pertama itu, berlangsung konferensi sepuluh tahunan yang menilai perkembangan atas keputusan-keputusan tentang Prinsip dan Aksi yang diambil di Stockholm,’’ katanya.

Tahun 2012 yang baru lalu diselenggarakan Konferensi Tingkat Tinggi (Summit) tentang masalah-masalah terkini Pembangunan dan Lingkungan Hidup, 20 tahun sesuda KTT Rio, dan kembali diselenggarakan di Rio de Janeiro, Brasil. Menjadi penting sesudah globalisasi, dari seluruh aktifitas ekonomi, lingkungan bahkan politik, mencari tahu, apa, bagaimana dan dimana kita sebagai warga negara-negara miskin terbelakang dapat dan seharusnya berperan. (roris)

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.