Bumi yang Terus Ditindas Manusia

Oleh: Fauzi Aziz

ilustrasi

ilustrasi

HARI bumi 22 April setiap tahun terus diperingati oleh manusia sejagad. Tetapi seiring dengan peringatan tersebut, bumi makin menangis dan meronta tak kuasa menahan derita berkepanjangan akibat ulah tak bertanggungjawab dari manusia yang rakus.

Bumi makin kehilangan makna bagi sumber kehidupan. Biaya untuk merawat bumi makin tidak sebanding dengan kerusakan yang dilakukan oleh homo economicus. Kemajuan sains dan teknologi nampaknya juga tidak akan pernah mampu mengembalikan peran dan fungsi bumi sebagaimana asalnya.

Bumi tidak memiliki kekuatan teknologi sebagaimana manusia yang mempunyai peradaban. Bumi hanya bisa pasrah menghadapi perilaku manusia yang keberadabannya mulai terganggu dan juga mengalami kerusakan. Air laut pasang terjadi setiap saat, hutan gundul di mana-mana. Banjir melanda dunia. Bekas galian bahan tambang dibiarkan menganga tanpa ada upaya reklamasi yang memadai.

Pendek kata, bencana alam telah melanda di seluruh dunia tanpa kecuali. Ada ramalan bahwa tahun 2040, kutub utara gunung esnya total akan mencair karena suhu mulai memanas. Jika benar ramalan itu, maka debet air laut akan bertambah besar dan ketika bumi di sekitarnya makin rusak, maka banjir bah akan terjadi di mana-mana dan tenggelamlah daratan tempat manusia bermukim dan mencari makan.

Tidak yang kaya dan tidak pula si miskin akan mengalami penderitaan yang sama. Mereka sama-sama tidak akan bisa menjalankan aktifitas kehidupannya. Bedanya hanya tipis. Si kaya mungkin masih bisa makan dari tabungannya walau lama-kelamaan akan habis karena sebagai manusia akan bernasib sama akibat bumi makin tidak bermakna bagi kehidupan semua manusia dan mahluk hidup yang lain.

Binatang yang tadinya bisa dimakan dagingnya, populasinya makin berkurang karena kesulitan cari makanan akibat habitatnya tempat mereka hidup dan berkembang biak makin rusak. Mereka pasti akan berimigrasi dan turun gunung dan masuk ke pemukiman penduduk.

Hadirnya mereka pasti menjadi ancaman dan akibatnya paling buruk, mereka akan memakan apa yang ada di lingkungan pemukiman dan boleh jadi dapat memangsa manusia karena kepepet. Bisakah manusia disisa waktu yang ada menyelamatkan bumi?

Rasanya tidak ada yang secara tegas berani memberikan jawaban ya bahwa bumi bisa diselamatkan. Yang sering kita dengar hanyalah ajakan,atau berikhtiar, mari kita sama-sama menyelamatkan bumi. Kalau diukur dengan uang, barangkali total nilai PDB negara sedunia tidak akan cukup dipakai untuk membiayai penyelamatan bumi yang kondisinya sudah parah.

Para ahli/ilmuwan hanya bisa memberikan warning, tapi para eksekutor penyelamat bumi mikir seribu kali, berapa dana yang akan dihabiskan dan terpakai untuk tindakan penyelamatan. Pasti tidak kecil. Kalau sekedar tsunami Aceh, tsunami di Jepang atau di tempat lain, manusia masih bisa berbuat banyak untuk saling memberi bantuan untuk tindakan penyelamatan. Tapi jika tsunaminya terjadi merata akibat gunung es di kutub utara dan selatan total mencair jadi air laut, apa jadinya bumi kita ini. Esai ini hanyalah sebuah ilusi, namun fakta mencatat bahwa kondisi kehidupan di bumi harus diakui memang makin parah.

Manusia sepertinya tak peduli apa yang diharapkan Tuhan, yakni agar manusia dapat memuliakan bumi seisinya. Manusia asyik dengan perilaku dan permainannya sendiri. Seiring berjalannya waktu tanpa disadari telah mencapai sekian tahun lamanya, manusia lupa membuat neraca yang menggambarkan antara manfaat yang diperoleh ketika hidup di muka bumi dengan kerusakan yang ditimbulkannya ketika manusia mengeksplorasi dan mengeksoitasi isi perut bumi.

Sadar ketika dari hasil audit neraca diperoleh gambaran bahwa sebenarnya telah terjadi kerugian besar. Di baki kreditnya, ternyata manusia punya hutang yang sangat besar terhadap bumi akibat fungsi manajemen kehidupan tidak dikerjakan dengan baik dan taat azas terhadap nilai-nilai yang diajarkan Tuhan ketika manusia ditunjuk dan diberi mandat sebagai wakil Tuhan untuk mengelola kehidupan di muka planet bumi.

Nasi telah menjadi bubur. Proses kehancuran bumi tinggal tunggu waktu karena kita percaya kiamat pasti akan datang. Sisa waktu yang ada menjadi penghuni bumi harus digunakan untuk melakukan hal-hal yang bersifat positif. Merapikan kembali hal-hal yang tidak beres dalam kehidupan selama ini, setelah melewati pengembaraan hidup yang cukup panjang dan melelahkan.

Membersihkan karat-karat dosa yang kita perbuat sampai membuat bumi tertindas dan kemudian membersihkannya seperti halnya membersihkan halaman rumah dari sampah yang mengotori. Manusia sejatinya adalah mahluk yang paling memerlukan segala upaya perbaikan diri.

Tanda-tanda akan segera berakhir sudah cukup kasat mata kita saksikan di muka bumi dan semoga walau hanya sekecil apapun kontribusi kita, mari kita rawat baik-baik bumi penopang kehidupan ini dan akhiri segala bentuk penindasan dan penistaan terhadapnya. ***

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.