Buncis, Kesenian Rakyat yang Terlupakan

Laporan: Redaksi

Ilustrasi

Ilustrasi

PURWOKERTO, (Tubas) – Dua orang lelaki seolah sedang menari dalam gendongan boneka kayu seukuran orang dewasa. Gerakan mereka menyesuaikan iringan musik calung Banyumasan yang ditabuh rekannya. Pemandangan seperti itu bisa dijumpai pada pertunjukan kesenian Buncis.

Buncis merupakan kesenian tradisional khas Banyumas yang sudah dilupakan orang dan sangat jarang ditemui. Beruntung masih ada sekelompok orang yang mau menekuni kesenian rakyat tersebut. Meski jarang pentas, kelompok kesenian Buncis Mangku Laras asal Desa Karangsari, Kecamatan Kebasen, Banyumas, Jateng berusaha tetap bertahan. Saat ini Buncis Mangku Laras merupakan satu-satunya kelompok kesenian Buncis yang masih ada di Banyumas.

Ketua kelompok kesenian Buncis Mangku Laras, Sutrisno (47) mengaku saat ini sudah jarang mendapat order pentas. “Dulu kesenian Buncis biasa pentas di tempat orang hajatan, saat ini sudah jarang orang hajatan yang nanggap Buncis” katanya di sela-sela pementasan di Purwokerto, pekan lalu.

Untuk pentas di tempat hajatan mereka biasa memasang tarif antara Rp 500 ribu sampai Rp 900 ribu sekali pentas. Namun jika di lingkungan sendiri mereka mau dibayar Rp 400 ribu. Menyikapi sepinya order pentas, kelompok kesenian Buncis yang beranggotakan delapan orang ini sesekali ngamen keliling dari kampung ke kampung.

Kesenian Buncis terdiri dari dua orang penari, seorang penabuh kendang dan empat orang penabuh calung. Para penari mengenakan pakaian tradisional dan membawa boneka kayu berukuran besar. Posisi boneka berada di bagian depan diikat dengan selembar kain dan diatur sedemikian rupa sehingga seolah-oleh boneka tersebut yang menggendong penarinya.

Menurut Dosen Komunikasi Tradisional Unsoed, Purwokerto, Chusmeru tiga puluhan tahun yang lalu kesenian Buncis masih banyak dijumpai di Banyumas. Saat ini masyarakat Banyumas sendiri banyak yang tidak mengenal kesenian tersebut. Kesenian rakyat di Banyumas itu bukan merupakan bagian dari sebuah sistem yang lebih besar seperti di Bali. Sehingga hal tersebut menjadi kendala dalam proses regenerasi.

Chusmeru menyayangkan jika sampai kesenian Buncis ini hilang, masyarakat akan kehilangan aset budaya yang dimilikinya. Kesenian rakyat biasanya merupakan bagian dari sub sistem kekuasaan di masa lalu sehingga penuh dengan simbol-simbol. Dalam kesenian Buncis, boneka kayu yang menggendong penari merupakan simbolisasi dari hubungan antar manusia, bahwa setiap manusia memiliki tanggung jawab sosial. Beban yang ada dalam masyarakat harus dipikul secara bersama-sama. (joko s)

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.