Bursa Industrial Perlu Segera Dibentuk

Oleh; Fauzi Azis

 

AKSI korporasi pada dasarnya budaya kerja organisasi yang mendorong organ-organ organisasi agar bisa membangun portofolio dan nilai tambah bagi organisasi yang bersangkutan  baik itu organisasi nirlaba maupun organisasi profit.

Pengakuan dan kepuasan pelanggan penting bagi keduanya. Pengakuan tentang expertise, reputasi, kinerja, dan kemampuan networking, serta dampak dari output yang dihasilkan dan mendatangkan manfaat ekonomi bagi para pelanggannya.

Organisasi nirlaba sudah incoming, tapi belum berorientasi penuh pada profit. Sedangkan organisasi profit, jelas sudah making income dan making profit.

Lembaga R&D milik pemerintah pada umumnya masih menjadi organisasi nirlaba. Ada yang masih sekedar sebagai unit PNBP, ada yang sudah berstatus Badan Layanan Umum (BLU). Sebagai unit PNBP belum sepenuhnya full incoming, namum kalau BLU sudah full incoming hanya belum  bisa profit center.

Aksi korporasinya baru sebatas itu. Ke depan, terutama yang sudah BLU dan sudah memiliki potensi menjadi unit profit center terutama yang pendapatan tahunannya sudah semakin lebih besar dari belanjanya, harus mulai digarap untuk dapat melantai di bursa industrial yang merupakan instrumen pasar.

Sekaligus untuk mempertemukan kemampuan suplai teknologi industri, rancang bangun dan perekayasaan industri dari BLU lembaga R&D dan para industri pengguna,serta  para venture capital untuk melakukan kolaborasi industrial yang bernilai bisnis.

Belum Ada

Bursa industrial sendiri belum ada, dan sebab itu, perlu segera dibentuk seperti halnya pemerintah telah memiliki bursa saham dan bursa komoditi.

Bursa industrial tersebut membuka pusat pengembangannya berdasarkan pendekatan konsep industrial collaboration di bidang kompetensi inti tertentu yang produk dan layanannya dibuat costumize.

Selain itu, juga mengembangkan pasar-pasar yang mulai tumbuh misalnya dalam rancang bangun dan perekayasaan produk dan layanan serta perancangan dan pembuatan pabrik secara utuh yang konsep dasarnya adalah smart factory.

Pemikiran semacam ini ditawarkan dengan pertimbangan bahwa kita tidak ditakdirkan untuk selamanya menjadi pengguna anggaran, tetapi harus bisa bertransformasi  menjadi  pencipta pendapatan yang returnable dan profitable.

Kita harus semakin yakin dan percaya diri bahwa yes we can jika peluangya dibuka untuk menjawab tantangan berimigrasi dan bertransformasi untuk mengubah hidup dengan upaya sendiri. Pemikiran ini juga dilandasi oleh spirit ekonomi dan bisnis bahwa kini saatnya kapitalisasi pasar aset intangible harus dilakukan ketika paradigma Globalization Is Localization sudah terjadi secara global.

Inilah barangkali strategi kita agar bisa berkontribusi dalam global value chain. Secara bertahap, kepercayaan akan takdir semacam itu harus segera dikanalisasi melalui kebijakan pemerintah, dan pemerintah sendiri harus berperan sebagai pembuka jalan.

Pandangan ini menjadi sejalan dengan apa yang pernah dikatakan almarhum PM Rajiv Gandhi yang mengatakan bahwa terlebih baik menjadi penyalur otak-otak cemerlang daripada otak-otak itu hanya tinggal di saluran.

Menjadi Korotif

Pandangan ini masuk akal daripada otak-otak itu menjadi korotif, sehingga matilah kemampuan produktifitasnya, sehingga yang bisa terjadi selanjutnya adalah kemiskinan para pemilik kekayaan intelektual dan menjadi kehilangan kepercayaan diri bahwa dengan kekayaan intelektual tidak menjamin dapat bertransformasi menjadi pemilik kekayaan yang bersifat material.

Karena itu, sumbatan tersebut harus dikanalisasi oleh kebijakan pemerintah dengan cara membuat inovasi kebijakan.

Semua kemajuan di masyarakat, apakah itu masyarakat biasa, masyarakat intelektual ataupun masyarakat ekonomi dan industri datangnya dari kemurahan hati dan kebijakan dan kebijaksanaan para pemimpinnya. Mereka mengharapkan hasil-hasil yang baik dan terbaik dari keputusan yang diambil secara top down, dan kemudian secara bottom up masyarakat-masyarakat tadi harus meresponnya.

Adam Smith pernah mengatakan bahwa kebebasan yang diberikan kepada setiap individu untuk menjual tenaganya atau dirinya atau menginvestasikan modalnya (baik berupa modal intelektual maupun modal material) adalah pendorong utama pertumbuhan ekonomi.

Apa yang penulis sampaikan ini hanyalah sekedar agar kekayaan intelektual yang kita miliki dapat kita gunakan secara maksimal untuk menyiasati tantangan-tantangan baru yang ada dan nyata di dalam perjalanan kita ke depan.

Kemudian Jhon Maynard Keynes, pakar ekonomi Inggris (1883-1946) mengatakan bahwa letak kesulitannya tidak pada bagaimana menyambut ide-ide baru, tetapi bagaimana kita keluar dari ide-ide lama yang bercabang-cabang dan kian membesar menyergap ke dalam sudut-sudut kesadaran kita. (penulis adalah pemerhati ekonomi dan industri, tinggal di Jakarta)

Berita Terkait

Komentar

Komentar