BW Tidak Naik-naik Tangga Tuh…

Oleh: Fauzi Aziz

Ilustrasi

Ilustrasi

KAPAN ya, Bung Abraham Samad, Ketua KPK dan institusinya mengumumkan tersangka kelas kakap kasus korupsi proyek Hambalang dan kasus yang lain. Yang pasti bukan menghitung hari lagi, tetapi omdo (omong doank). Bukan tinggal menghitung hari lagi judulnya, tapi “Hari-hari Terus Berputar” judul lagunya Bung Abraham.

Lain lagi judul atau teorinya Bung BW, naik tangga itu dari bawah, tapi nyatanya tidak naik-naik juga, karena begitu lihat apa yang di atas, rupanya Bung BW langsung kena vertigo, sehingga akhirnya dia ketemu juga dengan judul “Hari-hari Terus Berputar”. Walah-walah terlalu banyak ngomong sih. Mengemban tugas pemberantasan korupsi memang tidak ringan. Duri-onaknya berserakan di mana-mana. Konflik kepentingan juga sangat kuat.

Siapa sih yang mau disebut dirinya koruptor? Siapa pun akan mati-matian menolak kalau seseorang diduga kuat melakukan korupsi. Sudah ditetapkan jadi tersangka saja masih terus berkelit bahwa dirinya tidak melakukan korupsi. Malah masih bisa mengatakan yang berbuat itu anak buahnya.

Bung Abraham, Bung Bambang, Bung Busro, dan lain-lain. Jangan berpolemik terus soal penanganan kasus korupsi di KPK. Tidak usah ikut-ikutan membangun personal branding Anda berlima di KPK, yang penting adalah legacy bukan membangun image. Image akan datang dengan sendirinya kalau kerja pimpinan KPK dapat secara nyata menghasilkan legacy, karena banyak perkara korupsi yang berhasil ditangani dengan baik sampai ke penuntutan.

Masyarakat hanya butuh itu, tidak butuh menghitung hari dan tidak butuh juga naik tangga. Ibarat makan di resto, masyarakat hanya butuh hasil masakan yang ditawarkan, bukan mau tahu bagaimana proses masaknya. Pimpinan KPK selama ini suka sekali menjelaskan hal-hal yang bersifat proses, padahal publik hanya butuh hasilnya.

Itulah legacy. Buat apa proses dijelas-jelaskan kepada publik, wong publik tidak butuh itu. Mengerti juga kagak. Apalagi kalau sudah masuk di acaranya Bung Karni Ilyas, Indonesia Lawyers Club (ILC), masyarakat tidak dapat value apa-apa dari diskusi di klub itu, kecuali hanya sebuah kata-kata bijak yang sering diungkapkan oleh moderator di akhir acara. Moderator kadang-kadang bertindak seperti jaksa, seperti juga penyidik.

Sorry Bung Karni, terus terang muak lihat diskusi ILC. Kalau bisa diperbaikilah format diskusinya agar lebih mencerahkan bagi awam. Diskusinya sebaiknya bukan membahas kasus, tetapi lebih tepat membahas bagaimana pembangunan hukum di negeri ini menjadi lebih baik.

Soal penanganan korupsi oleh KPK, opini ini hanya berharap agar KPK jangan lagi mengobral judul dan berteori dan tidak usah terus-terusan menjelaskan tentang proses, nanti kalau diulang-ulang bisa “gosong” dan hasilnya tidak bisa dinikmati oleh bangsa ini dalam penanganan korupsi.

Kita tunggu Bung Abraham, please bekerja dengan baik. Kita tunggu hasil kerja Anda di KPK dan jangan lagi masyarakat atau media diminta mengingat-ingat judul lagu. Publik lebih senang kalau KPK bisa meninggalkan legacy sebagai lembaga penegak hukum yang kredibel, dan itu yang akan dikenang oleh publik, bukan judul lagu, dan bukan pula diajari naik tangga atau teori makan bubur panas. ***

Berita Terkait

Komentar

Komentar