Cina Bangkit Bak Raksasa yang Siap Memangsa Siapa Saja

Oleh: Fauzi Azis

 

 

PERTAMA, AS dan Cina wis podo gedene yang dalam peta geopolitik sebenarnya berteman baik, karena mereka saling memandang penting untuk bisa bekerja sama. Tapi kita berhak cemas karena mereka bisa saja perang, baik perang dingin maupun perang proxi berebut pengaruh, perang dagang dan boleh jadi perang militer.

Sekarang ini sebenarnya sudah terjadi perang dingin di seputar virus covid-19 yang rada panas. Sebelum ini mereka perang dagang, tidak ada yang menang dan tidak ada yang kalah. Menjalankan perang proxi berebut pengaruh di berbagai belahan dunia yang dianggap strategis sudah lama berjalan. Hanya perang militer saja yang belum, Mudah-mudahan tidak akan terjadi.

KEDUA, kedua negara ini sama-sama menjalankan politik hegemoni sesuai caranya masing-masing. Keduanya hari ini adalah penjaga untuk menciptakan stabilitas ekonomi global yang secara geopolitik dan geokonomi memang merekalah yang pantas memimpin.

Peran Eropa pada dasarnya secara de facto sudah digantikan oleh China dilihat dari peta geopolitik dan geoekonomi global saat ini.

KETIGA, modernitas China dibangun dengan mengandalkan 4 pilar utama, yakni pertanian, industri, ilmu pengetahuan dan teknologi, serta militer. Dalam banyak textbook dikatakan bahwa prasyarat untuk menjadi kekuatan hegemoni, termasuk kemampuan sebagai pemimpin sebuah Imperium formal maupun informal adalah kekuatan ekonomi. Dalam jangka panjang setidak-tidaknya begitu.

China sudah berhasil meraihnya. sejak Reformasi ekonomi dimulai pada tahun 1978 yang dipimpin oleh Deng Xioping. Kejayaannya mulai meledak  tahun 199 dan yang tragis sejak virus covid-19 menjadi pandemi global yang penyebarannya dari Wuhan, kini diprediksi pertumbuhan ekonomi China akan  negatif menjadi minus 6,8% tahun 2020.

Mengerikan kata Sri Mulyani, Menkeu RI dalam pemberitaan nasional. 28 tahun menikmati kebangkita dan kini harus menelan pil pahit karena mengalami kontraksi cukup dalam. Jika benar, maka dampak globalnya pasti sistemik.

Negara Peradaban

KEEMPAT, kata Paul Kenedy, penulis buku The Rise anda Fall of the Great Powers mengatakan bahwa kekuatan mililiter dan politik bertumpu pada kekuatan ekonomi. Kemampuan negara-negara untuk menerapkan  dan mempertahankan hegemoni global pada akhirnya bergantung pada kapasitas produktif mereka.

Kita melihat, baik AS maupun China sama produktifnya dan keduanya juga berhak menyandang sebagai negara peradaban selain juga sebagai negara bangsa. Hanya saja perjalanan sejarah-nya tidak sama, yang sama adalah butuh waktu yang panjang untuk bisa sampai menjadi negara peradaban.

Yang sama keduanya membangun hegemoni dan sama keduanya ingin menjadi negara berpengaruh terhadap negara-negara lain. Berdua kini menjadi super power yang senang bermain api dengan caranya masing masing. Negara lain hanya bisa menonton dari kejauhan. Sekali terjadi lighting bolt, percikan api dan sengatan listriknya bisa meluas kemana-mana, membakar sistem politik dan ekonomi di negara-negara di berbagai kawasan

KELIMA, dalam sejarah kita mencatat bahwa status adikuasa AS adalah hasil pertumbuhan pesat ekonominya antara tahun 1870 hingga 1950. Fakta ini menunjukkan bahwa selama paruh kedua abad 20, AS adalah negara dengan perekonomian terbesar dan tumbuh sangat dinamis. Kekuatan ekonomi ini menopang dan memungkinkan tampilnya kekuatan politik, budaya dan militer mencengangkan sejak tahun 1945. Kekuasaan dan kekuatannya yang sangat besar banyak negara berpaling ke AS untuk mendapatkan bantuan dan dukungan. Dolar AS menjadi mata uang utama dunia hingga kini.

Sebagian besar cadangan devisa disimpan dalam mata uang dolar AS hingga saat ini. AS mendominasi semua lembaga global utama, kecuali PBB dan menempatkan kekuatan militernya di setiap sudut dunia. AS selalu berupaya mempertahankan kepeminpinan militernya atas negara-negara lain guna mencegah munculnya pesaing -pesaing potensialnya. AS lebih mementingkan upayanya mengejar kepentingan-kepentingannya daripada menghormati sekutu-sekutunya maupun, berbagai perjanjian internasional.

KEENAM, ada pendapat menarik bahwa kekuatan-kekuatan imperial tidak akan abadi. De facto AS di abad ini sejatinya sedang surut dan berada di ambang sebuah dunia dimana kewenangannya mulai menyusut, dan di saat yang sama bangkit China sebagai kekuatan adidaya baru dan posisinya relatif berimbang.

Keruntuhan finansial tahun 2008 semakin meyakinkan dan banyak pengamat AS berpendapat bahwa negeri paman Sam itu mungkin sedang merosot. Namun belum melahirkan pengakuan umum tentang cakupan dan kemutlakan kemerosotan itu, dan bagaimana hal tersebut  akan mengikis kekuatan dan pengaruh AS dimasa depan.

KETUJUH, AS sejatinya tengah mulai menghadapi problem klasik Imperium besar pasak daripada tiang. Beban pemeliharaan kehadiran militernya di 80 pangkalan militer di seluruh dunia merupakan salah satu sebab defisit AS, yang pada tahun 2006 mencapai 6,5% GDP AS. Banyak meramalkan bahwa dimasa mendatang, perekonomian AS akan semakin sulit menopang komitmen militer semacam itu. AS sudah tidak lagi merupakan produsen utama atau eksportir besar produk manufaktur. Posisinya terus menerus diambil oleh China dan inilah di era Trump dilawan dengan perang dagang. AS terus tampil melebihi kesanggupannya. Belanja pemerintahnya besar pasak daripada tiang. Rakyatnya setali tiga uang dan sejak tahun 1982, negara itu membeli lebih banyak dari negara lain, dari apa yang dapat dia jual ke negara lain. Timbul defisit transaksi berjalan dalam jumlah besar dan pembengkakan volume utangnya. Daya saing menurun dan belanjanya makin besar.

KEDELAPAN, China bangkit bak raksasa yang siap memangsa siapa saja. Banyak ahli mengatakan bahwa China pembelajar yang ulet. Deng Xiaoping, Jiang Zemin dan Hu Jintau mengubah China dari sebuah negara primitif dan tidak bersemangat menjadi ekonomi terbesar kedua di dunia setelah AS.

Semboyannya adalah tak peduli apakah kucing itu hitam atau putih, yang penting ia dapat menangkap tikus. Kini China hebat berkat 4 pilar modernitas yang dicanangkan sejak Reformasi Ekonomi 1978. Kinerja perekonomiannya telah membuat GDP membengkak, berikut surplus perdagangan yang besar dan berhasil menggelembungkan cadangan devisanya. Sebagian dari cadangan devisanya diinvestasikan ke Sovereign Wealth Fund yang langsung dikontrol oleh negara.Lembaga ini memperoleh kekuatan baru berkat krisis kredit 2008 di AS. Rontoknya sebagian lembaga finansial di wall street pada September 2008 menggarisbawahi pergeseran kekuatan ekonomi dari Barat ke Timur. China menjadi nasabah penting dari dua raksasa hipotek  Freddie Mac dan Fannie Mac yang nyaris colaps. Pemerintah AS berusaha menyelamatkan dua bank investasi tersebut dan jika China menarik dananya hampir dapat dipastikan mempercepat jatuhnya nilai dolar AS. Dalam kasus ini, China telah menyelanatkan ekonomi AS dari kejatuhan pada krisis 2008.

KESEMBILAN, krisis finansial itu, menggambarkan dengan nyata telah terjadi disparitas antara sebuah Asia Timur, terutama China yang kaya dana tunai berkat beberapa dasawarsa mengalami surplus perdagangan yang sangat besar, dan AS yang “miskin” dana tunai menyusul bertahun-tahun mengalami defisit.

Yang membuat hati panas bagi AS adalah ketika banyak pemerhati tentang Reformasi Ekonomi dan Kebangkitan ekonomi China dengan kalimat yang provokatif  mengatakan bahwa ketika AS mengalami kemunduran ekonomi, China hadir menjadi pemasok, kreditor, sekaligus investor dan banker untuk konsumen AS.

Melakukan Proteksi

KESEPULUH fakta mencatat bahwa pemerintah AS yang mengalami defisit neraca perdagangan, neraca pembayaran, dan defisit APBN-nya. Kan puyeng kalau sudah begini. Dan kemudian fakta ini diakui AS tatkala menunjukkan sikap asertifnya dan secara unilateral menyatakan kepada dunia bahwa demi pengamanan dan penyelamatan ekonomi dalam negeri AS,

Trump melakukan proteksi dengan slogannya America First. Melakukan perang dagang dengan China dan akibatnya jelas pertumbuhan ekonomi global melambat. Perang dagang AS -China menimbulkan lighting bolt atau ledakan petir yang aliran listriknya menyentak dan hampir semua negara merasakan dampaknya.

Kini mereka perang dingin soal virus covid19 yang konteksnya cukup menimbulkan suasana panas dalam peta geopolitik dan ge-ekonomi yang tentu menarik untuk dikuti perkembanganya.

KESEBELAS, dari lintasan berita yang sudah lewat ada beberapa catatan penting sekedar untuk diketahui, yakni 1).China mulai rajin memborong emas jauh lebih cepat. Targetnya 15 ton per bulan. Langkah ini diikuti oleh Russia, Qatar, Kolombia, dan Filipina. 2) Langkah ini ditempuh sembari melepas US Treasury.

US treasury ini adalah semacam deposito yang layak dikoleksi untuk untuk menjaga nilai aset negara pemegangnya yang diperoleh dari, berbagai sumber, terutama dari devisa hasil ekspor. 3) Inilah yang menjadikan keunggulan dolar AS terus tejaga terhadap mata uang negara-negara di dunia.

4). China dan Russia lebih suka memborong emas ketimbang memborong aset obligasi AS. Dalam lintasan pemberitaan di media pernah diberitakan bahwa pegang obligasi AS senilai USD 1,11 triliun. 5). Kini santer diberitakan bahwa ekonomi China diprediksi mengalami kontraksi cukup dalam yaitu minus 6,8%.Artinya terjadi krisis ekonomi di negeri panda putih tersebut.

KEDUABELAS,siapa yang bisa membailout China? Barangkali dirinya sendiri sanggup mengatasinya karena cadangannya sangat besar. Boleh jadi akan menarik US treasury dan melepas obligasi AS. Mungkin bisa juga menarik sedikit pinjaman dari luar.

Di berbagai pemberitaan juga pernah diwartakan bahwa China juga punya utang yang nilainya sekitar 15%dari total utang global. Inilah dunia global hingga hari ini, pantas saja Sri Mulyani mengatakan, jika benar ekonomi China akan mengalami krisis adalah sesuatu yang “mengerikan”.

Penulis hanya bisa tebak-tebakan manggis mengapa mengerikan. Karena ekonomi AS juga akan” rontok”, dunia akan  terkena imbasnya dan inilah krisis ekonomi global. Cost recovery pasti mahal karena suku bunga global akan menjadi mahal karena peminat dana bailout sudah antri. Sudah 100 negara mendaftar ke IMF untuk ditalangi dana pembiayaan darurat. Yang panen siapa?  AS dan The Fed karena lembaga ini akan melakukan quantitative easing dengan mencetak dolar AS, kemudian IMF akan menyalurkan dana bailout ke negara-negara yang membutuhkan. (penulis seorang pengamat ekonomi dan keuangan, timgal di Jakarta)

 

Berita Terkait

Komentar

Komentar