Defisit Transaksi Berjalan Triwulan I 2015 Menurun

defisit-transaksi

JAKARTA, (tubasmedia.com) – Bank Indonesia merilis laporan Defisit Transaksi Berjalan Triwulan I 2015 yang menurun. Penurnan ini terutama didorong oleh menurunnya defisit neraca migas. Defisit transaksi berjalan turun dari US$5,7 miliar (2,6% PDB) pada triwulan IV 2014 menjadi US$3,8 miliar (1,8% PDB) di triwulan I 2015. Defisit tersebut juga lebih rendah dari defisit pada triwulan yang sama pada 2014 sebesar US$4,1 miliar (1,9% PDB).

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Tirta Sagara menjelaskan, peningkatan kinerja transaksi berjalan terutama ditopang oleh perbaikan neraca perdagangan migas seiring dengan menyusutnya impor minyak. “Karena harga minyak dunia yang lebih rendah dan turunnya konsumsi bahan bakar minyak (BBM) sebagai dampak positif dari reformasi subsidi yang ditempuh Pemerintah,” kata Tirta, Senin (18/5/15).

Di sisi nonmigas, surplus neraca perdagangan nonmigas tercatat lebih rendah akibat turunnya ekspor nonmigas (-8,0% yoy) seiring dengan dalamnya penurunan harga komoditas, meskipun impor nonmigas juga mencatat penurunan -3,7% (yoy) di tengah pertumbuhan ekonomi domestik yang melambat.

Perbaikan kinerja transaksi berjalan juga disumbang oleh berkurangnya defisit neraca jasa mengikuti turunnya impor barang, berkurangnya pengeluaran wisatawan nasional selama berkunjung ke luar negeri, dan turunnya neraca pendapatan primer seiring dengan pola musimannya.

Sementara itu, di tengah meningkatnya ketidakpastian di pasar keuangan global, Transaksi Modal dan Finansial triwulan I 2015 tetap surplus. Surplus transaksi modal dan finansial pada triwulan I 2015 mencapai US$5,9 miliar, terutama ditopang oleh aliran masuk modal asing dalam bentuk investasi portofolio dan investasi langsung.

Pada investasi portofolio, investor asing tercatat melakukan net jual atas surat berharga berdenominasi rupiah pada Maret 2015 akibat meningkatnya ketidakpastian di pasar keuangan global. Namun secara akumulatif aliran masuk modal portofolio asing pada triwulan I 2015 mencapai US$8,4 miliar, jauh lebih besar dari inflow pada triwulan IV 2014 sebesar US$62 juta.

“Derasnya inflow pada triwulan I 2015 tersebut tidak hanya bersumber dari penerbitan surat berharga global oleh Pemerintah, namun juga karena masih kuatnya pembelian investor asing terhadap surat berharga negara berdenominasi rupiah dan saham pada periode Januari-Februari 2015,” jelas Tirta.

Namun demikian, surplus transaksi modal dan finansial triwulan I 2015 lebih rendah dibandingkan dengan surplus triwulan sebelumnya yang mencapai US$8,9 miliar terutama karena meningkatnya penempatan simpanan sektor swasta di luar negeri dan penarikan pinjaman luar negeri swasta yang lebih rendah.

Perbaikan transaksi berjalan dan surplus transaksi modal dan finansial menyebabkan Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) triwulan I 2015 secara keseluruhan surplus. NPI triwulan I 2015 mencatat surplus sebesar US$1,3 miliar. Dengan perkembangan tersebut, posisi cadangan devisa pada akhir Maret 2015 tercatat sebesar US$111,6 miliar. Jumlah cadangan devisa ini cukup untuk membiayai kebutuhan pembayaran impor dan utang luar negeri Pemerintah selama 6,6 bulan dan berada di atas standar kecukupan internasional.

Ke depan, Bank Indonesia akan terus mewaspadai risiko peningkatan defisit transaksi berjalan seiring kenaikan impor menjelang lebaran, serta pola musiman pembayaran Utang Luar Negeri dan dividen. Di samping itu, Bank Indonesia terus mencermati risiko eksternal dan domestik lainnya yang dapat mengganggu upaya untuk mengarahkan defisit transaksi berjalan ke tingkat yang lebih sehat.

“Dalam jangka menengah-panjang, Bank Indonesia berkeyakinan kinerja NPI akan semakin sehat sejalan dengan bauran kebijakan moneter dan makroprudensial yang ditempuh Bank Indonesia serta penguatan koordinasi kebijakan dengan Pemerintah dalam pengendalian inflasi dan defisit transaksi berjalan serta mendorong percepatan reformasi struktural,” tutup Tirta. (angga)

Berita Terkait

Komentar

Komentar