Deng Xiaoping Tokoh Reformasi Ekonomi China Hingga Menjadi Raksasa yang Ekspansif dan Hegemonik

Oleh: Fauzi Aziz

 

PERTAMA, tentang kebangkitan China, semua sudah faham. Tokoh di balik itu adalah Deng Xiaoping. Deng mendapat julukan sebagai bapak China modern yang sejak awal menciptakan pendekatan cara pandangnya  untuk menyehatkan kembali China yang sakit.

Pendekatan yang ia gagas juga menimbulkan pro kontra, baik di dalam maupun di luar China. Kata-kata mutiara Deng yang populer adalah “Tidak Peduli Apakah Kucing Itu Hitam Atau Putih, Yang Penting Dia Dapat Menangkap Tikus”.

KEDUA, sedikit disampaikan bahwa tidak mudah menjelaskan sistem baru politik dan ekonomi China. Namun yang kita tahu adalah para pemimpin China membuat semacam ” kesepakatan bahwa pendekatan itu mereka sebut” sosialisme dengan karakter china. Ada juga yang menyebut kapitalisme china, atau ekonomi pasar sosialis.

Semua rumusan itu mereka sepakati dengan memerhatikan  pemikiran yang dianggap baik,antara lain dari Thomas Kuhn yang mengatakan bahwa anda tidak dapat memahami paradigma baru dengan memakai kosakata paradigma lama. Semakin terbentuk paradigma baru, semakin muncul kosakata yang tepat.

Seiring munculnya kosakata baru, konsep dari partai Komunis juga berubah. Kekuasaan pemimpin tetap, tetapi kendali idiologi kian tergantikan oleh hukum dan peraturan, yang disesuaikan dengan standar internasional.

KETIGA, itulah sepenggal kisah menuju modernitas China. Dari banyak textbook yang dapat kita baca ada sebuah kesimpulan bahwa China adalah bangsa pembelajar yang ulet dan paling rajin di dunia. Ketika Kishore Mahbubani membahas tema “Mengapa Asia Bangkit”, pada sub bahasan ” Ekonomi Pasar Bebas ada ulasan menarik dari beliau, yaitu bahwa :1).Rakyat China sudah jelas termasuk masyarakat yang paling rajin dan ulet di dunia. 2). Lihat saja, sukses  luar biasa etnis China perantauan di setiap negara yang mereka masuki, di banding dengan rendahnya produktifitas orang China di negerinya sendiri. 3). Inilah yang memperkuat dugaan Deng Xiaoping bahwa China selama ini mengadopsi sistem ekonomi yang salah, yakni cara-cara produksi Marxisme-Leninisme,tapi tidak pernah mau menyebut Maoisme.

KEEMPAT, pada tahun 1978, Deng Xiaoping meluncurkan Empat Program Modernisasi, yaitu modernisasi bidang pertanian, industri, sains dan teknologi, dan militer. Ketika 1979 Deng meluncurkan Reformasi Ekonomi, maka kita dapat menyaksikan,Deng langsung membuat proyek raksasa untuk mengubah Shenzhen sebuah desa nelayan menjadi Zona Ekonomi Eksklusif yang dekat dengan Hongkong pada tahun 1980. Satu contoh keberhasilan Shenzhen adalah bahwa dari kawasan ZEE tersebut pada awal perkembangannya, ekspor China dari Shenzhen mencapai USD 101,5 miliar pada tahun 2005 atau sekitar 13% dari ekspor China. Secara keseluruhan, ekonomi Shenzhen tumbuh 126 kali lipat jauh lebih cepat dari Singapura, dan menjadi satu-satunya kawasan dengan pertumbuhan cepat di dunia. Shenzhen menjadi salah satu dari 4 kota pelabuhan kontainer tersibuk di dunia, dan bandara tersibuk keempat di China.

KELIMA, ketika Deng Xiaoping berkunjung ke AS pada tahun 1979,ia diajak ke pabrik Ford di luar Atlanta. Yang dikatakan bahwa Ford memproduksi lebih banyak mobil di pabrik itu dalam sebulan dibandingkan semua yang diproduksi di China dalam setahun. Dalam kunjungan tersebut Deng langsung berujar bahwa kami ingin belajar dari anda.Kemudian, koresponden Die Zeit, di Beijing, Frank Sieren, menunjukkan gambar mobil China berharga sekitar USD 5,OOO dengan 4 pintu, sistem navigasi, dan balon udara – dibayar di kasir Wal Mart. Tidak ada presentasi yang mewah, tidak ada ruang pamer, dan sistem distribusi yang ramping, dan pengiriman setiap jumat di tempat parkir. Begitu ilustrasi bangsa pembelajar selalu bermimpi untuk menjadi lebih baik dan unggul di masa depan.

KEENAM, dari kisah perjalanan itu, ada beberapa catatan penting yang disampaikan mengapa China harus banyak belajar atau melakukan pembelajaran dengan negara lain yang sudah lebih maju. Di antaranya ada beberapa jejak rekam menarik disimak, yakni:  1).Meskipun semua itu mengarah pada prospek ekonomi yang optimistis seperti digambarkan selintas di awal kebangkitan ekonomi, China masih harus menghadapi dan menyelesaikan berbagai masalah internal yang nyata. 2). Fakta yang diungkapkan antara lain:  a). kemajuan ekonomi China dihasilkan dengan biaya sumber daya dan lingkungan yang terlalu besar. b). Ada ketimpangan pembangunan antar wilayah kota dan pedesaan, antar daerah, serta antara ekonomi dan masyarakat. c) Menciptakan pertumbuhan yang mantab di sektor pertanian dan meningkatkan pendapatan petani menjadi kian sulit. d). Masih banyak masalah yang terkait dengan lapangan kerja, jaminan sosial, distribusi pendapatan, pendidikan, kesehatan masyarakat, perumahan, keselamatan kerja, penegakkan hukum dan ketertiban umum dsb. e). Penelitian dan riset mendalam belum dilakukan untuk beberapa isu praktis mengenai reformasi pembangunan dan stabilitas. f). Beberapa kader elit partai kurang jujur dan berterus terang. g) Birokrasi mereka terlalu kaku, hidup mewah, boros, korup, serta perilaku tidak terpuji lainnya masih menjadi masalah serius di China.

KETUJUH, satu hal meskipun ekonomi sudah mulai bangkit, ternyata masih tersimpan sebuah kesadaran bahwa kemajuan ekonomi China yang dimulai tahun 1978/1979 adalah baru setengah jalan. Sehingga China perlu banyak melakukan koreksi, perbaikan, dan terbuka dengan semua teori atau praktek yang bermanfaat bagi Reformasi ekonomi China. Pembelajaran menjadi salah satu aset terbesar China. Keyakinan ini pula yang membentuk China menjadi masyarakat pembelajar. Tepat bila arah modernisasi yang dicanangkan Deng Xiaoping berpijak pada empat pilar, yakni modernisasi pertanian, industri, sains dan teknologi serta militer.

KEDELAPAN, konsistensi dan estafet jalannya roda pembangunan selalu menjadi ciri menonjol gaya kepemimpinan China. Ketika rezim Hu Jintao berkuasa, maka dalam pidato di Konggres Nasional ke 17 di Beijing, bulan Oktober 2007,ada pernyataan menarik yang disampaikan yakni bahwa Barat masih di depan China harus diakui apa adanya. Namun, kini China sudah menjadi pesaing setara di pasar global dan tengah menciptakan model tandingan bagi demokrasi modern Barat, yang sesuai dengan sejarah dan masyarakat China; seperti halnya AS menciptakan model yang sesuai dengan sejarah dan masyarakatnya lebih dari 200 tahun yang lalu.Dua Sistem Diametris.Rajawali AS Bertemu Panda Kung Fu.

Fakta yang kita kenali adalah China tetap Komunis,bukan negara demokrasi,tapi China mendorong emansipasi dan partisipasi rakyatnya.China mengedepankan strategi top down didukung oleh partisipasi bottom up.Mereka bermitra,tapi juga berseteru.Sekarang China dipimpin oleh XiJinping, dan AS dipimpin Donald Trump. Gara-gara covid-19 hubungan mereka memanas. Tiga ancaman perang diviralkan, yaitu perang dagang, perang curency, dan perang militer. Wabah covid-19 dijadikan faktor pemicu. Dan jika benar terjadi, maka peradaban modern akan berakhir. Jika Tuhan berkehendak, maka boleh jadi akan lahir peradaban baru ultra modern atau boleh jadi berhenti sampai disitu saja. Menjadi ingat lagi ungkapan filsuf Guisppe Garibaldi yang menyatakan bahwa kekuatan teknologi yang canggih dan diikuti oleh kekuatan industri maju dan modern akan menjadi penghancur kehidupan di bumi manakala semua dikelola dengan nafsu serakah dan kesombongan.

KESEMBILAN, di Asia jelas bahwa China adalah “the president of Asia. Pasti hegemonik dan ekspansif. Inisiasi Belt and Road adalah proyek konektifitas darat dan laut yang dibangun dengan dukungan AIIB. Asia adalah tempat bagian terbesar penduduk dunia berdiam. Pernah dan telah memberi sumbangan terbesarnya pada ekonomi dunia. Kapitalisme China yang tetap Komunis, kini menjadi raksasa keuangan global sehingga mereka menjadi pemasok barang dan jasa, modal, teknologi dan bahkan tenaga kerja untuk dunia.

KESEPULUH,China kini telah menjadi laboratorium hidup yang sangat baik dan nyata untuk mempelajari dampak prinsip-prinsip ekonomi pasar bebas. Atau tentang praktek kapitalisme China atau ekonomi pasar sosialis. Pendek kata, New the great leap forwardnya telah mengubah arsitektur ekonomi China menjadi kekuatan ekonomi dunia setara dengan AS saat ini.Kedua raksasa ini kini juga menderita karena covid-19. Secara ekonomi praktis dibuat tidak berkutik oleh covid-19. Beban China menjadi berat karena hampir semua negara debitur China minta restrukturisasi utangnya. Apa termasuk Indonesia ?, hanya rumput bergoyang yang tahu. Yang kita tahu ngutangnya tambah kenceng lajunya. Dunia kini prihatin karena  covid-19 yang belum dihasilkan anti virus dan obatnya. Pun demikian juga menghadapi ancaman gelombang PHK besar-besaran di seluruh dunia.

KESEBELAS, apakah China yang digdaya posisinya baik baik saja. Tentu tidak juga karena China hidup di tengah lingkungan ekonomi global yang kini tengah sakit, termasuk yang dipicu oleh wabah covid-19 yang menjadi pandemi global. IIF dan Reuters tahun 2019 pernah merilis data menarik. Utang China hingga triwulan I/2019 sudah mencapai sekitar 300% dari GDBnya. Ekonominya tumbuh 6,2% pada kuartal  kedua 2019,terendah sejak 27 tahun lalu. Total utang China sekitar USD 40 triliun atau sekitar 15 % dari total utang global yang dirilis oleh sumber yang sama. Menghadapi situasi sulit seperti sekarang ini, China juga terancam krisis. Upaya yang dilakukan berada di sekitar upaya mendorong konsumsi dan investasi dalam negeri, melindungi lapangan kerja, dan mendorong kredit perbankan lebih tinggi untuk UMKM dengan bunga serendah mungkin. Memangkas pajak dan menggelontorkan belanja infrastruktur. China mampu melakukan itu semua karena memiliki tabungan dan cadangan sangat besar untuk memberikan stimulus ekonomi di dalam negerinya. Paling tidak mampu mem-bailout dirinya sendiri.Kok mirip Indonesia atau Indonesia yang copas China. Tidak apa-apa kalau memang sama karena Indonesia juga harus bisa menjadi pembelajar yang ulet dan rajin agar bisa menjadi mandiri mengurus ekonominya di masa depan agar terbebas menjadi “sapi perahan”kapitalisme global. (penulis pemerhati ekonomi dan keuangan, tinggal di Jakarta)

 

Humbanghas
Humbanghas

Berita Terkait

Komentar

Komentar