Depok Bangun Sekolah Terbuka Berbasis Keterampilan

Laporan : Redaksi

ilustrasi

ilustrasi

DEPOK, (TubasMedia.Com) – Pemerintah Kota Depok akhirnya mencarikan solusi untuk rencana penggusuran Sekolah Masjid Terminal (Master) atau Pusat Kegiatan Belajar Mengajar (PKBM) Yayasan Bina Insan Mandiri. Isu tersebut muncul lantaran Pemkot Depok akan membangun kawasan terminal terpadu yang terkoneksi dengan Stasiun Depok Baru.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Depok, Herry Pansila mengatakan, sekolah Master akan menjadi sekolah pencontohan terbuka menggunakan kurikulum 2013 berbasis keterampilan. Herry menyatakan, dengan berbasis keterampilan, maka diharapkan para lulusan sekolah master, siap berkompetisi dan bekerja.

“Tahun 2006, Master menjadi SMA terbuka pertama di Indonesia. Sekarang akan menjadi percontohan sekolah terbuka berbasis keterampilan,” katanya, hari Minggu, 21/07/13.

Ia mengklaim bahwa Depok merupakan daerah pertama yang menerapkan daya tampung 20 persen siswa tak mampu di setiap sekolah. Sekolah Master berawal dari Pusat Kegiatan Belajar (PKB) untuk tingkat SMP pada tahun 1996.

“Wilayah lain belum ada. Surabaya baru 10 persen. Depok salah satu kota peduli wong cilik. Wali Kota Depok pun memberikan beasiswa enam Master ke perguruan tinggi ,” ujarnya.
Para siswa Master selama ini difasilitasi sekolah di SMPN 4 dan sebagian di SMPN 2. Para siswanya pun berijazah sekolah negeri. Kemudian pada tahun 2003, Pemkot Depok memberikan izin operasional PKBM sekolah Master.

“Tahun 2006, beroperasi SMA terbuka. Para siswanya bersekolah di SMAN 5. Tahun 2011, siswa SMA Master juga bersekolah di SMAN 4. Kami akan perbanyak sekolah terbuka di Depok, dan Master ini menjadi percontohan,” ungkapnya.

Ketua Yayasan PKBM Bina Insan Mandiri yang juga pendiri Sekolah Master, Nur Rohim membenarkan hal itu. Ia menambahkan, dengan kurikulum 2013 berbasis keterampilan itu diharapkan siswa Master memiliki keahlian, akhlak dan moral yang baik. Di antaranya keterampilan desain grafis, sablon, dan perbengkelan.

“Ini merupakan pengembangan kewirausahawan. Saya juga akan dipanggil Bappenas. Mereka berkonsultasi masalah pendidikan. Mereka heran dengan metode pendidikan kami. Dan banyak siswa kami yang diterima di universitas negeri,” paparnya. (red/anthon)

Topik :

Berita Terkait

Komentar

Komentar