Desaku yang Permai…

Oleh: Fauzi Aziz

Fauzi Aziz

Fauzi Aziz

DESAKU yang kucinta, pujaannya hatiku. Tempat ayah dan bunda dan handai tolanku….. Begitu indah syair lagu tersebut, desah nada dan suaranya sangat menggugah rasa rindu yang dalam bagi kita yang lahir di desa. Penuh suasana persaudaraan dan persahabatan nan elok dipandang.

Sangat natural dan cair suasana cara menciptakan harmoni kehidupan. Pagi hari kita dibangunkan oleh suara ayam jantan berkokok dan udara yang menyegarkan penuh dengan oksigen. Malam hari di saat kita mulai di peraduan, terdengar sayup nyanyian sang kodok ngorek di persawahan nan hijau dan bebunyian jangkrik, belalang dan nong eret.

Namun suasana desa permai itu, kini tak nampak lagi. Harmoni pudar, aset penduduk desa berupa tanah, sawah dan kebon jumlahnya makin sedikit karena dieksploitasi habis oleh kapitalisme kota.

Hidup orang desa menjadi serba marginal karena sumber penopang kehidupan sudah disedot habis oleh ekonomi uang yang tak kenal apa itu harmoni. Di tempat ayah dan bunda serta handai tolan itu sudah membuat hidup di desa menjadi susah dan rentan. Bercocok tanam sudah nggak mungkin, pindah ke kota tak bisa berbuat banyak dan akhirnya menjadi beban kehidupan kota.

Sistem ekonomi kapitalis telah memporak-porandakan kehidupan desa permai. Kesenjangan makin melebar tanpa pernah bisa diatasi. Desa menjadi sumber “kemiskinan”, padahal desa itu sumber “kekayaan”. Desa adalah pusat produksi pangan, holtikultura (sayur dan buah), ikan darat di empang dan sumber oksigen.

Undang-undang tentang desa yang tidak beres-beres di DPR, jangan berharap banyak akan bisa mengembalikan desaku yang permai. UU desa semangatnya lebih berorientasi pada upaya membangun sistem kelembagaan. Desa sekarang adalah menjadi bantalan politik dan bukan lagi menjadi sumber pencipta kekayaan desa.

Harmoni secara sadar dicabik-cabik sampai terjadi fragmentasi kehidupan yang bantalannya adalah politik. Ibaratnya ada desa biru, desa hijau, desa kuning dsb. Masyarakatnya menjadi dieksploiasi oleh mesin politik si biru, si kuning dansi hijau untuk kekuasaan, bukan membangun kesejahteraan dan kemakmuran.

Konsep pembangunan pedesaan masih kita dengar sih, tapi desa hanya menjadi “obyek”, bungkusnya saja pemberdayaan, tapi faktanya tidak sepenuhnya seperti itu karena approach-nya sangat politis. Penduduk desa yang seperti dulu kita nikmati di kala kecil tiada lagi makna harmoninya.

Yang terbangun adalah “persekongkolan”, berantem antar warga desa. Kakak adik saling berselisih faham karena sang kakak pendukung si biru dan sang adik pendukung si kuning. Demokrasi yang tidak matang telah merusak harmoni kehidupan. Desaku permai hanya tinggal kenangan dan lagunya-pun sudah tak terdengar lagi. Yang mengalun adalah lagunya Bang haji, Lady GAGA, dll. ***

Berita Terkait

Komentar

Komentar