Di Atas Langit Masih Ada Langit

Loading

Oleh: Soediyono

Ilustrasi

Ilustrasi

UNGKAPAN kata-kata pada judul di atas banyak dikemukan dalam buku cerita silat Cina, karangan Kho Ping Hoo, yang beredar pada era tahun 1970-an. Ungkapan tersebut menggambarkan bahwa tidak seorang pun mampu memiliki ilmu silat dengan sempurna, sehingga menjadi tokoh persilatan yang tidak terkalahkan sepanjang jaman.

Betapa pun tinggi ilmu silat yang telah dimiliki seorang tokoh persilatan, pasti ada tokoh persilatan lain yang ilmunya lebih tinggi dan akhirnya dapat mengalahkannya. Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menceritakan tentang dunia persilatan, karena hal tersebut sama sekali tidak ada hubungannya dengan yang akan saya tulis, akan tetapi ungkapan tersebut sangat tepat untuk digunakan sebagai perlambang terhadap perjalanan kematangan jiwa seseorang.

Langit Semakin Mendung

Merasa sudah berbuat benar dalam hidup ini sekian puluh tahun dan tidak pernah berhenti menaati perintah-perintah Tuhan, maka saya dengan tenang dan penuh percaya diri saat menghadapi gelombang kehidupan yang saya jalani. Akan tetapi, ketika mengalami masa-masa yang sulit dan besar, di mana kegiatan usaha saya sudah cukup lama vakum (kosong), karena menunggu kepastian kelanjutannya yang tidak menentu, sedangkan beban kewajiban pengeluaran biaya harus tetap berjalan.

Belum lagi jika dipersalahkan oleh orang-orang sekeliling yang tidak mengerti dengan persis masalah yang sebenarnya. Energi seakan terus terkuras, hanya untuk terus mampu bertahan. Dari hari ke hari ke minggu, dari minggu ke bulan, dari bulan ke tahun yang terus berlanjut, tanpa penjelasan kapan akan berakhir.

Sebagai hamba Tuhan, menghadapi kondisi dan situasi seperti itu, yang dapat saya lakukan hanyalah berdoa/memohon kepada Tuhan dengan tetap menjalankan perintah-Nya berusaha berbuat baik dan membina budi pekerti dalam diri, dengan demikian kasih Tuhan dapat terasa memberikan ketenangan hati, penghiburan dan harapan sehingga tetap bisa optimis, bahwa “pasang surut” keadaan yang sedang terjadi ini akan segera berakhir.

Namun, tiba-tiba yang lebih buruk terjadi, kejadian tak terduga di luar apa yang sedang dihadapi muncul mengacaukan situasi, menambah ruwet pikiran dan menambah beban perasaan. Akibatnya dunia terasa gelap pekat dan saya benar-benar syok untuk beberapa saat.

Upaya bersandar kepada Tuhan dengan mengintensifkan berdoa dan terus melaksanakan kewajiban-kewajiban sebagaimana yang dilakukan oleh hamba yang berusaha taat akan perintah Tuhan, ternyata terasa masih belum cukup bisa menangkal datangnya “badai”. Nurani saya mengatakan, “Inilah saatnya jatuhnya pedang pengadilan Tuhan sebagai buah perbuatan yang dulu dilakukan.”

“Ya, OK. Tetapi mengapa datangnya pada saat-saat seperti ini?” sergahku sendiri bernada protes. Jawaban atas protesku tersebut karena kusadar bahwa sifat keadilan Tuhan tidak dapat disepelekan, karena semua perbuatan pasti ada balasannya, sesuai dengan perbuatan yang dilakukan.

Instrospeksi Diri

Menyadari bahwa kondisi sudah kritis, akhirnya saya melakukan kontemplasi (perenungan yang mendalam). Pada suatu malam yang hening setelah sembahyang tengah malam, kuteruskan bersimpuh dengan menenggelamkan pikiran ke dalam keheningan serta mengambil jarak dari kehidupan dan dari semua yang sedang dialami, yang tertinggal hanya pasrah total kepada Tuhan dan sabda-sabda-Nya.

Kuingat sabda Tuhan yang pernah kubaca, yaitu mengaduhlah dan mohonlah kepada-Nya, Tuhan akan menuntun, melindungi dan menolong kesusahan hamba-Nya. Teringat juga pada sabda–Nya yang menjelaskan bahwa apabila kita menderita kesusahan bacalah buku-buku suci, maka kegelapan hati akan lenyap.

Saya bangkit dari duduk lalu mulai membaca ulang buku-buku itu. Dengan teliti saya baca sambil meresapkan satu per satu setiap ayat sambil memohon dan mengarahkan kesadaran batin kepada Tuhan agar diberikan petunjuk-Nya sampai suara adzan Subuh berkumandang, menyadarkan saya bahwa tiba saat untuk sembahyang pagi (subuh).

Setelah perenungan yang mendalam dan instrospeksi diri dengan teliti, saya sadar bahwa masih banyak kekurangan pada diri saya. Selama ini saya merasa sudah menjadi hamba Tuhan yang baik, ternyata belum.

Ungkapan “Di atas langit masih ada langit” yang digunakan sebagai judul tulisan ini mengandung pesan bijaksana, agar siapa pun jangan cepat berpuas diri dan jangan pula menjadi sombong atas ilmu yang telah dimiliki.

“…maka janganlah engkau merasa lebih luhur daripada orang lain, sebab perilaku hidup itu bantu-membantu satu sama lain.” (Sasangka Jati: bagian Hasta Sila: Taat)

Oleh karena di atas langit, masih ada langit. ***

Berita Terkait

  1. umumnya manusia selalu menempatkan lawan bicaranya berada di bahwanya

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published.