Di Mana Lurah Senen?

Oleh : Sabar Hutasoit

Ilustrasi

Ilustrasi

KEJUTAN demi kejutan mulai dipertontonkan Gubernur DKI Jakarta yang baru, Jokowi. Bagaikan bola liar, mantan Walikota Surakarta itu merasuk kampung demi kampung dan lurah demi lurah. Sudah barang tentu banyak yang pro gaya Jokowi tapi juga tidak sedikit yang tidak setuju.

Betapa tidak. Jika selama ini para pimpinan di tingkat walikota hingga kelurahan tidak pernah terusik, kini dengan gubernur yang baru, ketenangan mereka mulai terganggu.

Tidak hanya pimpinan yang berada di tingkat walikota dan kelurahan yang terusik, tapi juga seluruh stafnya. Saking “liar”-nya gerakan Jokowi, pengatur jadwal gubernur di bagian protokol tidak dapat mencatatkan jadwal bosnya seperti yang terjadi selama ini.

Para staf di bidang protokol serta humasnya hanya mengatakan pasrah dan mengikuti apa saja maunya gubernur yang berpasangan dengan wakilnya Ahok. Staf di bidang protokol-pun menjadi tidak bisa membocorkan langkah “liar” Jokowi kepada para koleganya di lapangan.

Hasilnya seperti yang kita lihat di layar televisi dan kita baca di berbagai media. Ada kantor kelurahan yang pintunya belum terbuka walau jam sudah menunjukkan angka delapan, bahkan pegawai kelurahan bersangkutan gelagapan saat membuka kunci pintu dan saking gugupnya, kunci sulit terbuka membuat Jokowi terpaksa menunggu sambil duduk di kursi lipat.

Tidaki ayal lagi, seluruh pegawai di Kelurahan Senen dibuat panik Gubernur DKI, Joko Widodo yang menggelar inspeksi mendadak (sidak) ke kantor pelayanan masyarakat tersebut, Selasa pekan silam.

Orang nomor satu di ibukota ini juga mendapati banyak loket-loket layanan masyarakat seperti e-KTP belum dibuka dan kantor-pun masih kosong. Melihat kedatangan Jokowi, seorang staf kelurahan yang mengenakan seragam coklat tampak panik.

Saking paniknya, staf tersebut kesulitan membuka pintu meski kunci telah di tangan dan untuk meredakan ketegangannya, Jokowi bertanya pada staf tersebut di mana Lurah Senen dan Sekretaris Lurah. Dengan gugup dan gemetar, staf itu menjawab, “Lurah lagi keliling wilayah, Pak. Sekretaris lagi ikut diklat, Pak,” katanya pelan.

“Lurahnya keliling wilayah mana?” tanya Jokowi lagi. “Nggak tahu, Pak,” jawab staf lurah. Melihat pintu ruangan tak kunjung terbuka, akhirnya Jokowi yang memakai jas hitam dan celana hitam, kemeja putih, langsung menuju ke lantai atas tempat pelayanan umum. Di sana terlihat ruangan tersebut kosong, tidak ada staf kelurahan satu pun.

Melihat itu, Jokowi hanya terdiam sambil geleng-geleng kepala. Dia tidak bertanya satu kalimat pun. Setelah meninjau ruangan kosong tersebut, Jokowi langsung ke bawah lagi untuk melihat apakah ruangan pelayanan e-KTP sudah bisa dibuka.

Ternyata belum terbuka juga, sehingga akhirnya Jokowi duduk di salah satu kursi lipat berwarna hitam. Selang beberapa menit menunggu, akhirnya staf tersebut bisa membuka pintunya. Lalu Jokowi minta staf itu melakukan simulasi e-KTP. Lalu, Jokowi langsung ke luar kantor yang disambut dengan warga di sekitar kantor Kelurahan Senen.

Sidak Jokowi dilanjutkan ke kantor Kecamatan Senen. Sayangnya, kantor Kecamatan Senen telah pindah, sehingga Jokowi tidak bisa melihat dan bertemu langsung dengan staf kecamatan tersebut. Sidak dilanjutkan ke Kantor Kelurahan Cempaka Putih Timur dan Kantor Kecamatan Cempaka Putih.

Apa yang mau kita catat dan pelajari dari gaya kepemimpinan Jokowi ini. Pertama, Jokowi melihat bahwa tugas utama para pegawai adalah melayani dan bukan dilayani. Merubah gaya kerja ini pasti sulit. Jika selama ini para pegawai kantor pemda di Jakarta seenaknya masuk dan pulang kantor, kini gaya itu tidak akan diberlakukan lagi, tapi akan dikikis habis.

Bahkan sudah ada suara ancaman dari pasangan Jokowi-Ahok, jika ada pimpinan di bawah naungan gubernur tidak becus melayani masyarakat, sanksinya akan dipecat. Yang menarik lagi ada pertanyaan dari Jokowi bagaimana caranya mengurus izin mendirikan bangunan (IMB). Pertanyaan ini menarik karena sektor ini adalah sektor paling basah di kantor pemda. ***

Berita Terkait

Komentar

Komentar