Dikhawatirkan, Muncul Kekuatan Baru Permintaan Minyak Mentah

210115-ekbis-2
JAKARTA, (tubasmedia.com) – Harga minyak mentah dunia yang terus melorot dan Dana Moneter Internasional (IMF) yang memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global 3,5 persen pada 2015 dan 3,7 persen pada 2016 dikhawatirkan memunculkan kekuatan baru permintaan minyak mentah.

Harga acuan minyak mentah light sweet atau West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Februari, turun 2,30 dollar AS atau 4,7 persen, ditutup pada 46,39 dollar AS per barel, tidak jauh dari tingkat terendah yang terjadi sejak Maret 2009.

Minyak mentah Brent North Sea untuk pengiriman Maret, harga acuan internasional, jatuh menjadi menetap di 47,99 dollar AS per barel di London, turun 85 sen dari tingkat penutupan Senin.

“Harga minyak mentah ada di bawah tekanan kontrak berjangka WTI bulan depan , menyusul berita IMF memangkas proyeksi pertumbuhan global yang paling dalam selama tiga tahun,” kata analis Sucden, Myrto Sokou.

IMF menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global untuk tahun ini menjadi 3,5 persen dan 3,7 persen pada 2016 yang dilatarbelakangi melemhanya semua ekonomi utama kecuali Amerika Serikat.

Dana Moneter Internasional memperkiraan Tiongkok, konsumen minyak utama akan tumbuh masing-masing sebesar 6,8 persen pada 2015 dan 6,3 persen pada 2016, masing-masing turun sebesar 0,3 persentase poin dan 0,5 persentase poin dari prediksi sebelumnya.

Sementara Moodys menurunkan perkiraan harga rata-rata 2015 menjadi 55 dollar AS per barel untuk Brent dan 52 dollar untuk WTI. Moodys memproyeksikan kedua kontrak akan naik pada 2016, masing-masing menjadi 65 dollar AS dan 62 dollar AS

“Kami melihat ada katalis jangka pendek yang akan mengubah persamaan pasokan/permintaan,” kata perusahaan pemeringkat kredit Moodys dalam sebuah catatan pasar.

Pasokan minyak non-OPEC diperkirakan telah tumbuh 1,98 juta barel per hari pada 2014. Pada 2015, pasokan minyak non-OPEC diperkirakan akan tumbuh sebesar 1,28 juta barel per hari. Produksi minyak mentah AS naik 60.000 barel per hari menjadi 9.19 juta barel per hari. (rel/siswoyo)

Berita Terkait

Komentar

Komentar