Diusir Karena Jujur

Oleh: Edi Siswojo

Ilustrasi

Ilustrasi

IRONISNYA. Widodo dan istrinya Siami, warga Kelurahan Gadel, Kecamatan Tandes, Kota Surabaya, Jawa Timur diusir dari rumahnya karena sikapnya yang jujur. Gubernur non aktif Agusrin M. Najamudin tersangka korupsi yang divonis bebas pulang kampung disambut meriah bak pahlawan pulang dari medan perang.

Kisahnya begini. Alifah Ahmad Maulana anak pasangan Widodo dan Siami tergolong anak pandai di sekolahnya, SD Gadel II. Dia diminta gurunya–sebagai balas budi–memberikan contekan kepada teman-temannya saat Ujian Nasional (UN) Mei lalu. Ahmad memenuhi permintaan gurunya dan mengadukan apa yang dilakukan kepada ibunya. Mendengar pengaduan itu Ny. Siami melaporkan peristiwa contek massal itu ke berbagai pihak, termasuk media massa.

Akibat laporannya Ny. Siami, seorang ibu rumah tangga, orang tua siswa peserta UN di SD Gadel II menggelar unjuk rasa dan memaksa Ny. Siami dan keluarga meninggalkan rumahnya. Polisi terpaksa turun tangan mengevakuasi keluarga Widodo. Wali Kota Surabaya Tri Rismaharani pun telah memberikan sanksi larangan mengajar kepada guru yang meminta Ahmad berbuat curang dan mencopot jabatan kepala SD Gadel II.

Gubernur Bengkulu non aktif Agusrin M. Najamudin didakwa korupsi 20 miliar rupiah dana APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah) dan divonis bebas oleh Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat. Saat pulang kampung Agusrin disambut meriah–diarak menuju rumahnya–bak sorang pahlawan yang baru pulang dari medan perang.

Mendagri Gamawan Fauzi mengatakan Agusrin M. Najamudin hanyalah satu dari–sejak 2004–sebanyak 160 kepala daerah dan mantan kepala daerah yang menjadi tersangka atau dipidana karena perkara korupsi. Jumlah itu sebagai 30 persen dari 524 kepala daerah di tingkat provinsi, kabupaten dan kota di Indonesia. “Setiap bulan rata-rata satu kepala daerah aktif terkena kasus korupsi,” katanya.

Menyedihkan. Kisah Ny. Siami dan Agusrin itu merupakan ironi di dalam kehidupan kita. Kejujuran terasa semakin langka, kurus dan kering di tengah kehidupan masyarakat yang tidak peduli dengan korupsi, individulistis dan matrialistis di dalam negara yang dipimpin oleh orang-orang gemuk yang tidak jujur.

Belajar dari kisah Ny. Siami dan Agusrin Najamudin, kejujuran semakin penting dan dibutuhkan di dalam keseharian kita bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Jujur merupakan watak utama yang mendatangkan keadilan, memberikan keberanian, ketentraman dan mensucikan jiwa yang menjadikan tulusnya budi pekerti. Semoga ! ***

Berita Terkait

Komentar

Komentar