DPR Tidak Butuh Suara Rakyat Jelata

Ilustrasi

Ilustrasi

Selepas Marzuki Alie dalam kapasitasnya sebagai Ketua DPR menyatakan DPR tidak butuh suara rakyat jelata, saya teringat akan sebuah tulisan yang mengatakan kalau nasib rakyat itu tidak menyenangkan karena memang hanya untuk dihitung, tapi bukan untuk diperhitungkan.

Tulisan itu dibuat Eka Darmaputra, seorang pendeta bergelar doktor, tapi kini telah tiada, namun tulisannya tetap ada, bahkan kini menjadi kenyataan. Pasti semua pembaca tajuk ini ingat dan tahu pasti kapan Zuki (panggilan singkat Marzuki Alie) mengucapkan kalimat tadi. Tapi sekedar mengingatkan, dia menyatakan kalau DPR tidak butuh suara rakyat jelata dalam kaitan pro-kontra pembangunan gedung DPR yang baru. Rakyat jelata taunya perutnya ada isi. Soal pembangunann rakyat jelata tidak mengerti. Jadi yang layak mengomentari pembangunan gedung baru DPR hanyalah kalangan elite.

Jelas kata-kata Ketua DPR ini menyakitkan. Ini penghinaan terhadap sebagian besar (selain elite tentunya) masyarakat Indonesia yang telah menjadikan mereka para anggota DPR duduk di ruang sejuk DPR di Senayan sana. Tanpa rakyat jelata, jelas mereka tidak akan bisa duduk di sana.

Harus diyakini pula bahwa para anggota DPR itu duduk di Senayan, bukan karena kehebatan mereka, melainkan karena dipilih rakyat jelata. Lalu kenapa sekarang DPR menyatakan tidak butuh rakyat jelata.

Maka itu apa yang dituliskan Eka Darmaputra menjadi kenyataan. Rakyat memang hanyalah untuk dihitung, paling tidak lima tahun sekali saat negeri ini mau menyelenggarakan pemilihan umum. Saat itu masing-masing partai politik melakukan strategi untuk membujuk seluruh rakyat tidak kecuali apakah dia rakyat bodoh, miskin dan jelata, dihitung dan diharapkan memilih para calon pemimpin. Bahkan kalangan elite kurang diperhitungkan karena jumlahnya sedikit tidak sebesar rakyat jelata.

Pada saat itu pula, para kontestan (termasuk si Zuki) mengumbar janji-janji manis di hadapan rakyat jelata pemilih. Si Zuki saat itu tidak mengutamakan kaum elite karena dia sadar kalau hanya elite yang memilih dia, pasti tidak menang sebab jumlah suara elite sangat sedikit. Maka, karena suara rakyat jelata, jadilah Zuki anggota DPR dan kini terpilih menjadi Ketua DPR. Tapi aneh, Zuki mengatakan rakyat jelata tidak dibutuhkan DPR saat mau membicarakan pembangunan. Rakyat jelata tahunya perut ada isi.

Jangan-jangan Zuki yang hanya memikirkan isi perutnya sebab menurut kabar, biaya pembangunan gedung baru DPR sudah digelembungkan. Karena itu tidak heran kalau ada suara dari seorang profesor agar Juki diusir saja dari DPR. ***

Berita Terkait

Komentar

Komentar