Dua Jam di Pintu Gerbang Perbatasan Indonesia-Malaysia

Laporan: Redaksi

Ilustrasi

Gerbang perbatasan masih digembok

KUCHING, (TubasMedia.Com) – Jarum jam bertengger tepat pada angka tiga lewat beberapa menit. Pagi subuh itu sejumlah mobil pribadi dan beberapa bus yang mengangkut penumpang dari Pontianak, Kalimantan Barat menuju Kuching, Serawak, Malaysia, berhenti dan masing-masing mematikan mesin mobilnya.

Para pengemudi memarkir kendaraannya merapat ke pintu gerbang perbatasan Indonesia-Malaysia, tepatnya di dusun Entikong yang ditempuh sekitar enam jam dari Pontianak. ‘’Istirahat, istirahat dulu, pintu baru dibuka nanti pukul lima,’’ teriak awak bus kepada para penumpang.

Rupanya, pintu gerbang perbatasan Indonesia-Malaysia di dusun Entikong itu dibuka setiap pagi pukul lima. Itu artinya, seluruh angkutan yang hendak masuk wilayah hukum Malaysia harus siap menunggu sekitar dua jam sebab pada umumnya, angkutan umum dari Pontianak selalu tiba di perbatasan itu jam tiga subuh.

Ada beberapa merek angkutan bus yang melayani trayek Indonesia-Malaysia itu dan tidak hanya milik pengusaha Indonesia tapi juga Malaysia. Sepuluh unit milik Indonesia dan 10 unit juga milik Malaysia.

Seperti biasa, di setiap pemberhentian bus, selalu juga tersedia warung-warung makan dan minum. Demikian juga di Dusun Entikong. Di warung inilah biasanya para awak bus dan siapa saja duduk-duduk sambil ngopi menunggu pintu gerbang dibuka. Obrolan-pun dibuka.

Pertama sekali terdengar adalah cerita sekitar kondisi jalan yang menghubungkan Pontianak-Entikong yang teramat memprihatinkan. “Sudah sempit, rusak lagi, malah lubangnya dalam-dalam sekali,” demikian keluhan salah seorang diantara mereka.

Memang pengalaman wartawan tubasmedia.com Sabar Hutasoit, yang menumpang PO SJS malam itu, tidak jauh dari apa yang disaksikan awak bus tadi. Malah di beberapa titik rusak, badan bus sering oleng ke kiri dan ke kanan mengikuit irama sebelah mana jalan yang lobangnya dalam.

‘’Coba kalau tidak ada korupsi di negeri ini, pasti jalan kita bagus tidak merana seperti ini,’’ nyeletuk yang lainnya. ‘’Habisnya, para pimpinan yang di atas tidak lagi memikirkan rakyat dan tidak peduli dengan masyarakat. Mereka hanya memikirkan perutnya saja,’’ sambungnya.

Dua pria setengah baya yang ada dalam warung dan mengaku warganegara Malaysia nyeletuk. Katanya, kalau Raja Malaysia selalu memikirkan dan mengutamakan kepentingan rakyat. Apa-pun yang dilakukan raja, hasil akhirnya hanyalah untuk rakyat.

‘’Indonesia juga gitu, pemerintah mengutamakan rakyat,’’ seorang lainnya memotong omongan. Tapi rakyat yang mana dulu, sambungnya. Lihat tuh Hambalang dan Century, siapa pelaku utama yang sebenarnya. ‘’KPK kan tidak berani menangkap dalang utamanya. Takut ama penguasa,’’ lanjutnya lagi.

Yang namanya obrolan di warung kopi, seketika itu tema bahasan berpindah lagi. Kini berbau politik. Menurut mereka, para pemain politik Indonesia saat ini sudah banyak yang tidak bisa dipakai lagi. Selain tidak bermutu, omongannya-pun, kata mereka sering tidak bermartabat dan tidak layak keluar dari mulut negarawan yang adalah angggota DPR.

‘’Masa sih, anggota DPR menyebut-nyebut mulut seorang pejabat yang mengkrirtisi kinerja SBY bagaikan comberan. Kami aja di pasaran tidak mau lagi kurang ajar ngomong seperti itu,’’ katanya. ‘’Harusnya mereka studi banding urusan bicara dengan kita ya…?, biar mereka bisa sopan ya. Atau kita didik aja dulu mulutnya,’’ ucapnya sembari mencolek rekannya. Yang dicolek-pun menganggukkan kepala.

‘’Sudahlah, ngomongin politik dan korupsi gak ada habis-habisnya dan tak mungkin terungkap sebab yang korupsi itu petinggi-petinggi negeri ini jadi gak ada penegak hukum yang berani mengungkapnya. Kalaupun ada tersangka, itu paling ikan teri yang dikorbankan,’’ kata yang lainnya.

Menurut mereka, tindakan korupsi itu tidak mungkin terlaksana jika tidak melibatkan petinggi dan tidak mungkin terjadi korupsi kalau pelakunya hanya ikan teri. ‘’Gak mungkin hanya anak kecil, tapi petinggi pasti tahu dan pengguna anggaran di sebuah departemen kan menterinya,’’ sambungnya.

Kemudian dia bertanya soal sepakbola. ‘’Gimana kira-kira pertadingan Indonesia-Singapura. Indonesia menang atau kalah,’’ ia memulai obrolan sekitar bola.

‘’Bisa menang tapi lebih besar kemungkinan kalah,’’ jawab seorang. Ditanya apa alasan mengatakan kalah, dijawab karena organisasi persepakbolaan nasional tidak becus. ‘’Gak mungkin menanglah, pengurus bola bisanya ribut aja kerjanya dan tidak pernah mengurus pemainnya. Pemainnya mau latihan-pun biaya sendiri malah kostumnya pake yang bekas, gimana mau menang. Korupsi juga di dalamnya,’’ kata memanaskan suasana.

‘’Ya benar. Tapi apapun yang terjadi, jika sudah berhadapan dengan orang asing, kita mesti tetap NKRI, merah putih harus tetap berkibar walau para koruptor tidak bakal ditangkap saat ini. Tapi nanti setelah rezim berganti kan biasanya ada balas dendam,’’ jawab yang lainnya.

Sementara itu, menurut pandangan mata tubasmedia.com, jalan yang menghubungkan Entikong dan Kuching sepanjang 101 km itu, kondisinya teramat bagus. Bisa dikatakan, jalan tersebut tidak ada yang berlubang.

‘’Kalau mau cari jalan yang berlubang di sini, tidak ada pak. Sampai ke mana pun di Malaysia ini jalanannya bagus sekali. Capek bapak nyari jalan rusak. Beda dengan Indonesia yang diperbaiki pejabat kantong pribadi dan bukan infrastruktur,’’ kata pengemudi SJS saat tubasmedia.com mengarahkan kamera.

Memang nyata sekali perbedaannya, kontras. Hanya dipisahkan gerbang perbatasan saja, kondisi jalan Indonesia dan Malaysia sangat jauh berbeda. Di perbatasan wilayah Indonesia kondisi jalannya jelek sekali, di wilayah Malaysia kebalikannya, bagus sekali. ***

Berita Terkait

Komentar

Komentar