Dunia Bicarakan Stabilitas,Tetapi Dunia Pula yang Menciptakan Distabilitas

DSCF7450

Oleh: Fauzi Aziz

JUDUL opini ini terinspirasi oleh beragam peristiwa di dunia yang berlangsung dari masa lampau dan masa kini, bahkan di masa yang akan datang. Kita seperti sedang menonton sandiwara atau sedang menikmati film ketika kita mengikuti peristiwa yang terjadi di berbagai belahan dunia.

Kelompok G-7 kini berkumpul di Jepang membahas masalah stabilitas Asia. Emangnya ada apa di Asia, wong benua Asia kini baik-baik saja. Mereka sok berlagak hebat mau menjadi juru selamat. Padahal mereka juga punya masalah, yakni hutangnya besar. Hutang mereka melampaui daya mampunya sebagai pengutang. Kekuatan barat sudah bergeser ke timur. Ekonomi Asia pertumbuhannya lebih tinggi dari pertumbuhan blok barat.

Bicara stabilitas untuk apa, wong mereka juga senang kalau terjadi distabilitas. Dunia memang cinta damai, tetapi juga hoby berantem, suka perang dan suka merampas kekayaan negara-negara berkembang, apalagi yang kaya sumber daya alam. Nalar manusia memang suka aneh.

Barangkali antara stabilitas dan distabilitas adalah ibarat sekeping mata uang logam. Kalau situasinya stabil mereka barangkali bosan. Tidak ada mainan dan lama-lama mengantuk dan semua tertidur pulas. Seperti nonton film yang ceritanya monoton, kita lama-lama bosan dan akhirnya tertidur pulas. Nggak seru komentarnya.

Senjata yang mereka produksi takut tidak laku, begitu pula perlengkapan perang lainnya. Ketika hal yang membosankan ini sudah mencapai titik kulminasinya, mereka berulah dengan menciptakan situasi dunia gegeran. Mereka lemparkan isu terorisme, radikalisme sehingga dunia yang tenang berubah menjadi galau, resah dan ini berarti terjadi distabilitas.

Maknanya manusia yang pintar dan cerdas dan berkuasa memang jahil metakil perilakunya. Fenomena stabilitas dan distabilitas adalah anak kembar yang dipelihara negara-negara besar yang menganggap dirinya hebat dan adidaya.

Padahal mereka juga sedang sakit. Penyakitnya takut kalah dengan kemajuan dan kebangkitan Asia sebagai adidaya baru di dunia. Mereka takut gengsinya turun karena gagal membuat Asia tidak lagi bisa diatur-atur mereka karena Asia telah berhasil mengurus dirinya sendiri. Takut kehilangan pengaruh sehingga suka bikin “onar”. Mau melakukan invasi militer takut kalah dan kehabisan modal untuk perang.

Manusia pintar dan cerdas dan merasa paling hebat dan sok berkuasa tidak pernah mati akal. Ditaburkanlah isu terorisme dan radikalisme dan inilah distabilitas yang mereka ciptakan agar ada kerjaan sebagai “juru damai”. Padahal terorisme dan radikalisme adalah proyek politik dan militer yang nilai ekonominya besar dan katanya mereka adalah sutradaranya.

Inilah wolak waliknya dunia pada dewasa ini. Nampaknya dunia ini memang harus berada dalam  situasi kondisi yang berpasang-pasangan. Ada laki-laki ada perempuan, ada damai ada pula peperangan. Ada stabilitas ada pula distabilititas, seperti halnya cuaca, ada panas ada dingin dan seterusnya. Manusia yang cinta damai ternyata “autis” juga. Tidak bisa diam kalau melihat apa yang ada di sekitarnya seperti laut mati tiada ombak sama sekali.

Tidak asyik bermain di laut mati karena tak bisa berselancar. Jadi manusia senang hidup dalam lingkungan yang bergelombang atau yang bergejolak dan membuat adrenalin naik turun karena disitu kenikmatan, kesenangan bisa diraih. Jika demikian analoginya. maka dunia yang cinta damai itu senang membuat permainan, suka membuat kejutan-kejutan, tidak betah dengan stabilitas yang bersifat permanen.

Karenanya sesekali diciptakanlah distabilitas. Sambil gangguin kedaulatan negara lain. Semua negara diminta mengikuti jalan pikirannya, seperti semua negara harus menjadi demokrasi, semua negara harus menjalankan liberalisasi karena mereka merasa demokrasi, liberalisasi,dan perdanganan bebas adalah konsep yang paling benar. Hebat bener mereka ini minta dihargai, dihormati dan diikuti jalan pikirannya dan pandangan hidup nya.

Barang siapa yang tidak mengikuti,mereka dibujuk rayu, tetapi jika membangkang pasti dimusuhi, diinvasi secara militer dan pemimpinnya bila perlu dibunuh, warga negaranya diadu domba melalui perang proxi. Dari situ dideklarasikan jargon bahwa di kawasan tertentu terjadi situasi yang bisa mengganggu stabilitas. Karena itu, mereka sibuk, rapat sana rapat sini agar di kawasan itu menjadi kembali stabil. Mereka yang memulai dan mereka pula yang mengakiri.

Politik dima na-mana sama saja, kadang menyukai stabilitas, kadang lebih menyukai distabilitas   supaya ada tempat bermain.

G-7 sekarang berkumpul di Jepang membahas stabilitas Asia, padahal Asia damai saja. Menjadi gaduh karena mereka autis, tidak bisa diam sambil jahilin kiri kanan. Tidak suka melihat Asia bangkit, sehingga mereka cari-cari isu di Asia. Padahal kita juga suka kalau barat bisa bangkit karena dengan mereka bangkit kita semua bisa makan enak.

Cari kerja enak di mana-mana.Urus saja diri sendiri agar kita sama-sama bangkit. Beresin utang-utangmu, jangan suruh orang lain supaya ikut-ikutan berhutang. Jika benar barat cinta damai, cinta lingkungan yang stabil, marilah sama-sama bangkit agar kesejahteraan terjadi merata di belahan dunia manapun. Tapi jangan lagi merasa menjadi penguasa dunia yang minta dihargai karena mereka menganggap dirinya cinta damai, padahal mereka haus kekuasaan.

Dan dari sini muncullah distabilitas di kawasan karena dijahili, ditarik tarik ikut menari bersama dengannya. Kalau memang mau dengan stabilitas, jangan sekali-kali campur tangan urusan negara lain atau kawasan lain karena masing-masing mempunyai kedaulatan dan cara serta tradisi sendiri menyelesaikan jika terjadi konflik. (penulis adalah pemerhati masalah sosial ekonomi).

Berita Terkait

Komentar

Komentar