Dunia Terus Bergejolak

demo-anarkis-mesir.jpgggggg

Oleh: Fauzi Aziz

 

KITA bisa mencermati perkembangan di segala bidang yang terjadi di belahan dunia dari sudut pandang masing-masing setiap hari. Sebut saja misalnya ekonomi di dunia saat ini tidak terlalu menggembirakan karena pertumbuhannya rendah.

Semua negara, akhirnya harus menyesuaikan diri dengan lingkungan yang terbentuk. Hukum  sebab akibat benar-benar berlaku dalam dunia yang bergejolak. Ada yang menarik manfaat ada yang menderita kerugian.

Uni Eropa dibuat limbung oleh keluarnya Inggris dari UE, meskipun akhirnya menyesal. ISIS dimana-mana bikin ulah. Siapa dalang dan wayangnya, semuanya samar- samar. Tiongkok sesudah menjadi besar ekonominya, tak bisa menahan diri untuk menjadi kekuatan hegemoni di Asia.

Amerika Serikat geram dengan ulah Tiong kok dan kawasan Laut Tiongkok Selatan (LTS) menjadi wilayah panas dari perebutan pengaruh. Kenapa mesti bergejolak dunia ini dan mengapa harus dibuat bergejo lak.

Manusia ternyata memang mahluk yang unik. Keunikannya bisa dilihat dari pikiran dan perilakunya. Suka mendambakan stabilitas, tetapi juga menyukai distabilitas. Tidak suka bila terorisme terus menimbulkan keonaran, namun pada kenyataannya ada saja yang mendukung tindakan terorisme.

Jahil menakil kata orang Jawa melihat ulah manusia di dunia. Senang melihat orang lain susah, tetapi susah melihat orang lain senang. Dunia yang bergejolak berarti diciptakan, bukan by accident. Dan ini terus berlangsung. Manusia memang “gatik” selain “jahil metakil”. Mau enak sendiri dan mau menang sendiri.

Dunia memang penuh paradox. Negaranya boleh mengembangkan senjata pemusnah masal dan membangun senjata nuklir. Tetapi jika ada negara lain akan melakukan hal yang sama dihalang-halangi, sekalipun proyek yang akan dibangun bukan senjata nuklir tetapi energi nuklir.

Negara di dunia sangat menyukai perdamaian dan anti peperangan fisik, tetapi faktanya di dunia  sekarang ini terjadi “perang proxi” (proxy war). Invasi dan infiltrasi militer, politik, ekonomi, sosial budaya dan idiologi terus berjalan dan terjadi dimana-mana.

Negara berkembang yang berpotensi menjadi kekuatan ekonomi baru, dihambat dan diganggu dan melalui perang proxi, langkah negara  bersangkutan “dimatikan”.

Kelemahan di dalam negerinya dieksploitir menjadi titik lemah yang bisa dimanfaatkan memenuhi hasratnya sebagai neokolonialisme baru. Dunia tidak pernah berhenti bergejolak seperti halnya terjadi anomali cuaca akibat perubahan iklim.

Global warming, nampaknya ikut mempengaruhi perilaku dunia yang ikut-ikutan panas. Yang pasti kini semua menjadi susah. Ekonomi tidak tumbuh, perdagangan internasional juga tidak bisa lagi tumbuh pesat meskipun perdagangan bebas terjadi di seluruh dunia.

Semua negara terlibat hutang yang nyaris tak terbayar. Lingkungan telah rusak karena dirusak dan tak ada yang sanggup memperbaikinya karena ongkosnya sangat mahal. Tatanan kehidupan global semua berubah akibat dunia yang terus bergejolak.

Tatanan baru belum ada karena semua kebingungan. Mau ditata bagaimana lagi, wong semua sudah bokek karena utangnya menggelembung melampaui batas kewajaran. Jujur, akhirnya ketika dunia terus bergejolak lebih baik memproteksi diri sendiri. Stug, tidak juga. lambat, sepertinya ini yang terjadi.

Dunia nampaknya tidak memilih jargon ‘’lebih cepat lebih baik’’. Dunia kini lebih senang menggunakan jargon ‘’alon-alon waton kelakon’’ karena dunia sedang sakit. PBB, IMF, Bank Dunia danWTO sudah kehabisan akal dan modal untuk menata dunia yang damai, adil dan tak bergejolak.

Resep-resepnya sudah tidak mujarab lagi. Yang seringkali kali kita dengar selama ini adalah ancaman krisis ekonomi bisa terjadi setiap saat. Rupanya sekarang mulai berfikir yang penting aman. Tidak royal berbelanja, meskipun akibatnya berdampak pada penurunan produksi secara global.

Membangun pabrik baru, nanti dulu, mengurusi pabrik yang sudah ada saja repot.  Volume pasar dunia memang diakui besar, tetapi tidak ada yang mau membeli dalam jumlah besar, seperti di masa lalu. Barangkali ini terjadi akibat rasa iman manusia kepada Tuhan tak terkelola, sementara nalarnya terus tumbuh tanpa kendali iman. Nuraninya padam dan nafsu serakahnya terus menggelora. (penulis adalah pemerhati masalah sosial dan ekonomi).

Berita Terkait

Komentar

Komentar