Ekonomi Global Lesu

Oleh: Fauzi Aziz

APA yang dapat kita lihat ketika ekonomi global selalu mendapatkan perhatian dari banyak kalangan sedunia. Sejatinya ada, yakni ketika ekonomi mengalami pertumbuhan booming dan pada saat malas untuk tumbuh.

Dan manakala kita buka lagi, kita akan menemukan dua kutub penting yang menjadi sumber utamanya, yakni “Investasi dan Perdagangan Internasional (ekspor-impor). Dan jika kita lacak lagi, praktek perdagangan bebas pada dasarnya bekerja di kedua mesin pertumbuhan ekonomi sebagai prime engine-nya.

Disitu memang menjadi lahan paling basah bermain untuk menghasilkan income, baik bagi negara maupun private berupa yield, capital gain, deviden dan profit. Bagi sektor negara akan mendapatkan penerimaan pajak, kesempatan kerja dan cadangan devisa.

Dan jika kita lanjutkan penelurusannya, pada tahap akhir di setiap akhir tahun, kita akan mendapatkan dua rapor balance sheet, yakni neraca modal dan finansial, serta neraca transaksi berjalan dan neraca konsolidasinya akan digabung dalam satu buku yang biasa kita kenal sebagai “Neraca Pembayaran”.

Jadi kalau mau melihat postur ekonomi, sejatinya cukup dengan membaca kedua neraca tersebut. Kalau kinerja rata-ratanya surplus tiap tahun, maka ini pertanda sistem ekonomi bekerja dengan baik, efisien dan produktif.

Namun jika sebaliknya, terus terusan mengalami defisit, ini pertanda buruk. Artinya sistem ekonomi tidak mampu bekerja dengan efisien dan produktifitasnya rendah. Inilah mengapa kepala negara/pemerintahan dimana-mana suka gundah, galau dan bawaannya marah-marah kalau melihat rapor kinerja ekonominya memerah.

Kini ekonomi global lesu, tapi perdagangan bebas terus berjalan, meskipun pemain utamanya selama ini minggir sementara dari permainan ini karena terlalu banyak kehilangan daya saingnya.

Mengapa harus jalan terus? Hal ini didasarkan atas keyakinan idiologis atau asumsi agitatif bahwa hambatan-hambatan perdagangan yang bisa diminimalisir dan meningkatkan saling ketergantungan dalam perdagangan, akhirnya akan menghasilkan standar kehidupan yang lebih tinggi.

Ini adalah kalimat pamungkasnya sehingga de gan asumsi itu, semua negara bersemangat membangun Free Trade Area (FTA) di berbagai kawasan di dunia. Padahal, kalau kita menengok kebelakang, pembicaraan mengenai perdagangan global di WTO, menjadi berlarut-larut, bahkan terancam kandas.

Hal ini terjadi karena para champion perdagangan bebas itu sendiri telah mulai kehilangan kepercayaannya pada kebenaran yang telah diusungnya sendiri. Bukti paling nyata dan gres adalah ketika AS berganti kostum dari pemain global menjadi pemain lokal.

Pertanyaan berikutnya adalah mengapa premis umumnya seperti itu, koq kita masih saja sibuk mau terus memikirkan perdagangan bebas. Ternyata ada lokomotif dan jawara baru yang siap mengganti kedudukan AS dan Eropa, yakni Tiongkok dan India.

Meskipun dengan susah payah, Tiongkok dan India diharapkan menjadi pemimpin global yang mau mengerek pertumbuhan ekonomi global. Meski demikian, sebagai sebuah fakta ternyata kedua negara pemain pengganti ini belum sepenuhnya mampu men-drive pertumbuhan ekonomi.

Karena kini Tiongkok mengalami pelambatan pertumbuhan ekonomi dan terjadi karena ekspor produknya ke AS mengalami penurunan dan kini mendapat ancaman akan dikenakan tarif impor tinggi sekitar 45%.

Saat ini, ekonomi Tiongkok hanya mampu tumbuh pada kisaran 6% lebih dan India sekitar 7%. Indonesia tahun 2017 diperkirakan bisa tumbuh 5,1%, me nurut hitungan pemerintah.

Ada fakta yang diungkap di WEF Davos, 18 Januari 2017 bahwa kesenjangan ekonomi global makin melebar. Dan dilaporkan kekayaan 8 orang di dunia senilai 426,2 miliar dolar AS, bisa disetarakan dengan kekayaan warga dunia sebanyak 3,6 miliar.

Data ini paling tidak menjawab asumsi perdagangan bebas akan membawa perbaikan standar hidup bagi semua, tidaklah terbukti. Jika anda membaca bukunya “Kishore Mahbubani” berjudul The Asia Hemisphere,The Irreristible Shift of Global Power to The East, halaman 45, akan kita dapatkan penjelesan yang menarik.

Di antaranya dikatakan sekarang para penjaga utama sistem perdagangan global itu sendiri tampil sebagai penentang utama liberalisasi perdagangan bebas lebih jauh. Sistem Putaran Doha, tidak membuat kemajuan berarti karena baik UE maupun AS menolak untuk setiap komitmen awal untuk mengakhiri subsidi-subsidi masif atas sektor pertanian mereka.

Setiap tahun UE membelanjakan rata-rata 49 miliar Euro (67,5 miliar dolar AS) dan AS lebih dari 20 miliar dolar AS untuk subsidi pertanian. Antara tahun 1995- 2005, total subsidi federal untuk pertanian lebih dari 164 miliar dolar AS.

Jika apa yang disampaikan Kishore Mahbuba kita jadikan pegangan, berarti AS maupun UE adalah pelopor liberalisasi perdagangan bebas yang menelan ludahnya sendiri menjadi proteksionis, atau anti praktek perdagangan bebas.

Ironis, itulah faktanya bahwa perdagangan bebas bekerja atas dasar asumsi atau teori klasik yang sudah tidak populer lagi sehingga apa yang dilakukan oleh Trump bisa dikatakan sebagai tindakan yang tidak basa-basi dan dengan bahasa terang ia bertindak lugas bahwa AS akan menjalankan proteksi. Kenapa malu-malu, toh dari awal memang sudah ada indikasi bahwa AS memang mempunyai masalah dalam ekonominya. (penulis adalah pemerhati masalah sosial ekonomi dan industri).

Berita Terkait

Komentar

Komentar