Ekonomi Indonesia Masih High Cost

Oleh: Fauzi Aziz

 

PERTAMA, konstruksi globalisasi secara umum pada dasarnya mencakup berbagai hal. Dalam kebanyakan text book dikatakan bahwa globalisasi konteksnya bisa meliputi aliran gagasan dan pengetahuan secara internasional; pemahaman budaya ; munculnya kelompok masyarakat dunia ; dan pergerakan masalah politik, sosial, ekonomi, budaya dan lingkungan hidup. Siapa yang tidak ikut bergabung, maka akan bisa “terbuang” dari percaturan politik, ekonomi dan budaya global sebagai pilar utama.

KEDUA, dalam percaturan ekonomi, globalisasi telah mengakibatkan adanya integrasi atau penyatuan ekonomi antar negara di dunia melalui peningkatan aliran barang, jasa, modal, IPTEK bahkan tenaga kerja. serta virus.

Maaf kata virus penulis tambahkan karena jika bersifat pandemi global, dapat menjadi pemicu terganggunya aktivitas ekonomi, apalagi digoreng menjadi isu geopolitik global. Pesannya ada di wilayah ini dan semua negara dituntut siap, baik secara politik (kebijakan) , maupun siap secara ekonomi dan budaya.

Jika tidak siap akan “terbuang”/terisolasi atau paling tidak akan menjadi obyek “penjarahan”, apalagi negara tersebut kaya sumber daya alam seperti Indonesia.

Saling Ketergantungan

KETIGA, krusial memang, tapi saling ketergantungan global memang sudah melembaga menjadi sebuah platform yang universal. Siapa pemimpin globalisasi dan liberalisasi ekonomi?.

Tak lain adalah Sistem Kapitalisme Global sebagai pemimpin sejati berabad-abad lamanya. Sistem ini pula bertindak sebagai penggerak ekonomi global. Mereka pegang kendali IMF, World Bank dan WTO yang mengatur  dan mengendalikan pergerakan pasar finansial, pasar modal dan pasar barang dan jasa, termasuk pasar tenaga kerja.

Pasar tersebut bisa dibuat stabil atau diciptakan untuk bergejolak hingga paling ekstrim bisa menjadi  resesi. Prosesnya sangat tergantung kebutuhan sang pemimpin sejati tentang kondisi seperti apa yang dikehendaki.

Sang pengendali pula memiliki kekuatan untuk bisa menciptakan disekualibrium dinamis dalam sekejab dan mengubahnya menjadi ekualibrium dinamis juga dalam sekejab. Mekanisme ini bisa saja gagal, dan bila lepas kendali bisa menimbulkan goncangan ekonomi yang berpotensi menjadi krisis.

KEEMPAT, janji globalisasi dan liberalisasi ekonomi yang paling indah adalah: 1)  peningkatan taraf hidup seluruh masyarakat di dunia. 2)  memberikan akses bagi negara-negara berkembang terhadap pasar global sehingga dapat menjual barang-barang dan jasa yang mereka hasilkan. 3)  mempermudah masuknya investasi asing sehingga mampu memproduksi barang-barang baru dengan harga yang murah. 4).membuka batasan-batasan agar masyarakat dapat melakukan perjalanan ke luar negeri untuk belajar, bekerja, mengirim dana untuk keperluan keluarganya, dan membiayai usahanya.

Premis ini dimaksudkan agar semua negara di dunia, baik negara maju maupun negara berkembang dapat menarik manfaat. Namun faktanya tidak selalu seperti kisahnya karena aturan globalisasi tidak adil. Globalisasi dan liberalisasi ekonomi dirancang secara khusus untuk menguntungkan negara industri maju.

Lihat saja aturan IMF dan WT0, ketidak adilannya terbaca vulgar. Misal, dolar AS menjadi mata uang dunia. Sebagian perdagangan internasional menggunakan dolar AS. Sebagian besar cadangan devisa disimpan dalam mata uang yang sama.

KELIMA, Indonesia sebagai peserta penting  globalisasi dan liberalisasi ekonomi hanya mempunyai dua pilihan, yakni menarik manfaat yang sebesar-besarnya bagi kemakmuran seluruh rakyat, dan/atau menderita kerugian kerena belum mampu tampil maksimal memanfaatkan berbagai peluang yang ada.

Global Political Outlook beberapa tahun lalu melaporkan bahwa peran penting Indonesia dalam globalisasi dan liberalisasi ekonomi adalah sebagai pemasok atau sumber komoditas penting untuk dunia. Kemudian dengan jumlah populasi besar dan PDB ekonomi yang didominasi oleh pengeluaran konsumsi rata-rata 56% per tahun adalah menjadi pasar menarik untuk disasar.

Ada persoalan menarik bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia yang selama ini dicapai karena dorongan utang luar negeri pemerintah dan swasta atau dibangun atas dasar dukungan sumber daya eksternal, baik berupa modal, teknologi, termasuk mesin peralatan dan komponen,serta barang dan jasa, termasuk keahlian tidak membuat ekonominya menjadi kuat.

Manakala terjadi krisis seperti sekarang ini, utang luar negeri merupakan faktor ” kritis dalam pemulihan ekonomi Indonesia. Contohnya defisit anggaran angkanya diperlonggar hingga 5% terhadap PDB. Angka ini akan diberlakukan hingga tahun 2022.

Menghadapi Hambatan

KEENAM, tingkat ketergantungan eksternal yang tinggi berarti terlalu banyak kewajiban internasional yang harus dipikul oleh Indonesia. Kewajiban yang harus dibayar yang paling mudah dikenali adalah:  untuk bayar cicilan utang dan bunganya, membayar royalty dan pengadaan mesin dan peralatan serta komponennya, pengadaan barang dan jasa serta tenaga kerja.

Untuk mencapai posisi net export selalu menghadapi hambatan struktural karena ekonomi Indonesia masih high cost. ICOR Indonesia masih tinggi, rata-rata pada angka 5-6. Artinya investasi di Indonesia tidak efisien yang berati bahwa investasi yang dilakukan boros menyedot penggunaan sumber daya, tapi hasilnya tidak maksimal, termasuk berupa devisa hasil ekspor yang dihasilkan. Nyaris tidak ada yang dapat digunakan untuk keperluan biaya pembangunan dan investasi pemerintah.

Akhirnya kembali harus menarik utang luar negeri untuk keperluan tersebut, termasuk ketika sekarang ini harus membiayai progam penanganan covid-19, progam JPS dan progam Pemulihan Ekonomi Nasional.

Premis ekonomi seperti dikatakan oleh Paul Krugman bahwa pemulihan ekonomi harus dimulai dari investasi yang tinggi. Untuk itu, diperlukan tingkat suku bunga yang rendah. Pemilihan ekonomi harus berangkat dari titik kurs rupiah yang kuat,dan inflasi yang rendah. BI nampaknya berpegang pada fatsun ini sehingga menolak untuk cetak uang.

KETUJUH, akibatnya, neraca pembayaran posisinya tidak selalu aman karena neraca transaksi berjalannya mengalami ancaman defisit. Pada, pos transaksi finansial mudah gonjang -ganjing karena transaksinya bergerak cepat dan sangat fluktuatif karena berisi aliran modal dari investasi portofolio.

Begitu terjadi capital outflow yang sangat deras, maka goncangannya terhadap ekonomi dalam negeri langsung memabukkan yang bisa menjadi ancaman terjadinya krisis likuiditas. Dalam perdagangan internasional, posisi Indonesia sangat tergantung pada pergerakan rupiah terhadap dolar AS.

Hukum besinya mengatakan bahwa ketika nilai tukar rupiah terhadap dolar AS lemah, maka produk ekspor Indonesia akan menjadi relatif murah. Namun ketika menguat nilai tukar rupiah terhadap dolarAS, maka impor akan menjadi murah, tetapi produk ekspor akan menjadi relatif lebih mahal.

Sebab itu, faktor stabilitas nilai tukar menjadi penting untuk menarik manfaat yang optimal dari keikut sertaan Indonesia dalam perdagangan internasional yang secara riil produk ekspor Indonesia tergantung dari bahan baku/penolong asal impor.

KEDELAPAN, sebagai peserta penting dari globalisasi dan liberalisasi, Indonesia harus bisa keluar dari jebakan “Batman” apakah itu jebakan utang, jebakan komoditas atau jebakan curency.

Kita tahu bahwa globalisasi dan liberalisasi digunakan sebagai alat untuk mengembangkan ekonomi pasar yang seakan lebih ekstrim liberal, padahal hidden agendanya lebih fokus pada kepentingan -kepentingan yang tetap membuat kedudukan monopoli atau oligopoli dalam pengelolaan sistem moneter global dan perdagangan internasional yang lebih menguntungkan negara industri maju.

Menjadi Negara Maju

Jawaban atas fakta ini bagi Indonesia hanya punya satu pilihan, yakni menjadi negara maju yang sesungguhnya, bukan artifisial. Karena dinyatakan sepihak oleh negara mitra dagang dengan tujuan agar  Indonesia tidak lagi bisa menikmati berbagai bentuk preferensi yang umum diberikan kepada negara berkembang oleh negara maju seperti AS misalnya.

KESEMBILAN, Indonesia seperti juga negara lain kini menghadapi kesulitan likuiditas untuk mendukung  3 progam utama yakni penanganan covid-19, progam JPS, dan pemulihan ekonomi, yang akhirnya harus menciptakan utang luar negeri baru dengan menggunakan berbagai skema yang memungkinkan, misal dana talangan dari IMF dan lembaga keuangan internasional lain.

Yang lagi adu kuat soal cetak uang. BI sudah menolak, tapi kelihatannya “Golkar” (yang disuarakan  oleh misbakhun dalam berbagai forum) tetap menghendaki agar pemerintah cetak uang. Angka yang pernah disampaikan banggar DPR sebesar Rp 600 triliun.

KESEPULUH,kita lihat siapa yang menang, apakah teknokrat atau politisi. Yang akan menang bukan mereka, tapi sistem kapital global

Para teknokrat selalu berkeyakinan bahwa jika cetak uang ,efeknya selain inflasi akan naik, juga akan membuat nilai tukar rupiah terhadap dolar AS akan bisa jatuh tersungkur. Untuk penyelamatan, kita butuh dolar AS dalam jumlah besar guna menciptakan keseimbangan baru sehingga pertarungan ini yang menang adalah Kapitalisme Global. Si anak nakal ini minta bebas pajak atau kompensasi lain agar pendapat bunga atau keuntungan dari selisih kurs, ia terima bersih tanpa ada potongan pajak dan lain-lain.Pasca era kegelapan ini, bagi Indonesia hanya punya dua pilihan yaitu membuat arsitektur ekonomi baru lebih kuat tapi tetap menarik. Menciptakan struktur Internasional baru yang akan membuat Indonesia berhasil menjadi net export yang dapat menghimpun cadangan devisa riil dari hasil ekspor, bukan hanya  yang berasal dari utang luar negeri atau dari investasi portofolio. Ini soal manajemen kebijakan ekonomi untuk menempatkan posisi Indonesia sebagai peserta penting dalam globalisasi dan liberalisasi ekonomi ke depan pasca masa sulit. (penulis adalah pemerhati ekonomi dan industri, tinggal di Jakarta)

Berita Terkait

Komentar

Komentar