Ekonomi Nasional Boros, Bocor Disana-sini

images

Oleh: Fauzi Aziz

 

UNGKAPAN dan kiasan ini enak dibaca dan jika konteksnya kita bawa ke dalam suasana ke-Indonesiaan-an, maka boleh jadi sangat kontekstual. Kita sepakat Indonesia harus bisa menjadi digdaya di bidang ekonomi karena potensi dan modalitasnya cukup tersedia di dalam negeri.

Indonesia akan menjadi kekuatan ekonomi nomor 7 di dunia pada tahun 2050 sudah diramalkan oleh lembaga pemeringkat internasional yang cukup kredibel. Sebagai bangsa Indonesia, kita percaya dengan ramalan tersebut sepanjang seluruh pemangku kepentingan bangsa ini bisa berkolaborasi, bahu membahu dan bekerja dalam semangat ringan sama dijinjing berat sama dipikul.

Kita harus lakukan upaya dan langkah besar untuk mewujudkan ramalan tersebut, meskipun Menteri Perencanaan Pembangunan/Kepala Bappenas mengatakan ekonomi Indonesia dewasa seperti dalam zaman penjajahan.

Jika benar pernyataan tersebut, berarti negeri ini harus melakukan lompatan besar yang terukur untuk melaksanakan pembangunan ekonomi. Upaya dan langkahnya sudah tepat tinggal bagaimana melaksanakan dan mengelolanya.

Indonesia kini ibarat sebuah korporasi dan holding raksasa di dunia yang nilai asetnya sangat besar, namun kapitalisasinya belum terlalu besar. Volume ekonominya kini mencapai sekitar Rp 13 ribu triliun lebih yang hingga akhir tahun 2019 pertumbuhannya rata-rata ditargetkan 7%.

Namun kini hingga kwartal-III/ 2016, ekonomi hanya bisa tumbuh 5,02% dan pada keseluruhan tahun 2016 diperkirakan bisa tumbuh 5,1%. Berat sekali untuk tumbuh tinggi ekonomi nasional ini karena prosesnya masih boros, tidak efisien dan terjadi kebocoran disana-sini seperti tak akan kunjung bisa dihentikan. Indonesia harus bisa keluar dari fenomena Stuck In The Middle atau tidak berhasil meraih keunggulan manapun.

Sebagai ibarat korporasi raksasa, Indonesia harus berhasil melakukan potitioning yang merupakan tindakan perancangan penawaran dan citra suatu bangsa, sehingga Indonesia bisa menempati posisi yang unggul dan berbeda dan bernilai dalam pikiran rakyat di dalam negeri dan di luar negeri, serta masyarakat dunia.

Ada  tiga isu penting yang menjadi perhatian pemerintah untuk mencapai Indonesia yang unggul dan berdaya saing, yakni memiliki keunggulan operasional dalam menjelejahi pasar dunia dan mengamankan pasar dalam negeri.

Berikutnya pemerintah harus bisa menjaga hubungan baik dengan warganya secara transparan dan akuntabel. Dan mampu melahirkan kebijakan publik dan kebijakan bisnis dan investasi yang bersifat koheren untuk menjadi pemimpin pasar yang berhasil.

Ekonomi Indonesia mengalami tekanan berat,baik dari dalam maupun dari faktor eksternal.Tekanan dari dalam antara lain yang terberat ada lah banyak aktor politik dan di birokrasi yang hobi berburu di kebon binatang menciptakan oligarki melalui KKN yang menggerogoti aset bangsa berupa sumber daya alamdan sumber daya ekonomi lainnya.

Permainan ini sangat menyengsarakan Indonesia, tetapi membawa nikmat duniawi para pihaknya yang terlibat. Dalam satu rangkaian proses ekonomi, untuk menghasilkan output ekonomi, Indonesia banyak digerogoti oleh KKN di sisi input dan proses.Yang luar biasa, sebagai para penikmat rente tak mempunyai rasa bersalah ketika tertangkap tangan oleh aparat penegak hukum seperti KPK.

KKN dan operasi perburuan rente yang. menggurita telah menggerogoti volume ekonomi seperti kerusakan lingkungan hidup yang ditengarai membebani pertumbuhan ekonomi di dalam negeri. Mereka bisa berbeda pendapat, tetapi bisa bersatu ketika melakukan perburuan merampok aset negara.

ESDM dan Pertamina Sarang Penyamun

Sampai di pemberitaan muncul ketika Menteri Keuangan Sri Mulyani meminta KPK untuk “memeriksa” Kementrian ESDM dan Pertamina. Patut diduga, institusi tersebut sarang penyamun, yang mampu melakukan aksi profit taking melalui kegiatan perburuan rente.

Kegiatan berburu di kebun binatang rupanya merupakan bahaya laten yang perlu selalu diwaspadai karena bisa merontokkan sendi-sendi dan pundi-pundi kekayaan negara. Kucing putih dan kucing hitam yang berburu di kebun tikus jumlahnya masih terlalu banyak di negeri ini sehingga penegakan hukum harus dilakukan tanpa pandang bulu.

Indonesia harus bisa keluar dari berbagai jebakan dalam mengelola seluruh aset bangsa. Berbagai bentuk jebakan besar yang harus diwaspadai dan harus bisa diatasi oleh seluruh komponen bangsa dan dipimpin langsung oleh Presiden RI antara lain dapat dijelaskan sebagai berikut.

Pertama, terbentuknya oligarki di sarang penyamun migas dan minerba yang mengakibat ekonomi terganjal pertumbuhannya. Negeri ini kaya gas alam, tetapi nyaris mati di lumbung gas karena harga gas diekspor dengan harga rendah dan dijual di dalam negeri dengan harga tinggi, bisa tiga kali lipat dari harga yang diekspor.

Kejam sekali kebijakan yang seperti itu. Sebab itu, patut dilakukan koreksi. Sikap pengambil kebijakan harga gas di dalam negeri harus bisa melepaskan diri dari jebakan batman yang rakus. Kedua, bebaskan Indonesia dari jebakan paradox of planty.  Jebakan ini menurut Stiglitz adalah sebuah kondisi dimana suatu negara kaya sumber daya alam, tetapi rakyatnya tetap miskin.

Dalam situasi seperti ini, paradox of planty sangat berpotensi menjadi terjadinya konflik sosial, dimana dalam setiap konflik selalu melibatkan antara si kaya dan si miskin. Ketiga, Indonesia harus bisa keluar dari dilema dan trade off yang hingga kini, Indonesia belum sepenuhnya berhasil keluar dan paradox tersebut.

Dilema dan trade off tersebut antara lain berupa trade off antara pertumbuhan dan distribusi pendapatan. Isu ini sudah terlalu banyak dibahas. Trade off  berikutnya adalah kesempatan kerja tinggi versus inflasi tinggi dan pemilikan negara versus pemilikan swasta dan isu-isu lain yang penting.

Keempat, Indonesia harus pula bisa membebaskan diri dari jebakan yang lain, yakni keluar dari middle income trap. Dalam situasi seperti ini, akselerasi pembangunan industri harus terjadi sebagai engine of growth perekonomian.

Periode 2015-2019 dan berlanjut pada tahun 2020-2025 adalah merupakan periode kunci dan menentukan jika Indonesia ingin keluar dari jebakan middle income trap.

Studi ADB mengatakan negara yang mencapai status berpendapatan tinggi yakni perkapita di atas 15 miliar dolar AS dan sektor manufakturnya minimal berkontribusi 18% terhadap total produksi dan lapangan kerja dalam kurun yang panjang, sulit bagi Indonesia bisa keluar dari jebakan middle income trap. Berarti, negeri ini mengalami stuck in the middle. Re-industrialisasi menjadi tindakan strategis dan taktis yang tidak boleh gagal dilaksanakan.

Empat tantangan yang bersifat paradox dan dilematis tersebut setiap rezim yang berkuasa siapapun mereka harus bisa fokus  mengatasi masalah yang sangat fondamental. Pilihannya adalah kolaborasi.

Jangan lagi berburu di kebun binatang dan keluarlah dari sarang penyamun menggerogoti aset negara. Negeri ini besar, jangan dipermainkan dengan praktek politik kotor yang menjijikkan, memilukan dan memalukan, serta gemar berlindung di balik tirai sarang penyamun.

Sampai pemerintah tak punya nyali menurunkan harga gas dan harga bahan pokok. Semoga Indonesia  segera bisa membebaskan diri dari keseluruhan paradox ekonomi dan selamatlah negeri kita dari kemandegan dan beragam masalah. (penulis adalah pemerhati masalah sosial ekonomi dan industri).

Humbanghas
Humbanghas

Berita Terkait

Komentar

Komentar