Elektronik dan Mainan Anak Cina, Dumping

Laporan : Sabar Hutasoit

Ilustrasi

Ilustrasi

JAKARTA, (Tubas) – Strategi dagang Cina dalam kerangka perjanjian perdagangan bebas Asean-China Free Trade Area (ACFTA) mengindikasikan terjadinya praktek menjual barang ekspor lebih murah dari harga di dalam negeri (dumping).

Dari temuan 38 barang sejenis yang masuk ke pasar Indonesia yang terindikasi dumping, sebagian besar merupakan produk elektronik dan mainan anak.

“Ada beberapa macam produk, namun yang dominan memang elektronik dan mainan anak,” ujar Direktur Jenderal Kerjasama Industri Internasional (KII), Kementerian Perindustrian, Agus Tjahajana, di Jakarta, Senin (28/3).

Menurutnya, temuan itu bisa mengindikasikan praktek dumping tersebut juga terjadi pada beragam jenis komoditas lain. “Karena, survei yang dilakukan tim KII memang hanya dilakukan di Shanghai dan Guangzhou dengan tempat dan waktu yang terbatas. Mungkin saja bila diperluas di tempat lain yang menjadi sentra pasar produk lain, akan lebih banyak temuan terkait indikasi dumping,” ujarnya.

Selain itu, imbuhnya, temuan lain yang menunjukkan barang impor tertentu dari Cina merupakan barang yang sudah tidak laku di pasar Cina juga harus diwaspadai.

“Jangan sampai masyarakat membeli barang afkiran yang kualitasnya buruk demi harga murah. Kita juga harus mendorong produsen dalam negeri untuk memproduksi barang dengan harga terjangkau namun tetap memenuhi standar kualitas yang baik. Minimal memenuhi standar nasional Indonesia (SNI),” ujarnya.

Untuk mengatasi persoalan ini, dalam jangka pendek pemerintah akan mengkaji produk apa saja yang dikhawatirkan akan tersisih oleh praktek dagang Cina tersebut.

“Kita akan mengkaji produk-produk yang berpotensi terus tersisih ini untuk melakukan perhitungan, supaya bisa menentukan kebijakan yang seimbang,” tuturnya.

Sementara itu, menurut Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian Anshari Bukhari, praktek perdagangan yang tidak adil (unfair trade) juga terjadi di produk lain dengan memanfaatkan perbedaan musim.

“Contoh penjualan garmen. Musim di sana habis lalu dijual di sini dengan harga murah. Misalnya di Cina dijual US$ 50, di sini US$ 25. Itu dumping,” ujar Anshari. ***

Berita Terkait

Komentar

Komentar