Etiket Pergaulan

Oleh: Utomo Kartosuwondo

ilustrasi

ilustrasi

MENERAPKAN etiket pergaulan merupakan suatu irama hidup yang bermanfaat sekali dalam mengarungi kehidupan sosial bermasyarakat di zaman serba modern dan serba canggih ini. Etiket menyangkut perilaku manusia, mengatur perilaku normatif yang berarti memberi norma bagi perilaku manusia, apa yang harus dilakukan atau tidak boleh dilakukan.

Etiket berasal dari bahasa Perancis: etiquette yang dapat diartikan sopan santun dalam pergaulan, yang lebih menitik beratkan pada cara-cara berbicara yang sopan, cara berpakaian, cara duduk, cara menerima tamu di rumah ataupun di kantor, dan tatacara sopan santun lainnya yang keseluruhannya bertujuan untuk memperlancar pergaulan dalam kehidupan di alam ramai yang bergejolak dan penuh persaingan ini. Etiket ini hanya berlaku dalam pergaulan.

Ditinjau dari cara beretiket dalam pergaulan ini, maka tidak berlebihan apabila pribadi berbudi pekerti diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga menjadi etiket pergaulan yang baik, bahkan tidak hanya etiket pergaulan saja, tetapi bisa menyeluruh sebagai suatu etika; istilah etika ini berasal dari bahasa Inggris: ethics yang dapat diartikan aturan mengenai nilai dan prinsip moral yang merupakan pedoman bagi seseorang atau suatu kelompok dalam melaksanakan kegiatannya, yang kerapkali juga disebut kode etik ataupun filsafat moral.

Kematangan sikap pribadi yang didasari budi pekerti yang baik membentuk kepribadian yang sangat kuat apabila berhadapan dengan orang lain, baik perorangan maupun kelompok; inilah pelaksanaan sopan santun atau tatakrama dari masyarakat yang beradab yang dikenal dengan etiket pergaulan. Dalam memelihara budi pekerti yang baik kita dilatih untuk sabar, jujur, ikhlas, mau menerima apa saja dengan rasa syukur.

Dalam pergaulan sehari-hari apabila kita menemukan sesuatu yang negatif sebenarnya kita tidak perlu “mengeluh” yang berupa apa saja kepada orang lain. Agar kita tidak selalu mengeluh pada keadaan, harus didasari kepercayaan yang kuat kepada Tuhan, dan kita selalu bersandar kepada Tuhan, yang berarti menangis saja kepada Tuhan, mencari pengungsian di bawah lindungan Tuhan apabila menemui keadaan yang negatif. Oleh karena barangsiapa menerima pertolongan Allah, tidak akan mengalami kerugian yang disebabkan oleh kejahatan orang lain.

Dalam mengerjakan sesuatu terutama dalam menghadapi pekerjaan tidak jarang kita bertindak dengan tergesa-gesa, hingga sepertinya tidak mempunyai aturan, ini perlu kita hindari. Oleh karena semua kejadian memerlukan prosesnya sendiri-sendiri, jadi apa pun pekerjaan atau keadaan harus dijalankan dengan tekun dan teliti, tidak perlu tergesa-gesa, didasari dengan kesabaran, sehingga proses berjalan teratur dan baik.

Ini layaknya seperti air yang tadinya keruh, kalau sudah mengendap menjadi jernih. Jadi, demikian pula untuk segala persoalan, gagasan dan cita-cita, dapat menjadi tenang bilamana pikiran sudah mulai mengendap. Gerak tingkah yang sudah sampai pada puncaknya, biasanya lalu mengendap, kemudian diperoleh sifat yang jernih.

Dalam pergaulan hidup kadang-kadang kita merasa lebih dari orang lain dalam segala bidang, sehingga tidak jarang kita bersemangat memberi nasehat apa saja kepada orang lain hanya karena sikap emosional. Jika kita bermaksud memperbaiki orang lain ataupun masyarakat, harus dapat memperbaiki diri sendiri terlebih dahulu. Demikian pula apabila kita sedang berbicara kepada orang lain yang ternyata tanpa kita sadari bisa berdampak negatif terhadap lawan bicara kita.

Perlu disadari bahwa berbicara yang berguna adalah lebih baik daripada diam, tetapi diam dari kata-kata yang dapat menimbulkan kesusahan orang lain lebih baik daripada berbicara. Maka janganlah menganggap mudah mengeluarkan kata-kata yang melukai hati orang lain, sebab lukanya akan membekas lebih dalam daripada luka terkena senjata tajam. Dalam bergaul kita sebaiknya mampu untuk menahan diri dari kata-kata yang akan kita keluarkan dari mulut kita.

Di sinilah perlunya kita mempunyai watak sabar dan ikhlas. Perlu diketahui bahwa mulut itu selain menjadi alat untuk memasukkan makanan, juga menjadi alat untuk mengeluarkan kata-kata. Jagalah agar apa yang masuk ke dalam dan ke luar dari mulut dapat bermanfaat, jangan sampai membuat celaka orang lain.

Yang tidak kalah pentingnya dalam etiket pergaulan adalah sikap fisik, baik menghadapi perorangan maupun kelompok. Apa yang terlihat oleh orang lain mengenai sikap fisik atau sikap tubuh, ternyata tidak jauh dari sikap kita pada saat itu, apakah mengikuti kaidah tatakrama atau tidak. Jika sikap kita “semau gue” tanpa mengindahkan sopan santun seperti menghadapi seseorang ataupun orang banyak misalnya dalam suatu acara formal dengan cara duduk kita yang sangat santai, ini sangat berpengaruh dalam suasana yang diperlukan.

Banyak sekali hal-hal yang tampaknya kelihatan sepele atau kurang berarti, tetapi sangat berpengaruh dalam etiket pergaulan yang baik. Contoh yang menarik adalah dalam menghadapi tamu yang datang ke tempat kediaman kita, dan apabila tamu itu pulang, apakah kita juga ikut mengantarnya ke luar atau tidak.

Hal kecil tetapi dapat menjadi indikator apakah kita menghormati orang lain tanpa membebakan atau tidak? Apabila ya, hal ini menunjukkan bahwa kita dapat mengasihi sesama. Hidup saling menghormati kepada semua orang tanpa membedakan jenis, bangsa dan agama, merupakan sikap terbaik dalam menghadapi gejolak kehidupan masa kini yang selalu memancing-mancing untuk berselisih dan bertengkar.

Dengan mengasah budi pekerti secara tekun kita akan mampu menunjukkan pelaksanaan tatakrama ataupun sopan santun bermasyarakat yang baik. Seribu satu macam kejadian sehari-hari terutama dalam pergaulan, memberikan pengalaman berharga kepada kita, apakah budi pekerti kita berpengaruh nyata dalam etiket pergaulan, atau apakah budi pekerti kita sudah dengan sendirinya mengikuti etiket pergaulan yang baik dan apakah kita beretika dalam kehidupan yang berlaku di masyarakat pada umumnya.

Tidak berlebihan jika kita menyimpulkan bahwa dengan budi pekerti yang baik di dalam kehidupan sehari-hari, maka ini sudah mencakup syarat etiket pergaulan maupun etika kehidupan secara menyeluruh. ***

Topik :

Berita Terkait

Komentar

Komentar