Eyang – Mbah

Oleh: Fauzi Aziz

ilustrasi

ilustrasi

DALAM tradisi Jawa, eyang atau mbah adalah panggilan terhadap seseorang yang dituakan dalam satu keluarga atau kerabat dekat. Panggilan tersebut adalah manifestasi dari bentuk penghormatan dari yang muda terhadap yang dituakan dalam satu rumpun keluarga. Eyang atau mbah dianggap sosok yang dinilai banyak mengenyam asam garam dalam kehidupan.

Karena itu, nasehat dan petuahnya acapkali menjadi rujukan bagi yang muda dalam menapaki jalan hidupnya di kala suka maupun duka, karena yang disampaikan eyang atau mbah mengandung petuah- petitih yang mencerahkan penuh kearifan. Yang disampaikan adalah hal-hal yang baik, apakah menurut kaidah agama maupun kaidah adat atau tradisi.

Tujuannya adalah agar pihak yang dinasehati dapat menjalankan manajemen kehidupannya tidak tersesat dan agar hidup yang dijalaninya bermanfaat bagi orang lain dan tentu bagi diri dan keluarganya, sepanjang nasehat atau petuah- petitih yang disampaikan itu tidak bertentangan dengan ajaran agama yang dianutnya.

Barangkali hal yang disampaikan adalah norma agama, yang ditransformasi ke dalam nilai kebiasaan/adat/tradisi untuk sekedar memudahkan dalam komunikasi dalam memahaminya. Tapi manakala bertentangan dengan ajaran agama yang dianut, sejatinya saat itu, baik bagi si eyang pemberi nasehat dan yang diberi nasehat, pada dasarnya petuah-petitih yang disampaikan dapat dianggap mengandung unsur yang “menyesatkan”.

Gelar eyang atau mbah adalah stratifikasi sosial di masyarakat yang umum berlaku di Jawa dan konsep dasarnya adalah sekedar memberikan makna bahwa yang muda harus secara tulus memberikan penghormatan kepada yang dituakan. Dengan segala kelelebihan dan kekurangannya sang eyang atau si mbah adalah sosok yang kaya pengalaman di sepanjang hidupnya. Pantas dimintai nasehat.

Opini ini tidak berniat “menghakimi” atas berbagai fenomena kehidupan di masyarakat yang “mendewakan” eyang atau mbah. Namun agar julukan eyang dan mbah tidak menimbulkan komplikasi pemaknaan yang salah, maka gelar eyang atau mbah sebaiknya tidak dipakai menjadi gelarnya orang-orang yang berprofesi sebagai dukun, peramal dll.

Eyang atau mbah adalah sosok manusia yang terhormat di mata keluarga. Dalam rumpun keluarga, dia adalah pendidik dan selalu bersikap positif serta selalu mendoakan kepada anak cucu, cicit dan kerabatnya agar hidupnya selalu di jalan yang lurus dan menasehatkan agar hidupnya mendatangkan kemuliaan di sisi Tuhan-Nya dan di sisi kemanusiaan.

Eyang atau mbah memang bukan kiai, ustad, pendeta, biksu atau guru, tapi pada umumnya mereka piawai menjalankan perannya seperti itu. Eyang atau mbah Sabar dalam keluarganya pasti akan dihormati sebagai sosok yang dituakan, pantas dimintai nasehat bijaknya oleh anak-anak dan cucu-cucunya.

Eyang atau mbah Sabar memberikan nasehatnya kepada istri, anak dan cucunya dalam suasana keakraban berpantun, bersenandung, memberikan petuah- petitih, istriku yang baik, anak dan cucuku yang budiman, urip nang ndonyo mik sepisan,mulo ojo dumeh, kabeh sing semeleh.

Gusti Allah yang mengatur kehidupan kita. Sekarang adalah waktunya bagi kita untuk menikmati secangkir kopi panas dan sepiring pisang goreng dan singkong goreng bikinan eyang putri. Mari berdoa bersama sebelum kita santap hidangan itu.

Inilah kira-kira sosok eyang atau mbah Sabar di tengah keluarganya. Nampak dari situ tergambarkan betapa eyang Sabar sangat bijak, tutur katanya halus penuh makna, pengayom dan pendidik di lingkungan keluarga besarnya. Pandangan ini bersikap subyektif tentang pemaknaan dan penghayatan konsep eyang atau mbah.

Dengan segala keterbatasannya, mohon maaf jika pemahaman tersebut salah atau tidak tepat. Ini adalah persepsi penulis yang sekarang juga sudah dipanggil eyang atau mbah, seperti eyang atau mbah Sabar. ***

Topik :

Berita Terkait

Komentar

Komentar