Faktor Perbaikan Ekonomi Global Selalu di Bawah Bayang-bayang Ketidakpastian, Berat Tantangannya

Oleh: Fauzi Aziz

 

PERTAMA, jika kita lihat data BPS tentang kinerja ekonomi triwulan 3-2021 yang terkait kinerja industri ada beberapa catatan menarik. Pertumbuhan ekonomi pada triwulan ini y-on-y, 66,42% PDB berasal dari sumbangan industri, pertanian, perdagangan, konstruksi, dan pertambangan. Rata-rata berarti 13,28%.

KEDUA, pertumbuhan menurut 17  lapangan usaha pada triwulan 3- 2021 terdapat 11 lapangan usaha tumbuh positif, dan 6 lapangan usaha tumbuh negatif, yaitu akomodasi & makan minum (-013), jasa lainnya (-0, 30%), jasa perusahaan (-0, 59%), transportasi dan pergudangan ( 0,72), jasa pendidikan (- 4,42%), dan administrasi pemerintahan (-9, 96%). Dari 11 lapangan usaha yang tumbuh positif, industri pengolahan tumbuh 3,68% (nomor 9), real estate 3,42% ( nomor 10), dan pertanian 1,31% ( nomor 11).Nomor 1 sampai 8 berturut-turut adalah jasa kesehatan ( 14,06%), pertambangan ( 7,78%), infokom(5, 51% ), perdagangan ( 5,16%), jasa keuangan ( 4,29%), pengadaan listrik dan gas ( 3,83%), konstruksi ( 3,84%).

KETIGA, capaian tersebut yang mengakibatkan ekonomi pada triwulan 3-2021 hanya tumbuh 3,51% karena dilihat dari sisi lapangan usaha hanya ada 11 yang tumbuh positif, dan 6 tumbuh negatif. Sektor industri pengolahan non migas tumbuh 4,12% dan industri batubara dan pengilangan migas tumbuh 0,77%.

Di sektor industri non migas yang tumbuh tinggi adalah alat angkut 27,84%, kimia, farmasi dan obat tradisional tumbuh 9,71%, logam dasar 9,52%, makanan dan minuman tumbuh 3,49%. Ada tiga sektor yang tumbuh negatif, yakni tekstil dan pakaian jadi ( -3, 34%), kertas dan barang dari kertas, percetakan dan reproduksi media rekaman, industri karet, barang dari karet dan plastik (-2, 80%).

Capaian ini yang menyebabkan industri pengolahan non migas tumbuh hanya 4,12%, dan industri pengolahan migas dan non migas hanya tumbuh 3,68% dan posisinya berada pada nomor 9 dari 11 lapangan usaha yang tumbuh positif pada triwulan 3-2021.

Cukup Berat

KEEMPAT, itulah skor sementara yang diraih oleh sektor industri pengolahan pada triwulan 3-2021. Pasca pandemi covid 19 dan kondisi perekonomian global dan di dalam negeri terus mengalami perbaikan ke depannya, maka harapannya kinerja industri pengolahan sebagai soko pertumbuhan ekonomi tidak terdegradasi dari penyumbang PDB akibat mengalami tekanan untuk tumbuh.

Tahun ini hingga akhir 2024 harapannya tidak mengalami degradasi pertumbuhan karena dalam RIPIN sektor industri 2015- 2035 , sektor ini dipasang target tumbuh 9,1% dan berkontribusi terhadap PDB sebesar 27,4% pada tahun 2025.

Cukup berat tantangannya karena faktor perbaikan pertumbuhan ekonomi global selalu di bawah bayang-bayang ketidakpastian dan kapan pandemi covid 19 akan berakhir tidak ada yang bisa memprediksi.

KELIMA, tantangan internalnya adalah membangun keunggulan produktifitas industri. Tantangan eksternalnya adalah  maksimalisasi kontribusi dalam global value chain di hulu, antara dan hilir. Tantangan yang lain adalah bahwa industri yang tumbuh tidak bertabrakan dengan arah baru konsep pembangunan berkelanjutan yang berarti harus bisa hidup dalam sistem ekonomi hijau.

Dengan demikian berarti bahwa the political industrial economy of policy making-nya disiapkan kearah terbentuknya struktur industri yang memiliki keunggulan produktifitas, terspesialisasi, adaptif terhadap perkembangan teknologi, dan mendorong terjadinya re-alokasi sumber daya ekonomi dan industri agar secara internal, sistem industrinya mampu bekerja menciptakan keunggulan produktifitas.

KEENAM, satu misi politik industri yang paling berat dipikul selain harus bertransformasi secara teknokratik juga harus bisa menjadi instrumen penghantar bagi terciptanya keseimbangan kemajuan antar sektor, dan terbentuknya kesatuan ekonomi nasional yang efisien dan produktif.

Berarti bahwa pertumbuhan industri ke depan memilki kewajiban untuk berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia secara spasial yang pada triwulan 2-2021 masih di dominasi JAWA 57,54%. Sumatera 21,95%, Kalimantan 8,32%, Sulawesi 6,98% Maluku- Papua 2,45% , dan Bali-Nusatenggara 2,75%. Membuat keseimbangan kemajuan dan terwujudnya kesatuan ekonomi nasional jelas membutuhkan arah politik ekonomi industri baru, re-alokasi sumber daya , dan ekosistem baru . (penulis adalah pemerhati ekonomi dan industri).

Berita Terkait

Komentar

Komentar