FGD di Bandung; Daya Saing Industri TPT dan Alas Kaki Harus Ditingkatkan

Elis Masitoh

 

BANDUNG, (tubasmedia.com) – Pertumbuhan  ekonomi di Singapura, Amerika Serikat, Tiongkok, Jepang dan Korea selaku negara tujuan ekspor pakaian jadi dan alas kaki dari Indonesia, mengalami perlambatan. Akibatnya berimbas pada melemahnya permintaan pasar ekspor Indonesia.

Demikian diungkapkan Direktur Industri Tekstil, Kulit dan Alas Kaki, Elis Masitoh pada Forum Grup Discution (FGD) yang diselenggarakan Ditjen Industri Tekstil, Kulit dan Alas Kaki, di Bandung kemarin.

FGD bertema “Peningkatan Daya Saing Industri Pakaian Jadi dan Alas Kaki Melalui Penyelesaian Permasalahan Ketenagakerjaan” itu secara resmi dibuka Plt Dirjen Industri Kimia Farmasi dan Tekstil (IKFT) Kementerian Perindustrian, Ignatius Warsito yang tampil secara online.

Dalam kesempatan itu, Warsito menyebut industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) merupakan industri yang pertumbuhannya terus didorong pemerintah.

Kinerja sektor inipun, pada triwulan pertama 2022 cukup menggembirakan dengan angka pertumbuhan 12,45 % Y-on-Y. Demikian juga kenaikan angka ekspor, cukup baik. Sampai dengan bulan Mei 2022, nilai ekspor mengalami peningkatan yang signifikan sebesar 27,9 % atau menjadi USD 6,08 miliar terutama didorong oleh peningkatan ekspor pakaian jadi dan benang.

‘’Bahkan pertumbuhan industri TPT juga sangat signifikan,’’ lanjutnya.

Semakin Terbatas

Elis Masitoh foto bersama dengan para nara sumber dan peserta FGD

 

Elis Masitoh menambahkan, selain perlambatan pertumbuhan ekonomi tersebut, tantangan lain bagi industri TPT Indonesia adalah konflik Rusia –Ukraina yang menyebabkan terjadinya kenaikan harga komoditas, energi dan pangan serta dampak perang lainnya.

Akibat dari peristiwa-peristiwa tersebut di atas, market produk garmen dan alas kaki Indonesia semakin terbatas bahkan semakin mengecil. Bahkan jika keadaan yang tidak menggembirakan itu terus berkepanjangan di luar negeri, bukan tidak mungkin pasar ekspor garmen dan alas kaki Indonesia akan semakin sulit.

Belum lagi dibebani oleh masalah ketenagakerjaan terkait besaran dan perbedaan upah di tiap-tiap daerah yang selalu menimbulkan gesekan antara pengusaha dengan pekerja.

Harus dicatat, kata Elis bahwa struktur biaya produksi garmen dan alas kaki terbesar adalah di bidang tenaga kerja. Karena itu masalah ketenagakerjaan pada industri garmen dan alas kaki harus dikondisikan serapih mungkin sehingga dapat menekan terjadinya gesekan-gesekan antara pengusaha dengan tenaga kerja.

Ditambahkan oleh Elis bahwa untuk menghadapi segala tantangan di pasar ekspor tersebut, daya saing produk garmen dan alas kaki wajib ditingkatkan.

Meningkat tidaknya daya saing produk garmen dan alas kaki Indonesia kata Elis sangat ditentukan faktor ketenagakerjaan, artinya jika hubungan pengusaha dengan tenaga kerja berjalan secara harmonis dan kondusif, maka daya saing produk garmen dan alas kaki nasional akan terus meningkat dan dengan demikian persaingan ketat di pasar ekspor akan dapat dimenangkan produk Indonesia.

‘’Pokoknya sektor padat karya ini harus kita selamatkan khususnya dari ancaman resesi dunia. Tentunya melalui peningkatan daya saing,’’ tegasnya.

Di bagian lain sambutannya disebut bahwa Kemenperin menargetkan kinerja positif di tahun 2022, khususnya pada industri tekstil dan pakaian jadi dengan target laju pertumbuhan PBB sebesar 4,81 persen, nilai investasi Rp 12,10 triliun dan nilai ekspor USD 19,33 miliar. (sabar)

 

 

 

 

 

 

Berita Terkait