Gaptek

Oleh : Sabar Hutasoit

Ilustrasi

Ilustrasi

JUDUL tulisan di atas adalah singkatan yang sering diucapkan oleh kaum remaja. Gagap teknologi, begitulah kepanjangan Gaptek dan selalu dilontarkan kepada siapa saja yang terlihat ragu ketika berhadapan dengan teknologi modern saat ini. Satu lagi ungkapan yang mirip dengan gaptek adalah Jadul (jaman dulu).

“Jadul banget sih kamu,” kata seorang gadis remaja kepada rekannya karena terlalu banyak bertanya sekitar alat komunikasi yang mereka pegang. Tidak mengherankan memang, kemajuan teknologi yang teramat pesat itu telah pula melahirkan banyak orang gaptek. Ternyata gaptek tidak pandang bulu, tidak pandang usia dan juga tidak pandang status.

Gaptek ternyata tidak hanya menyerang kaum marjinal, orang miskin, orang terbelakang dan manusia non elite. Gaptek menyelusup juga kepada orang-orang yang menyatakan dirinya golongan elite yang berkantung tebal. Penguasa lagi.

Mau bukti? Kunjungan anggota Komisi VIII DPR ke Australia awal Mei 2011 menjadi lelucon di Youtube. Salah satu yang menjadi pangkal lelucon itu adalah alamat email Komisi VIII @yahoo.com. Ceriteranya?

Menurut sumber-sumber yang layak dipercaya dan juga di Youtube Rabu 04 Mei 2011, rombongan Komisi VIII DPR melakukan studi banding ke Australia tanggal 26 April hingga 2 Mei 2011 yang baru lalu.

Di negeri Kanguru itu, para wakil rakyat dari Komisi VIII beralasan hendak melakukan studi banding dalam rangka menggodok RUU Fakir Miskin. Anggaran kunjungan untuk membahas kemiskinan menghabiskan sekitar Rp 800 juta. Sungguh sangat spektakuler, untuk menggodok RUU orang miskin, harus menghabiskan uang hampir Rp 1 miliar.

Karena itu tidak mengherankan pula kalau plesiran ini menuai protes dari para pelajar Indonesia di Australia, hingga kemudian akhirnya Komisi VIII membuat audiensi. Dengan mengambil tempat di KJRI Melbourne, Rabu 27 April 2011 malam hari waktu setempat, Ketua Komisi VIII DPR Abdul Kadir Karding membuka diskusi. Sejumlah program dan tujuan kunjungan dipaparkan politisi PKB itu.

Hingga akhirnya sampai kepada sesi tanya jawab. Seperti sudah dipaparkan PPI Australia dalam siaran persnya, mereka mempersoalkan agenda kunjungan dan waktu kunjungan. Saat kunjungan DPR dilakukan, Parlemen Australia tengah berlibur, ditambah lagi Komisi VIII tidak mengagendakan bertemu dengan pihak pemerintah Federal Australia yang menangani urusan kemiskinan.

Pertanyaan mengalir deras ke Komisi VIII. Akhirnya dengan alasan waktu habis, diskusi diakhiri walau masih banyak pertanyaan yang belum dijawab. “Prinsipnya kita anggota Komisi VIII terbuka atas semua masukan,” kata seorang pria yang berdiri di depan dan memegang mikrofon.

Saat itu, seorang pelajar memotong ucapan anggota Komisi VIII tersebut. Dia meminta alamat email para anggota dewan. Seorang anggota DPR perempuan berseru, “Alamat email Komisi VIII @yahoo.com.” Ucapan soal alamat email ini diulang beberapa kali. Atas penyebutan alamat email itu para pelajar seolah tidak percaya kalau parlemen Indonesia memakai alamat email gratisan bukan “go.id” seperti lazimnya.

“Komisi 8 @yahoo.com,” ucap ibu itu. Keriuhan pun terjadi. Para pelajar meminta kejelasan alamat email, hingga kemudian seorang pria mengulang dengan keras alamat email itu. “Ya itu, alamat staf ahli Komisi,” katanya.

Persoalan muncul, ternyata alamat email itu tidak ada. Berulang kali coba alamat email [email protected], [email protected], juga [email protected] memastikan tidak ada alamat email itu. Gaptek. ***

Berita Terkait

Komentar

Komentar