Gatot: TNI Berterima Kasih Kepada Haris…

18-

JAKARTA, (tubasmedia.com) – Panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI) Jenderal Gatot Nurmantyo menjelaskan, pelaporan yang dibuat  TNI atas dugaan pencemaran nama baik terhadap koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) Haris Azhar bukan dimaksud untuk mengkriminalisasi atau memenjarakan Haris.

Menurut Gatot, TNI justru berterima kasih kepada Haris karena telah memberikan informasi terkait keterlibatan oknum TNI berpangkat Mayor Jenderal dalam jaringan pengedar narkoba Freddy Budiman.

“Saya ucapkan terima kasih pada saudara Haris Azhar atas informasi yang disampaikan bahwa ada keterlibatan oknum bintang dua TNI,” ujar Gatot saat ditemui di kantor Kemenko Polhukam, Jakarta Pusat, Kamis (4/8/2016).

Gatot mengatakan, laporan dugaan pencemaran nama baik memang dibuat berdasarkan penuturan Haris. Namun, hal tersebut bertujuan untuk mendorong pihak Kepolisian RI melakukan penyelidikan dan penyidikan atas informasi yang diberikan Haris.

Pihak TNI, kata Gatot, tentu akan kesulitan menelusuri bukti keterlibatan oknumnya melalui keterangan dari pengacara Freddy dan dalam pleidoi di persidangan sebagaimana yang telah dituturkan oleh Haris.

Bila tidak terbukti, tentu Haris harus mempertanggungjawabkan informasi tersebut dan publik mengetahui bahwa tidak ada perwira TNI yang terlibat.

“Diharapkan dengan laporan TNI, polisi bisa bekerja. Ada kejelasan apa benar ada keterangan tersebut dari pengacara dan pleidoi. Mudah-mudahan ada nama yang mencuat, saya mudah untuk melakukan penyelidikan dan penyidikan,” ucap Gatot.

Sebelumnya, Haris Azhar mengaku mendapatkan kesaksian dari Freddy Budiman terkait adanya keterlibatan oknum pejabat Badan Narkotika Nasional, Polri dan Bea Cukai dalam peredaran narkoba yang dilakukan Freddy.

Freddy juga mengaku sempat membawa narkoba dari Medan menuju Jakarta dengan menggunakan mobil dinas seorang jenderal TNI berbintang dua.

Kesaksian Freddy, menurut Haris, disampaikan saat Haris memberikan pendidikan HAM kepada masyarakat pada masa kampanye Pilpres 2014.

Menurut Haris, Freddy bercerita bahwa ia hanyalah sebagai operator penyelundupan narkoba skala besar. Saat hendak mengimpor narkoba, Freddy menghubungi berbagai pihak untuk mengatur kedatangan narkoba dari China.

“Kalau saya mau selundupkan narkoba, saya acarain (atur) itu. Saya telepon polisi, BNN, Bea Cukai dan orang yang saya hubungi itu semuanya titip harga,” kata Haris mengulangi cerita Freddy.

Freddy bercerita kepada Haris, harga narkoba yang dibeli dari China seharga Rp 5.000. Karena itu, Freddy tidak menolak jika ada yang menitipkan harga atau mengambil keuntungan penjualan.

Oknum aparat disebut meminta keuntungan kepada Freddy dari Rp 10.000 hingga Rp 30.000 per butir.(red)

Berita Terkait

Komentar

Komentar