Gawat Darurat Narkoba 4,2 Juta Pelajar Indonesia menjadi Korban

190115-NAS-1

JAKARTA, (tubasmedia.com) – Berdasarkan hasil penelitian Badan Narkotika Nasional (BNN) hingga tahun 2014, Indonesia telah masuk kategori kondisi Gawat Darurat Narkoba.

Jumlah generasi muda khususnya di kalangan pelajar yang terbius ketergantungan narkoba sudah mencapai 22 persen dari total 4,2 juta jiwa yang menjadi korban ketergantungan narkoba di seluruh Indonesia. Mengerikan, karena setiap harinya 50 jiwa meregang nyawa direnggut bius narkoba. Sedangkan Jakarta merupakan kota dengan prevalensi penyalahgunaan paling tinggi dibanding kota-kota lain di seluruh Indonesia.

Menurut Kasubdit Media Elektronik Deputi Bidang Pencegahan BNN, Kombes Pol Chotidjah, peredaran gelap narkoba sudah sangat mengkhawatirkan. Bahkan dapat dikatakan Indonesia sudah dalam kondisi darurat narkoba. “Sebelumnya Indonesia merupakan pasar peredaran gelap narkoba. Tapi saat ini kita bahkan sudah menjadi negara produsen narkoba jenis tertentu.

Ini terlihat dari pabrik-pabrik narkoba berskala Internasional yang dibongkar BNN,” ujar Chotidjah dalam suatu percakapan lepas bersama tubasmedia.com di ruang kerjanya, Senin pagi (19/01/2015).

Dia mengajak komponen masyarakat, pendidik serta bangsa dan negara untuk bergandeng tangan mencegah terjadinya penyalahgunaan narkoba di kalangan pelajar.

Secara terpisah, Deputi Pencegahan BNN Yappi Manahe menanggapi tubasmedis.com mengisyaratkan pentingnya upaya rehabilitasi bagi pecandu narkoba. “Jika pecandu narkoba tidak direhabilitasi maka permintaan barang haram itu akan terus meningkat,” tandas Yappi.

Dia juga meminta kepada pelajar atau masyarakat jika ada teman, keluarga atau kerabat yang terlibat penyalahgunaan narkoba segera melapor ke BNN, Kementerian Kesehatan, Kementerian Sosial atau Institusi Pelaksana Wajib Lapor (IPWL) yang ditunjuk oleh pemerintah untuk mendapat layanan rehabilitasi gratis.

Disinggung bagaimana kalangan pelajar menyikapi kondisi Indonesia dalam keadaan darurat narkoba, Yappi menjelaskan, dikalangan pelajar ada penilaian betapa sulitnya menghindari penyalahgunaan narkoba karena sudah membaur dengan gaya hidup di arena komunitas fashion dan musik.

Selain itu banyaknya opera pesohor yang menggunakan narkoba juga ikut mempengaruhi tingginya penyalahgunaan narkoba di kalangan pelajar. “Penyalahgunaan narkoba yang menimpa artis menjadi gambaran betapa mereka tidak sensitif terhadap bahaya narkoba. Ironisnya lagi teman-teman kalangan pelajar banyak yang mendukung sikap hidup mereka,” kata Rahna Novia siswa Kelas XI SMA 43 Jakarta saat dimintai komentarnya menyangkut rawan narkoba di kalangan pelajar.

Pelajar berharap, agar strategi pencehahan narkoba harus lebih kreatif untuk mencegah peredaran narkoba yang makin merebak di kalangan pelajar. “Saya sering sekali melihat masyarakat yang memakai baju dengan gambar ganja. Padahal dengan memakai baju itu seolah menjadi legitimasi bahwa ganja itu legal,” tutur Novia menambahkan.

Penggunaan dan peredaran narkoba dewasa ini dinilai sudah sangat memprihatinkanj. Bahkan peredaran barang haram itu kini sudah bisa dikendalikan dari balik jeruji sel tahanan penjara. Koordinaror Indonesia Development Social Community (InDeCS) Yusuf Sahide menyebut, pemberantasan narkoba tidak bisa hanya dibebankan pada institusi terkait.

“Semua pihak dan lapisan harus ikut merasa tanggungjawab bersama. Menanamkan keyakinan prevention better than cure dan menumbuhkan kesulitan masyarakat untuk menjadi pelaku dalam gerakan masyarakat merehabilitasi korban penyalahgunaan narkoba.

Menurut Yusuf, mereka yang berisiko terjerumus dalam masalah narkoba adalah anak yang terlahir dari keluarga yang memiliki sejarah kekerasan dalam rumah tangga, dibesarkan dalam keluarga yang broken home dan ketidak harmonisan dalam keluarga. ”Sedang stress atau depresi memiliki pribadi yang tidak stabil atau mudah terpengaruh, merasa tidak memiliki teman atau salah dalam pergaulan,” kata Yusuf.

Mengacu pada persoalan tersebut, Yusuf mengingatkan agar para orang tua diharuskan turut serta mencegah terjadinya penyalahgunaan narkoba. Terlebih dalam kurun waktu dasawarsa terakhir, Indonesia telah menjadi salah satu negara yang dijadikan pasar utama dari jaringan sindikat peredaran narkoba yang berdimensi internasional untuk tujuan-tujuan komersil.

Dengan demikian kata Yusuf, target program Indionesia bebas narkoba 2015 diharapkan dapat menekan prevalensi pecandu narkoba sehingga berakhir dengan masyarakat akan imun terhadap bahaya narkoba.

Kakak beradik asal Aceh Murdani dan Safriadi alias Edy ditangkap BNN karena terbukti melakukan tindak pidana pencucian uang dari hasil bisnis peredaran gelap narkoba. “Edy memutar uang keuntungan hasil bisnis haram narkoba untuk dana pendukung bisnis properti yang dijalankan oleh kakak kandungnya Murdani,” ungkap Kepala BNN Komjen Anang Iskandar di BNN Cawang Jaktim. (marto tobing)

Berita Terkait

Komentar

Komentar