Generasi Penerus Industri Sepatu di Magetan Bermasalah

Kepala BPIPI, Edi Suhendro berpose di kantornya sembari memperlihatkan protoype sepatu fashion -tubasmedia.com/sabar hutasoit

 

MAGETAN, (tubasmedia.com) – Salah satu masalah pokok yang dihadapi industri persepatuan di wilayah Sidoardjo dan Magetan, Jawa Timur adalah ketersediaan tenaga untuk meneruskan industri tersebut.

Pasalnya anak-anak pemilik industri sepatu yang ada saat ini, umumnya enggan untuk meneruskan usaha orangtua mereka. Anak-anak muda di seputar Sidoardjo dan Magetan lebih memilih bekerja di tempat lain atau beralih profesi ketimbang menekuni industri sepatu milik orang tua mereka.

Demikian mengemuka dalam obrolan tubasmedia.com dengan Kepala Balai Pengembangan Industri Persepatuan Indonesia (BPIPI), Edi Suhendro bersama sejumlah pelaku industri sepatu serta pemerhati industri persepatuan nasional di seputar Magetan dan Sidoardjo, Jawa Timur kemarin.

‘’Ya benar. Yang dihadapi sekarang ini adalah keengganan generasi penerus meneruskan industri sepatu. Umumnya putra putri pemilik industri sepatu yang sudah menyandang gelar sarjana dari perguruan tinggi sudah memiliki rasa keengganan untuk kembali ke kampung meneruskan usaha orangnya,’’ demikian Edi Suhendro.

Menurut Edi, agak sulit rasanya jika ada niat untuk “memaksa” putra putri setempat untuk meneruskan industri orang tuanya sebab mereka akan berkata, apa gunanya kuliah kalau toch harus kembali ke kampung atau ke rumah orang tua.

Menurut Edi, tidak sedikit dari anak-anak daerah setempat yang kesarjanaan yang mereka miliki tidak ada kaitannya dengan industri persepatuan sehingga masuk di akal kalau anak-anak muda itu menolak untuk melanjutkan usaha orang tuanya.

Namun demikian, Edi menyatakan bahwa dirinya bersama seluruh staf yang mengelola BPIPI yang merupakan satuan kerja di bawah Direktorat Jendral Industri Kecil Menengah dan Aneka (IKMA), Kementerian Perindustrian dan fokus pada pembinaan pengembangan alas kaki di Indonesia, tidak akan tinggal diam.

‘’Kami tidak akan biarkan industri ini terhenti hanya karena tidak ada yang meneruskan sebab salah satu tugas pokok kami di BPIPI adalah meningkatkan SDM industri alas kaki, peningkatan pengetahuan dan teknologi produk alas kaki serta standardisasi produk alas kaki,’’ jelasnya.

Berbagai kegiatan diselenggarakan BPIPI untuk mendorong keinginan anak-anak muda agar berkenan melanjutkan usaha orang tuanya dan masih memiliki niat untuk tampil dan maju sebagai generasi penerus.

Kegiatan yang dilakukan BPIPI antara lain menyelenggarakan kompetisi-kompetisi. Apakah itu lomba desain sepatu, lomba fotography, mengadakan percakapan tentang industri sepatu kepada anak-anak muda dan juga pendekatan kepada kampus-kampus perguruan tinggi sekitar Jawa Timur agar kiranya di kampus-kampus juga dimasukkan kurikulum mengenai persepatuan.

Maksud tujuannya kata Edi adalah, jika mereka sudah lulus dari perguruan tinggi, mereka sudah memiliki modal pengetahuan tentang industri sepatu dan kecintaan terhadap industri sepatu itu sendiri juga sudah secara terus menerus tertanam.

Eko Patrianto, berpose di salah satu sudut bengkel pembuat sepatu miliknya -tubasmedia.com/sabar hutasoit

 

Tolak Order

Tentang sulitnya tenaga untuk industri sepatu saat ini juga dikeluhkan oleh Eko Patrianto, seorang pengrajin sepatu yang juga memiliki toko alas kaki di sentra industri alas kaki di Magetan.

Menurut Eko, pasca melandainya kasus corona, saat ini order sepatu sudah mulai membanjir, perdagangan sepatu sudah menggeliat. Namun tidak bisa dilayani karena tidak ada tenaga yang mengerjakan sehingga tidak jarang order sepatu dari berbagai wilayah mereka tolak karena tidak ada tenaga yang mengerjakan.

Padahal katanya, sejak Juni lalu, perdagangan sepatu dengan bahan baku kulit sudah menggeliat dan trend-nya naik pesat sekitar 65 persen dibanding kondisi selama pandemi.

‘’Tapi lagi-lagi kami tidak bisa layani permintaan itu karena kami tidak bisa memenuhi permintaan pasar disebabkan tidak adanya tenaga kerja pembuat sepatu,’’ jelas Eko menambahkan alih generasi di industri persepatuan saat ini sudah menjadi masalah besar.

Eko mengharapkan masalah ini bisa segera diatasi agar sektor yang merupakan penopang perekonomian nasional, dapat berlanjut dan terus berjaya. Ditanya apa strateginya memecahkan masalah tersebut, dijawab, selain upaya yang sedang ditempuh BPIPI, sebaiknya para orang tua sejak dini mendidik anak-anaknya agar tetap mencintai industri sepatu dan dari sana nantinya akan muncul wirausaha-wirausaha baru yang pada akhirnya industri persepatuan di Magetan dan Sidoardjo bisa tetap eksis. (sabar)

 

 

 

 

 

 

 

 

Berita Terkait