Goodbye Defisit

Oleh: Fauzi Azis

Ilustrasi

Ilustrasi

DEFISIT transaksi berjalan Indonesia berlanjut. Setelah defisit US$ 1,577miliar pada triwulan IV-2011, transaksi berjalan pada triwulan I-2012 defisitnya mencapai US$ 2,894 miliar. Neraca pembayaran Indonesia defisit US$ 1,034 miliar, sedikit menguat dibanding triwulan IV-2011 yang defisit US$ 3,726 miliar (Kompas 12 Mei 2012).

Defisit neraca pembayaran tersebut berdasarkan sumber yang sama berada pada kisaran 0,2 – 0,3 persen dari total PDB dan patut diwaspadai bila kisarannya telah mencapai 2 – 3 persen dari total PDB. Meskipun kondisi tersebut terjadi pada angka-angka triwulanan dan ratio defisitnya masih dikatakan aman terhadap total PDB nasional, sekecil apapun pergerakannya harus terus diwaspadai.

Early warning nasional harus menyala terang benderang di sepanjang waktu dan tanda lampu kuning tersebut harus menjadi perhatian kita semua, pemerintah, dunia usaha, masyarakat dan para politisi. Tsunami datang biasanya didahului gempa-gempa kecil yang kemudian bisa berpotensi menjadi Tsumani.

Defisit pada suatu waktu bisa berpotensi menjadi tsunami ekonomi bagi sebuah negara. Apapun perkembangannya, mata dan telinga kita tidak boleh tertutup. Nalarnya harus cerdas, tidak digunakan untuk berfikir manipulatif apalagi koruptif melihat perkembangan yang terjadi.

Kondisi defisit dalam perekonomian adalah sebuah pertanda (sinyal) bahwa ada sistem yang salah dalam menjalankan roda perekonomian. Yang paling netral tentu di republik ini ada persoalan efisiensi dan produktifitas dalam sistem perekonomian nasional. Tentu ada hal-hal lain yang menjadi penyebabnya di luar disiplin ekonomi.

Proses terjadinya defisit dalam perekonomian bisa diindikasikan bahwa sistem perekonomian belum terlalu kuat dan belum berdaya saing. Karenanya, kondisi ini sangat rentan dan ini sebuah pelajaran yang sangat berharga untuk kita petik.

Indonesia masuk negara emerging market, mendapat penilaian invesment grade, diproyeksikan bisa masuk kelompok BRIC dan julukan lain yang disandang. Terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan penilaian itu.

Yang pasti semuanya tidak gratis. Semua butuh investasi yang tidak kecil dan cost of fundnya harus murah dan arahnya agar negeri ini menjadi sebuah kekuatan ekonomi yang menghasilkan surplus ekonomi, bukan sebaliknya defisit.

Dalam sebuah pertandingan, kita mengenal ada pemenang dan ada pecundang. Dalam dunia bisnis, kita mengenal untung dan rugi. Pecundang dan kerugian adalah kondisi defisit, sebaliknya kalau untung dan selalu menjadi pemenang, maka yang dihasilkan adalah nilai surplus.

Entitas negara dan bisnis yang selalu berhasil menghasilkan surplus, maka nilai asetnya pasti berkualitas dan senantiasa akan selalu diperhitungkan para mitranya di ranah apapun.

Lah kalau defisit yang dihasilkan bukankah dia itu adalah sosok pecundang yang kalau terus-menerus terjadi, bukankah ini sebuah pertanda proses menuju kebangkrutan sedang berjalan? Tentu sebagai warga bangsa kita wajib tidak rela situasi kebangkrutan yang akan kita hadapi.

Bangsa yang bermartabat dan berperadaban seyogyanya jangan pernah menjadi bangsa yang merugi atau ekonominya selalu defisit, tapi harus menjadi bangsa yang selalu menghasilkan surplus ekonominya.

Momentum proses terjadinya kondisi defisit dalam perekonomian, harus dicegah dan tidak cukup hanya dicegah. Tetapi semua pihak harus bisa mengubahnya menjadi sebuah kekuatan ekonomi yang selalu menghasilkan surplus.

Suka tidak suka, secara politis perlu dilakukan rekonsiliasi. Secara ekonomi harus dilakukan langkah deregulasi dan re-regulasi agar perekonomian menjadi lebih sehat, kuat, berkembang dan berdaya saing.

Sumber daya ekonomi bangsa harus dalam posisi on, terkonsolidasi dan siap tanding serta tetap waspada dengan setiap perubahan yang terjadi di lingkungan nasional, regional dan global. Ekonomi yg sehat dan kuat adalah bukan hanya sekedar tumbuh dan bertumbuh tinggi, tetapi jauh lebih penting dari itu, yaitu tumbuh secara sehat, kuat, berkualitas dan menghasilkan surplus, bukan defisit.

Sebagai ajakan, mari kita siapkan strategi bangsa agar menjadi pemenang bukan pecundang. Kita siapkan bangsa ini menjadi yang tidak mudah berhutang, tapi berpiutang. Kita bangun negeri ini dengan kekuatan mandiri agar kita bisa menjadi bangsa yang selalu mampu melakukan akuisisi, bukan menjadi bangsa yang selalu diakuisisi. Semuanya itu diperlukan agar ekonomi kita selalu mendatangkan surplus dan mari kita serentak mengucapkan “goodbye defisit”.***

Berita Terkait

Komentar

Komentar