Green-Space-Peace

Oleh: Fauzi Aziz

Fauzi Aziz

Fauzi Aziz

KONSEP pembangunan berkelanjutan pada dasarnya mengedepankan konsep hidup yang berorientasi kepada upaya membangun keselerasan, keserasian dan keseimbangan dalam kehidupan manusia di dunia.

Konsep ini adalah perintah ajaran agama (apa pun agamanya) dan bukan karya intelektual para ahli lingkungan. Manusia intelektual menjadi melek dan sadar bahwa kemajuan peradaban dan kemajuan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi ternyata tidak serta merta selalu melahirkan titik-titik keselarasan, keserasian dan keseimbangan antara kehidupan manusia dan lingkungannya.

Ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang lingkungan berkembang pesat dewasa ini sebenarnya terjadi sebagai kilas balik kesadaran manusia atas ajaran agama yang dianutnya sebagai sumber inspirasi lahirnya konsep pembangunan berkelanjutan.

Dunia dibuat menjadi sibuk karena kerusakan lingkungan. Berbagai forum internasional banyak membicarakan isu tentang manusia dan lingkungan hidup. Berbagai sistem dan mekanisme kerja dibangun, begitu pula kebijakan dan progam dikembangkan agar konsep pembangunan yang berkelanjutan betul-betul dapat terwujud.

Tidak usah heran kalau dewasa ini kita semua diperkenalkan tentang konsep ekonomi hijau (green economy), industry hijau (green industry), green product, green city dan lain-lain. Siapa tahu kalau sebentar lagi para ahli sosiologi pembangunan memunculkan konsep masyarakat hijau (green comunity) agar manusia bisa hidup lestari dalam suka dan duka.

Juga hidup lestari dalam hubungan antarmanusia sedunia tanpa memandang perbedaan ras dan kasta untuk mewujudkan perdamaian dan kedamaian abadi. Green-Space-and Peace (G-S-P) adalah sebuah pendekatan sosiologis dan lingkungan. Bisa juga kita sebut sebagai upaya mewujudkan konsep green comunity dalam kehidupan bermasyarakat. Lee Kuan Yew sangat berhasil mengembangkan Singapura menjadi sebuah negara kota dengan konsep G-S-P. Peace dalam konteks Singapura, masyarakatnya hidup sejahtera dan ketentramannya secara relatif lebih baik jika dibanding dengan negeri kita misalnya.

Pendekatan Totalitas

G-S-P dalam contoh Singapura adalah pilihan dan sekaligus kebutuhan. Pendekatannya sangat totalitas dan dilaksanakan dengan sungguh-sungguh secara konsisten dan didukung oleh kepemimpinan yang kuat. Berhasil memberikan motivasi yang kuat kepada masyarakatnya, bahwa pilihan dan kebutuhan pembangunan masyarakat Singapura at all adalah tepat mengunakan pendekatan G-S-P.

Keberhasilannya pasti akan berdampak positif bagi perekonomian dan lingkungan. Jika demikian, maka mentransformasi pendekatan pembangunan di negeri ini ke depan harus berbasis kepada pendekatan G-S-P jika bangsa ini bercita-cita mengembangkan kehidupan masyarakatnya yang selaras, serasi dan seimbang.

G-S-P harus menjadi way of life, menjadi pandangan hidup dan sekaligus jalan hidup. Jokowi – Ahok, Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta nampaknya sedang berusaha benahi Jakarta dengan pendekatan semacam itu. Kita dukung cita-citanya agar wajah Jakarta bisa secara total berubah dari yang kumuh menjadi bersih dan lestari. Semoga berhasil asal semua pihak secara aktif bahu membahu membenahi Jakarta.

Di perfacture Oita Jepang ada sebuah desa bernama Yu Fuin yang desanya dibangun dengan pendekatan G-S-P. Penduduknya hanya sekitar 10 ribu jiwa tetapi tiap tahun desa ini dikunjungi sekitar 4 juta turis. Keberhasilannya dibangun selama kurang lebih 40 tahun yang digerakkan oleh tetua adat di desa tersebut.

Opini ini hanya bisa berharap, desentralisasi dan otonomi daerah yang telah berjalan satu dasawarsa lebih, agar kota dan desanya dibangun dengan pendekatan G-S-P. Libatkan seluruh komponen masyarakatnya. Lihat Singapura dan lihat Bali sebagai acuannya. Lihat Yufuin di Oita Jepang dan tempat lain di dunia.

Mari sama-sama kita mulai sebelum kiamat datang dan bumi hancur berkeping-keping karena pemanasan global (global warming) dan perubahan iklim (climate change) yang telah membawa bencana alam dan bencana kemanusiaan di berbagai belahan dunia. Semua penyebabnya karena ulah manusia itu sendiri.

Kehidupan yang sangat eksploitatif dan eksploratif demi kapitalisasi keuntungan material telah mengundang bencana alam dan bencana kemanusiaan. Oleh sebab itu, sangat tepat kalau kita back to nature, kembali ke jalan yang benar dan kembalilah ke fitroh sebagai manusia sebagai kekasih Allah di bumi.

Kewajiban kita adalah untuk saling memuliakan bukan untuk saling menghancurkan, termasuk memuliakan makhluk hidup lainnya, baik berupa tumbuhan maupun binatang. Mulailah dari sekarang membangun dengan menerapkan konsep G-S-P selagi matahari masih terbit di ufuk timur dan tenggelam di ufuk barat. ***

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.