Gurita dengan Tinta Hitamnya

Oleh: Fauzi Aziz

GURITA adalah salah satu binatang laut yang tangguh. Tinta hitamnya akan dikeluarkan ketika dirinya terancam. Nalurinya melilit untuk menaklukkan musuh-musuhnya sampai tidak berdaya. Dalam posisi melilit, ia akan tampil sebagai pemenang. Gurita semacam itu pasti gurita raksasa.

Gurita dalam konsep ekonomi biasanya muncul sebagai kekuatan yang dimiliki oleh negara-negara maju yang kapitalis, seperti Amerika Serikat, Uni Eropa, Jepang, Korsel dan kini muncul kekuatan Tiongkok dan India.

Mereka adalah operator sekaligus penentu perkembangan ekonomi dan bisnis global maupun di kawasan. Kekuatan yang sama juga dimiliki perusahaan-perusahaan raksasa di dunia yang kapitalisasi pasarnya mencapai ratusan bahkan ribuan miliar dolar AS setiap tahun.

“Tinta hitamnya” adalah modal, teknologi dan jaringan pasar serta memiliki kedekatan dengan penguasa untuk melindungi kepentingan bisnisnya. Gurita ekonomi dalam konteks keadidayaan sebuah negara selalu berusaha melakukan penjelajahan, inovasi sampai kolonisasi, bahkan invasi ekonomi ke negara-negara berkembang yang bisa diajak bergabung dalam satu konsep integrasi ekonomi.

Naluri ekonomi dan bisnis mereka, membangun gurita raksasa. Itulah mengapa AS ingin tetap bertahan sebagai adidaya ekonomi dan mengendalikan perputaran uang dan modal di pasar finansial dan pasar modal di kawasan maupun global.

Gurita ekonomi AS ingin kokoh di Asia Pasifik. Tetapi pada saat yang sama, Tiongkok lawan bebuyutannya dewasa ini juga mau menjadi pemimpin Asia bahkan juga di wilayah pasifik sehingga Australia dan Selandia Baru masuk dalam jaringan global economy supply chain Tiongkok yang akan langsung dikontrol dari Beijing.

Kalau ekonomi di UE cenderung bersifat eksklusif untuk mengamankan pasar 27 negara anggotanya. UE tidak cenderung ekspansif seperti AS dan Tiongkok.
Kita lihat AS. Meskipun ia tetap ingin menjadi adidaya dan kekuatan hegemoni di dunia, secara umum, ekonomi AS mengalami kemerosotan karena overstrech atau dalam bahasa kita disebut besar pasak daripada tiang.

Akibat situasi ini Donald Trump ingin menata kembali ekonomi AS seperti manufaktur AS yangt kehilangan daya saing sehingga mengalami kemunduran. Tiongkok dengan kekuatannya sebagai gurita baru ekonomi global menjadi pemasok, kreditor, sekaligus investor dan bankers untuk konsumen AS dan pemerintah AS yang mengalami defisit neraca perdagangan, neraca pembayaran dan APBN-nya.

Secara berkelanjutan, Rasio utang AS mencapai sekitar 100 persen dari GDB-nya berarti tata kelola ekonominya melanggar azas kepatutan. Situasi ini yang membuat Trump marah dan emosional sehingga “mengancam” akan memboikot produk-produk Tiongkok dengan menaikkan tarif impor.

Kita tunggu kapan Donald Trump bertemu dengan Xi Jinping, Presiden Tiongkok. Global situation space selalu ada tempat untuk saling bertemu membahas perkembangan ekonomi global dan di berbagai kawasan, guna mendiskusikan dan mencari jalan terbaik demi kedamaian dan kemakmuran warga dunia.

Tiongkok besar dan digdaya, tetapi juga memerlukan AS. Begitu juga sebaliknya. Buktinya ketika ekonomi negeri Paman Sam ini mengalami pelambatan, pertumbuhan ekonomi Tiongkok langsung merosot. Skor antara dua adidaya ekonomi di dunia tersebut masih berimbang meskipun beban AS lebih berat akibat daya saing sektor manufaktur anjlok.

Kita lihat satu perspektif yang dituliskan dengan baik oleh Martin Jacques dalam bukunya berjudul “When China Rules The World” mengenai dua gurita ekonomi raksasa tersebut. Pertama, pada tahun 1990-an, di AS globalisasi dipandang sebagai situasi yang sama-sama menguntungkan.

Sebuah proses yang digunakan AS meninggalkan jejak dan mendapatkan keuntungan dalam hubungannya dengan negara-negara lain di dunia. Jelaslah, inilah sesuatu diekspor AS ke seluruh dunia dan menangguk keuntungan dari dalam negeri.

Sekarang bagaimanapun juga, globalisasi semakin sering dipandang sebagai bumerang yang berbalik mengancam AS. Dahulu, AS dianggap sebagai agen utama dan pihak yang paling diuntungkan globalisasi. Sekarang yang dianggap paling diuntungkan adalah Asia Timur, khususnya Tiongkok.

Kedua, jika hubungan antara dua raksasa ekonomi tersebut terus memburuk, Martin Jacques menyampaikan bahwa setiap upaya mengesampingkan Tiongkok dari sistem ekonomi internasional saat ini sama sekali bukan opsi masuk akal.

Tiongkok sudah sedemikian menyatu dalam sistem produksi global hingga hampir mustahil membalik proses tersebut. Sektor manufaktur Tiongkok sudah menjadi unsur fundamental dalam sebuah pembagian kerja global kompleks yang dijalankan perusahaan-perusahaan multinasional besar Barat dan Jepang.

Fakta bahwa nilai tambah Tiongkok (30% atau lebih kecil dari itu) hanyalah sebagian kecil dari total nilai tambah karena relatif rendahnya upah buruh di Tiongkok yang mengakibatkan setiap upaya mengenakan sanksi terhadap ekspor Tiongkok, akan menimbulkan ancaman ekonomi jauh lebih besar bagi banyak negara yang terlibat dalam proses produksi tersebut, terutama negara-negara Asia Timur, seperti Indonesia dan Tiongkoki.

Kita tentu khawatir jika dua gurita ekonomi global yang sama-sama mempunyai tinta hitam sebagai senjata pamungkas berseteru terus menerus. Kita sedih mengapa Trump menyikapinya secara assertive.

Kalau secara ekstrim terus berantam, bisa “barji, barbeh” (bubar siji bubar kabeh) alias runtuh bareng. Lakon semacam ini, pasti siapa-pun tidak menghendaki terjadi karena ancamannya adalah krisis ekonomi akan berulang lagi, bahkan tak mustahil terjadi depresi seperti tahun 1929.

Oleh sebab itu, percayalah bahwa masalah akan selalu ada dan mencari penyelesaian masalah untuk mencari jalan terbaik untuk pemulihan ekonomi global dan kawasan adalah yang paling bijaksana. Dunia kini bukan hanya menghadapi masalah ekonomi konvensional seperti soal supply dan demand, tapi sudah sangat fondamental, yaitu kesenjangan global.

Dan kita tahu bahwa kesenjangan adalah menjadi sumber terjadinya konflik sosial dimana-mana yang berpotensi menyulut peperangan. Percalah Tiongkok dan Amerika Serikat tidak melaksanakan perang dagang karena hanya akan merugikan dua pihak dan dunia.

Untuk negeriku Indonesia berhentilah merajuk dan saling berolok-olok karena hal yang seperti itu sangat kontra produktif dengan upaya kita membangun kekuatan ekonomi Indonesia agar lebih berdaya saing di kawasan regional dan global. Kita pasti tidak ingin hanya sekedar menjadi follower,tapi harus bisa menjadi champion. (penulis adalah pemerhati masalah sosial ekonomi dan industri).

Berita Terkait

Komentar

Komentar