Hadapi Pasar Tunggal, Industri Otomotif Tingkatkan Daya Saing

101114-oto1

JAKARTA, (tubasmedia.com) – Untuk menghadapi pasar tunggal ASEAN industri kendaraan bermotor Indonesia perlu meningkatkan daya saing. Namun, peningkatan daya saing masih terhambat oleh beberapa kendala.

Hal itu dikemukakan Sekretaris Umum Gabungan Kendaraan bermotor Indonesia (Gaikindo), Noegardjito, menjawab pertanyaan tubasmedia.com di Jakarta, pekan lalu, berkaitan dengan makin dekatnya pembentukan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), yang ditandai dengan berlakunya pasar tunggal ASEAN, pada akhir Desember 2015.

Dikemukakan, industri otomotif masih menghadapi beberapa kendala. Di antaranya, bahan baku logam spesifikasi khusus, masih diimpor, Misalnya, automotive steel dan beberapa komponen elektronik, belum diproduksi di Indonesia. Infrastruktur, seperti jalan, pelabuhan, dan listrik, perlu segera ditingkatkan. Diperlukan pula kebijakan insentif yang lebih menarik. Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar juga menjadi kendala.

Menurut Noegardjito, menejelang MEA, Indonesia hendaknya menjadi “hub” di ASEAN. Untuk itu, diperlukan kebijakan yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia di atas 5 persen. Politik harus dijaga agar tetap stabil.

Pasar domestik kendaraan bermotor hendaknya berkembang cukup besar, sehingga dapat dipakai sebagai based load untuk investasi.

“Investasi di sektor industri akan masuk ke negara yang pasar domestiknya besar,” ujarnya.

Ia mengatakan, kebijakan insentif harus menarik dan wajar untuk meningkatkan investasi, meningkatkan daya saing, meningkatkan ekspor, dan memperluas pasar domestik.

“Untuk jenis kendaraan yang dijadikan prioritas diberikan fasilitas pajak. Misalnya, kendaraan hemat energi dan ramah lingkungan, yang merupakan trend dunia, sehingga kita bisa meningkatkan ekspor,” katanya.

Sebelumnya, Sekum Gaikindo mengatakan, pada tingkat perusahaan, industri kendaraan bermotor roda empat telah siap menghadapi MEA. Sejak 1 Januari 2010, kendaraan bermotor yang diimpor dalam keadaan jadi (CBU) dari negara anggota ASEAN lainnya masuk ke Indonesia tanpa dikenai bea masuk. Praktis, sejak itu, pasar tunggal ASEAN sudah terjadi. (ender)

Berita Terkait