Halo…Pak Menteri Perindustrian, Apa Kabar?

122121_tlpluar

Oleh: Fauzi Aziz

HALO apa kabar pak Menteri Perindustrian. Selamat menjalankan ibadah shaum ramadhan 1437-H, semoga pak menteri selalu sehat dan diberkahi Allah. Pemerintah sudah mengambil posisi bahwa industrialisasi dan hilirisasi sebagai mesin pertumbuhan ekonomi.

Keputusan ini tepat dan portofolio pemerintah berdasarkan pasal 5 UU nomor 3 tahun 2014 tentang perindustrian secara mandatory oleh presiden telah didelegasikan kepada Menteri Perindustrian sebagai nakhodanya dalam hal pengaturan, pembinaan dan pengembangan sektor manufaktur termasuk jasa industri.

Sasaran dan target pertumbuhan industri sudah ditetapkan. Jika mengacu pada RIPIN, pada akhir 2019 memasuki tahun 2020, pertumbuhan industri manufaktur diproyeksikan mencapai 8,5%. Berar ti sepanjang periode kabinet sekarang (2014-2019)  rata-rata harus bisa tumbuh antara 7-8% per tahun, agar kontribusinya terhadap PDB bisa mencapai antara 21-24%.

Pada dokumen yang sama, nilai investasi sektor industri tahun 2015 dipatok pada angka 270 triliun rupiah, yang tahun 2020 diperkirakan mencapai 618 triliun rupiah. Kita tidak mempertanyakan bagaimana angka-angka tersebut muncul dan bagaimana model perhitungannya.

Yang pasti, industrialisasi dan hilirisasi memerlukan investasi. Penambahan produksi sudah pasti hanya bisa dilakukan jika ada tambahan investasi, baik investasi baru maupun perluasan, baik berasal dari PMA maupun PMDN. Investasi tidak bisa ditunggu seperti turun dari langit atau seperti menunggu durian jatuh.

Tiga setengah tahun ke depan adalah tahun rencana aksi investasi. Tidak tepat lagi disebut sebagai tahun penantian karena pemerintah sedang mengejar kinerja  positif sektor andalan dan unggulan, yakni tumbuhnya sektor manufaktur.

Peran menperin sebagai nakhoda sangat strategis dan menentukan. Presiden Jokowi di setiap kunjungan ke luar, sudah menempatkan posisinya sebagai CE0 di bidang investasi dan perdagang. Jokowi aktif memasarkan dan mempromosikan prospek ekonomi Indonesia kepada mitranya di berbagai negara.

Presiden AS, Barack Obama-pun melakukan hal yang sama menawarkan kepada investor global untuk mengembangkan investasi dan bisnis di AS di banyak sektor. Bahkan sampai mengklaim kondisi iklim investasi di AS saat ini paling atraktif di dunia.

Kita harapkan Menteri Perindustrian dapat segera mengambil peran aktif memasarkan 10 sektor indus tri prioritas. Antara lain, industri pangan, farmasi, kosmetik dan alat kesehatan,TPT, alas kaki dan aneka, alat transportasi, elektronika dan telematika, pembangkit energy, barang modal, komponen, bahan penolong dan jasa industry, hulu agro, logam dasar dan bahan galian bukan logam serta kimia dasar berbasis migas dan batubara.

Memasarkan 10 sektor prioritas tidak bisa hanya dilakukan dengan pidato. Menteri Perindustrian tidak perlu ragu jika mengambil posisi seperti layaknya seorang manajer investasi atau sebagai seorang Dirut Bursa Investasi sektor manufaktur di negeri ini.

Prospektus investasi di 10 sektor prioritas disiapkan secara professional dan dalam posisi ready for sales. Langkah jemput bola menghubungi calon investor potensial adalah kerja blusukan yang harus dilakukan bersama dengan Kepala BKPM dan BKPM-D di daerah.

Melakukan Business Gathering dengan lembaga keuangan bank dan non bank yang dihadiri calon investor potensial dan para start-up company yang memerlukan dana investasi. Menteri Perindustrian harus mendorong ekisting industri untuk IPO di BEJ untuk bisa menarik dana masyarakat termasuk memanfaatkan dana SUKUK dan perbankan syariah.

Jika pada saatnya Indonesia mempunyai kawasan tax heaven, Menteri Perindustrian sebagai “manajer investasi” sudah harus menyiapkan prospektus investasi sektor manufaktur tertentu yang pendanaan investasi diharapkan bersumber dari dana yang masuk melalui wilayah tax heaven.

Kapan lagi kalau tidak dilakukan dari sekarang. Mengge lar “Bursa Investasi di Sektor Manufaktur” di dalam negeri dan di luar negeri jauh lebih baik daripada sekedar mengadakan pameran di loby Kemenperin meskipun itu perlu dilakukan.

Tapi karena yang kita sasar adalah menarik investasi, maka event Bursa Investasi jauh lebih penting dan lebih tepat jika ini digelar bersama dengan BKPM dan BKPM-D di daerah. Dana APBN lebih dari memungkinkan jika sebagian dipakai untuk menyelenggarakan Bursa Investasi di sektor manufaktur dan start-up com pany.

Maaf pak Menperin tidak berniat menggurui, tapi rasanya langkah tersebut penting dilakukan dan presiden pasti akan merestui upaya tersebut karena industrialisasi dan hilirisasi menjadi mesin penggerak pertumbuhan ekonomi. (penulis adalah pemerhati masalah sosial ekonomi dan industri).

Berita Terkait

Komentar

Komentar