Hannover Messe 2021, Daya Tarik bagi Industri Agro Menjadi “Early Adopters”

JAKARTA, (tubasmedia.com) –  Kementerian Perindustrian meminta industri agrobisnis dalam negeri gencar mengimplementasikan digitalisasi guna mengembangkan kinerja produksi yang lebih efisien dan bernilai tambah. Apalagi kali ini industri dalam negeri memiliki peluang dalam ajang Hannover Messe 2021 karena Indonesia menjadi Official Partner Country.

Partisipasi Indonesia sebagai Official Partner Country akan membuka peluang untuk mendorong transformasi dan pemulihan ekonomi Indonesia melalui kesepakatan bisnis, kerjasama industri, dan investasi.

Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin Abdul Rochim mengatakan momentum pelaksanaan Hannover Messe ini diharapkan dapat menjadi daya tarik bagi industri agro menjadi early adopters yaitu pelaku industri yang sensitif terhadap perkembangan trend teknologi. Industri agro juga diharapkan berpikiran terbuka terhadap penggunaan teknologi baru.

“Selain itu, industri diharapkan dapat turut serta aktif menggunakan teknologi digital dalam menunjang kegiatan produksi,” katanya dalam webinar Agro-based Industry, Selasa (6/4/2021).

Adapun Rochim menyebut dalam Hannover Messe 2021 nantinya industri agro turut berpartisipasi dengan menghadirkan PT Pertamina dan BPBD-Kelapa Sawit untuk mempromosikan konsep energy solutions berbahan baku energi ramah lingkungan dari biodiesel sawit, serta menghadirkan PT Indolakto, PT Laukita Bersama Indonesia, dan PT Kalbe Morinaga Indonesia sebagai co-exhibitor industri makanan dan minuman.

PT Indolakto sendiri terpilih sebagai salah satu INDI 4.0 National Lighthouse. Rochim sebelumnya juga mengemukakan pengembangan industri agro di Indonesia didukung oleh potensi sumber daya alam yang berlimpah dan permintaan domestik yang terus meningkat. “Walaupun terdampak pandemi Covid-19, PDB industri makanan dan minuman masih mampu tumbuh sebesar 1,58 persen pada 2020 atau di atas pertumbuhan PDB industri pengolahan nonmigas yang terkontraksi 2,52 persen dan PDB nasional yang juga terkontraksi 2,07 persen,” ujarnya.

Meski demikian, pada periode yang sama, industri makanan dan minuman berkontribusi sebesar 39,01 persen terhadap PDB industri pengolahan non-migas, sehingga menjadikannya sebagai subsektor dengan kontribusi PDB terbesar. Sepanjang 2020, ekspor industri makanan dan minuman menembus US$31,1 miliar, sehingga berkontribusi 23,7 persen terhadap ekspor industri pengolahan non-migas. Di sisi lain, industri makanan dan minuman mampu menarik investasi sebesar US$29,4 miliar pada 2020, dan secara keseluruhan menyerap tenaga kerja sebanyak 1,1 juta orang. (sabar)

 

Berita Terkait

Komentar

Komentar