Hanya Satu Pilihan, Menjadi Pembelajar

Oleh: Fauzi Aziz

INDONESIA sudah menjadi salah satu negara emerging economy yang tahun 2050diproyeksikan menjadi negara dengan kekuatan ekonomi nomor 6/7 di dunia. Kita boleh percaya dan tidak dengan perkiraan itu.

Jika kita mempercayainya, satu langkah yang tepat kita lakukan adalah merestrukturisasi tata pikir dan tata tindak baru yang lebih sesuai dengan kebutuhan untuk menjadi emerging economy yang berkemajuan dan berperadaban.

Ketika dunia sudah berkembang seperti sekarang, dengan berbagai fenomena yang muncul di bidang politik, ekonomi dan budaya, banyak tantangan baru harus dijawab dan beragam masalah nasional, regional dan global harus diselesaikan.

Kekinian yang sudah muncul adalah soal globalisasi itu sendiri. Apakah globalisasi itu sekedar mitos atau benar-benar keniscayaan akibat perkembangan luar biasa di bidang teknologi informasi ? Sebagian besar tokoh dunia cenderung berpandangan globalisasi adalah keniscayaan.

Kalaupun ada permasalahan yang muncul bukan disebabkan oleh globalisasinya yang salah. Tapi lebih disebabkan karena tata kelolanya yang cenderung keliru atau tidak proper.

Oleh sebab itu, pemahaman atas lingkungan strategis baik pada skala nasional, regional dan global sangat diperlukan agar kita tidak terperangkap kedalam cara pandang yang sempit dalam memahami fenomena globalisasi yang perkembangannya sudah sedemikian rupa.

Akibat dari fenomena globalisasi yang tantangan dan permasalahannya muncul silih berganti dalam berbagai intensitas yang berbeda-beda, tentu memerlukan penyikapan yang tepat, baik di tataran strategis maupun taktis dan di tingkat operasional.

Donald Cyr mengatakan, cara berfikir global adalah menggambarkan cara-cara meningkatkan peluang kesuksesan perusahaan atau kehidupan pribadi dengan memahami kebudayaan Barat atau Timur. Berfikir global memberikan perspektif yang kita butuhkan untuk beroperasi dalam lingkungan global mengatasi perubahan dan merespon tuntunan modernisasi yang meningkat.

Inilah selintas wejangan yang kita dapatkan. Apapun bentuk permodelannya, kita dituntun agar bisa membangun sikap, sekaligus kepribadian yang makin matang dan berwawasan luas.

Jika kita sepakat dengan pemahaman konsep pembelajaran dengan konstruksi semacam itu, yang diperlukan tentu merestruksi dan merekonstruksi tata pikir baru agar kita mampu optimal menjawab tantangan dan permasalahan.

Meningkatkan peluang meraih keberhasilan institusi atau perorangan sangat ditentukan oleh hadirnya sosok organisasi dan pribadi pembelajar agar selalu bisa beradaptasi dan merespon setiap perkembangan yang terjadi.

Kita sangat memerlukan satu perpaduan yang harmonis antara narasi logika, intuisi, penyikapan individu maupun kolektif yang terintegrasi dalam satu institusi. Langkah ini relevan untuk menjawab tantangan global dengan menciptakan individu dan organisasi sebagai budaya kerja baru yang tanggap sasmito.

Kita makin banyak memerlukan strategic thankers,tactical thinkers dan operational thinkers yang selalu bekerja dalam satu struktur yang harmonis dan mampu menjalankan misi organisasi secara maksimal.
Kita harus berada dalam jejaring manajemen dengan mengerahkan SDM, teknologi dan inovasi untuk bisa menciptakan satu produk kebijakan yang berkualitas.

Kita bisa melihat Tiongkok sedang berkembang menjadi masyarakat yang punya kepercayaan diri untuk semakin kompeten dibandingkan dengan kekuatan besar manapun di dunia.

Kekuatan pengubahnya adalah bahwa untuk menjadi pemimpin global harus mampu mengatasi salah satu kecenderungan alamiahnya yaitu untuk tetap tinggal dan terisolasi. Menjadi stuck in the middle karena kita tak mampu berenang dan akhirnya tenggelam.

Mahbuni mengatakan dunia kini telah mengecil, Semua penduduk dunia yang berjumlah 6,5 miliar sedang berlayar di kapal yang sama. Dikatakannya global government bukanlah jawaban. Namun global governance justru ini yang sangat mendesak dibutuhkan.

Kita memerlukan lembaga-lembaga dan peraturan-peraturan untuk mengelola dunia sebagai keseluruhan yang mengatur kebutuhan dan kepentingan 6,5 miliar penghuninya.

erkait dengan ini, pilihan kita hanya ada satu, yakni menjadi pembelajar yang ulet dan membangun budaya pikir global, sehingga kita mampu menjadikan Indonesia yang kompeten, institusi yang kompeten dan menjadi individu yang kompeten sebagai pemikir strategis dan taktis maupun menjadi operator yang profesional. (penulis adalah pemerhati masalah sosial ekonomi dan industri).

Berita Terkait

Komentar

Komentar